#ASEAN50 - 1st ASEAN University Network - Student Week 2017

My name is Abshar Aryun Abary, and i am representing The Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia for the First ASEAN University Network - Student Week 2017



It was a shock for me at first when i got the chance to represent my beloved faculty at this big event. I don't really have a thing arround ASEAN, let alone an international experience. I got to meet some international students beforehand, but never was a 'participant' to say.

Each student of 12 out of 14 undergraduate faculties of UI send out their delegates for this program. Joining us, were groups of youths coming from ASEAN countries : Myanmar, Brunei, Thailand, Vietnam, and Cambodia.  At first, i was so excited to be there. It was a first time experience for me - meeting another person that came from another place with each stories and backgrounds differs. The program were consisted of lectures around many issues, including waste and water management, poverty eradication, community rights protection, and a four more lectures brought by UI's best professors and doctors. We also got a time to do field trips, to a healthcare institution, national park, and a city park to observe Indonesian environment through three different scopes. Within our free time, we also spend the time to grab some dinner together – eating the local delicacies such as martabak, nasi padang, pecel lele, or sate taichan to get the kids around the trend.

As a UI student, we were divided into seven groups, being as a buddy and also a mentor to guide non-UI Students should they have any difficulties around the task or any questions about the program. Through this program, I have learned a lot - it's multidisciplinary approach are enriched with a lot of issues from health to engineering and social issues. It is also an eye opening to see how ASEAN are the new emerging forces of the world. as of today, 8th of August 2017, ASEAN are commemorating the #ASEAN50 - a golden age to ply that we are strong and healthy. A time to know that through cooperation and working together we are reaching prosperity. I believe, ASEAN should be, oh well, will be - the number one.


Back to the program, i miss them, a lot! It is not only the studying experience that i gain, it is a lifelong friendship that built by our short time together. Not only the UI students are always cheerful, i also got the chance to exchange experience and deep talks with our ASEAN youths. Many of them are smart - telling their stories about histories of their ancestors and countries. Many of them are also inspiring, they are warm and keen to smile. All of them are full of love, another reason why this program will always had a special place in my heart.

I will allways miss you guys!


The brunei babies, Amal, the vogue girl who had a lot of smile - Bruneians that gives out radiant vibes to be arround
Amirah, the girl who always have a calm and cool attitude to share.

The vietnamese groupies !
Gentle / Hien, the girl who dreamt of becoming a teacher - what a noble dream
Thinh, the petroleum engineer that said i am an interesting guy, you are also one to watch man!
An! The ferocius and pretty vietnamese girl who had a high soul in adventurous journey

Our Myanmar kids
Karen the anime girl, who had high imaginations arround life
And mr David Chan! The little brother that i always wished for. Thank you for the brief Myanmar history, for the times you always speaks English in a stutter way ... Hahaha, it is a good time to chat with an 18 year old college student that brought jokes as a daily needs

The Cambodian people
Long Somony, the first ever live monk that i got the chance to know and shared. Thank you for your lessons of life based on buddhism - you smiled and laughed a lot too ..
Wan who tries really hard to learn Indonesian and accomplished to sing Raisa’s Songs. You be good kid.
Seavppenh Hout, one amazing Cambodian that always are proud of becoming a Cambodian
Meylinh - the business student, speaks smart and learns fast, the bestie of Winona

Thailand scientist,
Bob and Pim, a two contradictive personalities with Pim as the more calm kid and Bob becoming... Bob. Hahahaha, lots of laugh shared guys!

Indonesian girls
Puspa, our future agriculturist
And Jessica, the instafamous girl from Surabaya! (If i come to SBY, you will meet me ya.. Hahaha)


OUR LOVELIEST LO!
Nahla the sweetest girl that speaks the G language, the type that always laughs on the smallest things
Christian the almost no joke bro – the guy with a good English, a recent grad who came from Batam, and an adequate beliver of something. I know that you will do good, Tian.
Diba, one wise and just graduated psych from Cits. Oh yeah, Cits.
Anissa, who left too early..
And Bagas - a guy that has many trades, the winner of the easiest to laughf first and the Korean aspiring entertainer
Thanks a lot guys! Especially Room 316, that has taken me as a refugee (re: numpang) for a week or more. With Bagas and Tian, sharing a lot of stories and laughs until near morning, watching movies from FOX, trying to silent Tian’s snoring, getting ready with a lot of jokes and got sleepy the next day for the programme. THANK YOU for the best time spent. Favehotel Depok has been a witness to the craziness of Room 316

And also!
The UI squad!
Raisya, Bram, Wildan, Indah, Syifa, Shady, Zia, Ericko, Saint, Nabila, and Winona. Without you guys this is a boring and nothing time. And as reckless as you are, i am grateful.
PS: BB, Smoke weed, IFC, PDT, Bocil, roti jepang, minyak, L.Inter, ustad/wortel/jakmania, jackie, paragita, dan segala macam karya seni yang kita buat akan selalu menjadi tanda hati atas kebersamaan kita.



________________________

Loved and foremost,

Abshar Aryun - Abary
The Representative of FISIP UI for the 1st AUN-SW 2017


#ASEAN50

Berkerudung : Sebuah Dilema Antara Pilihan dan Kebebasan


Abshar Aryun
Ilmu Komunikasi
1506756242
Essay disusun untuk
LIMAS FISIP UI 2016

Tema yang diangkat : Bayang-bayang orde baru pada masa Reformasi
  


Berkerudung adalah hal yang cukup lumrah di Indonesia. Terdapat beberapa sebutan untuk kain penutup kepala tersebut. Hijab, jilbab, khimar, dan kerudung merupakan salah empat dari penyebutannya.  Terdapat tiga definisi kerudung: [1]
1.      Kain panjang yang dipakai wanita untuk menutup kepala, bahu, dan kadang-kadang wajah
2.      Rajutan panjang yang ditempelkan pada topi atau tutup kepala wanita, yang dipakai untuk memperindah atau melindungi kepala dan wajah
3.      a. Bagian tutup kepala biarawati yang melingkari wajah terus ke bawah sampai menutupi bahu
b. Kehidupan atau sumpah biarawati
Sebagai sebuah simbol agama, banyak penggunanya berasal dari Indonesia, negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Perempuan menggunakannya atas beberapa faktor. Agama islam memang memiliki suruhan bagi wanita untuk menutup bagian tubuhnya. Semuanya tertulis jelas dalam kitab suci Al-Qur’an, surat An-Nur ayat 23. Secara sosial, perempuan Indonesia yang mudah menunjukkan bentuk tubuh mudah dianggap sebagai wanita tuna susila. Dari sisi kebudayaan, perempuan islam yang sudah dewasa dianggap memiliki keharusan untuk berkerudung.

Pada masa orde baru, terdapat larangan terhadap pemakaian kerudung[2]. Melalui SK 052/C/Kep/D.82 misalnya, sebuah kebijakan yang mengatur seragam sekolah nasional. Ketika diimplementasikan, terdapat larangan terhadap pemakaian kerudung di lingkungan sekolah. Hal ini terjadi secara halus, namun dirasakan oleh masyarakat. Tidak hanya di lingkungan pendidikan, masyarakat yang masuk ke dalam jajaran pegawai negeri sipil juga menghadapi peraturan yang tidak jauh berbeda. Perempuan harus menghadapi peraturan larangan berkerudung. Jajaran kepolisian dan militer juga menerapkan larangan penggunaan berkerudung bagi para anggotanya. Hal ini pun merasuk kedalam kehidupan masyarakat, sehingga banyak institusi menyarankan agar foto ijazah mereka tidak menggunakan kerudung, dimaksudkan untuk mempermudah perempuan dalam mendaftar sekolah atau mencari kerja.

Sekulerisme yang dilayangkan kepada perempuan berakar pada satu hal. Penggunaan atribut keagamaan dianggap sebagai perlawanan terhadap sistem. Sistem pemerintahan orde baru jelas memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Sedikit saja perlawanan datang dari bagian sistem, maka mekanisme akan rusak, mengakibatkan runtuhnya sistem. Sebagai seorang pemimpin, tentunya Soeharto menyadari akan hal ini. Beberapa hal yang dianggap sensitif, berbahaya dan bisa menyulut api semangat perubahan berusaha diredam. Salah satunya, adalah agama.

Melalui pelarangan berkerudung, masyarakat khususnya para perempuan ditekan secara halus untuk tidak mengelu-elukan agama mereka. Dengan strategi konformitas, sudut pandang masyarakat dibentuk sedemikian rupa sehingga mereka yang tidak berkerudung adalah mereka yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik, kegiatan yang lebih menyenangkan, serta satu imej yang telah lama diperdebatkan: kecantikan. Hak asasi pun dikesampingkan, karena kebebasan berperilaku seperti berkerudung dinilai bisa membahayakan propaganda yang sudah disusun selama ini.
Pada masa reformasi, larangan tersebut pun diangkat. Baik secara tertulis yaitu hukum yang berlaku dicabut, maupun secara sosial budaya, masyarakat mulai meneriakkan gaung toleransi dan merayakan perbedaan. Pada saat itu, para perempuan pun bisa bernafas lega. Karena mereka bisa menggunakan penghalang kepala mereka dengan bebas tanpa takut tidak mendapatkan kerja atau penghidupan yang lebih baik.

Namun ternyata, muncul kembali sebuah masalah baru dari kebebasan berpakaian bagi perempuan. Bayang-bayang orde baru pun kembali muncul, pemaksaan masyarakat berperilaku sebagaimana mestinya, demi keberlangsungan kehidupan bernegara yang baik dan damai. Pemilik kekuatan kembali menemukan sistem perlu diseragamkan dan diikuti oleh setiap lapisan masyarakat.

Beberapa bagian dari masyarakat harus menghadapi pemaksaan penggunaan kerudung[3]. Pada sekolah negeri di beberapa daerah di Indonesia, mereka menerapkan peraturan wajib berkerudung selama bersekolah. Hari jumat setidaknya adalah hari yang diwajibkan untuk menggunakan kerudung. Kerudung menjadi sebuah simbol. Simbol dari penahan para perempuan untuk bersikap baik dan benar. Agar terhindar dari masalah sosial seperti kehamilan dan penggunaan narkoba atau pergaulan bebas yang semakin popular di kehidupan remaja, kerudung diharapkan dapat digunakan untuk menangkis kebiasaan tersebut.

Dengan penggunaan kerudung, perempuan diharapkan dapat berpikir dua kali sebelum bertindak dan melakukan sesuatu. Karena menjadi simbol agama, sudah pasti ada beberapa nilai dan norma yang terikat kepada para pemakainya. Ada peran tambahan yang perlu dijalani bagi para pemakai kerudung. Salah satunya adalah penjagaan sikap kepada lawan jenis dan menjaga diri sendiri dari perbuatan yang didefinisikan menyimpang, alias tidak konform. Dengan kata lain, kerudung dijadikan sebagai sebuah alat untuk membatasi kebebasan berekspresi.

Di daerah yang sebelumnya berstatus istimewa, Provinsi Aceh, menerapkan kebijakan yang serupa. Siswi yang menjalani sekolah dasar hingga sekolah menengah atas harus menggunakan kerudung. Setiap harinya, kecuali beragama non muslim. Sebenarnya, hal ini berakar pada penghindaran objektifikasi seks pada perempuan, khususnya mereka yang masih berusia sekolah. Larangan berkerudung pada masa orde baru pun bergeser menjadi pemaksaan berkerudung bagi para perempuan.

Lambat laun, budaya tersebut merasuk kedalam kehidupan masyarakat. Jika berpergian tanpa jilbab, perempuan muda Aceh dianggap seorang pembangkang yang tidak mau ikut aturan, dengan kata lain melawan sistem. Jika mereka melawan sistem yang terpengaruh besar oleh patriarki di masyarakat, relevansi pada masa orde baru dengan masa reformasi pun terasa besar: jangan melawan sistem, mekanikanya bisa hancur. Ikuti sistem dan berikan sebagian hakmu sebagai masyarakat, agar sistem tetap bisa berjalan lancar.

Identitas dibangun melalui interaksi sosial dan komunikasi. Identitas dihasilkan oleh negosiasi melalui media yakni bahasa[4]. Identitas diri adalah hak dasar yang perlu digaungkan keberadaanya. Kebebasan berkarya dan berekspresi merupakan anugerah yang tidak ada harganya. Pemaksaan dalam bentuk berpakaian dan berperilaku merupakan salah satu bentuk ketidak bebasan berekspresi. Dengan pemikiran dan pengambilan kesimpulan yang baik, berkerudung sudah kodratnya menjadi pilihan masing-masing individu. Perempuan memiliki hak yang sama dalam memilih apa yang mereka inginkan dalam hidupnya.

Berkerudung atau tidak, mereka tidak pantas untuk mendapatkan diskriminasi. Dilarang memakai maupun dipaksa menggunakan, setiap perempuan memiliki pilihan untuk menentukan jalannya masing-masing. Indonesia sebagai negara dengan ribuan gugusan pulau dan bermacam latar belakang perlu menanamkan satu nilai penting bagi masyarakatnya. Toleransi dan kebebasan individu dalam berpakaian sudah menjadi urusan masing masing, karena sistem bukan runtuh karena mereka menolak berpakaian sebagaimana sistem menentukan. Namun runtuh karena kelemahan yang ditemukan oleh bagian dari sistem tersebut.

 runtuh karena kelemahan yang ditemukan oleh bagian dari sistem tersebut.






Referensi
El Guindi, Fadwa. Jilbab : Antara Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan. Jakarta : Serambi. 1999.
(Diakses pada 11 November 2016, pukul 14.31)
(Diakses pada 11 November 2016, pukul 21.04)
Ratri, Lintang. 2011. Cadar, Media, dan Identitas Perempuan Muslim. Jurnal. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Volume 39, No. 2.




#GladToHear 35K on UI Idea Festival Closing









































35 K on UIF Closing
Vocals : Abary
Guitar : Joshua
Bass : Naufal WI
Drums : Fahransyah
Sax : Guntur
Keys : Aliza

setlist
1. Maliq - Terlalu
2. Maroon 5 - Sunday Morning 
3. Raisa - Serba Salah
4. The Groove - Khayalan

Photo Credits :
UIF Documentation Team

Hear us : https://soundcloud.com/abary/35k-on-ui-idea-festival-closing

Special thanks to :
DM Music Studio
Mamet as our Sound Man
Febiant, Thomas as our best bros
Pacar padaan, enak lo ya pada punya gandengan















Apalah Arti Sebuah Nama

16 Juni 2017
09.31 Pagi

Apa ya arti dari sebuah nama ?



Ide dari tulisan ini datang ketika Samsung meluncurkan kampanye Ramadhan mereka. Sebagai anak iklan, seru untuk melihat iklan dan kampanye baru. Seru untuk menganalisis iklan dan kampanye dari brand, mencari apa kekuatan dan kelemahan dari kampanye tersebut, serta ide yang mendasari kampanye tersebut.

Nama gue, pada aslinya terdiri dari dua kata. Abshar Aryun, yang berarti, Abary adalah nama buatan. Coba baca ini nah, dikarenakan kampanye terrsebut, gue jadi tertarik untuk mempelajari arti nama gue sendiri.

Setelah gue cari tahu lebih lanjut, nama Abshar merupakan kata yang berasal dari Bahasa arab dan perancis. Abshar adalah nama yang diberikan oleh orang tua gue ketika gue lahir. Kata mereka, nama gue artinya penglihatan. Nama tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa gue memakai kacamata sejak kelas 1 SD hingga saat ini. Sekarang, gue sudah minus 3 di mata kiri dan dua seperempat di mata kanan, ditambah silinder yang gue lupa pengukurannya, kombinasi yang membuat mata gue agak blur tanpa alat bantu kacamata.  Wah, udah 14 tahun juga gue pakai kacamata.. jelas lah gue ingin lasik. Mungkin kacamata gue sudah hampir lebih selusin kalua di jejerkan, antara ilang, rusak, pecah, dan lain-lain. Intinya, nama yang berarti penglihatan tersebut tidak berarti penglihatan yang sempurna pula.

Sedangkan aryun berarti putih dalam Bahasa sansekerta. Aryun bukanlah hal demikian, karena Aryun adalah singkatan dari nama ayah gue, Ahmad Ridha Joenoes (Yunus) yang disingkat Aryun. Namun ketika gue cari, ada arti untuk nama tersebut. Putih, hm.. ketika kecil gue memang putih bahkan seputih susu. Mami bilang, gue jarang banget main keluar rumah, sangat kontras dengan ketika gue SMA yang kerjaannya nongkrong diluar terus atau latihan dibawah matahari terik, membuat gue sangat gosong matahari dan putih tersebut memudar. Wajah gue juga bukanlah wajah yang bersih bersinar seperti mereka yang ada di sampul majalah, membuat gue semakin meragukan arti nama tersebut.

Tapi, apa sih sebenarnya arti dari sebuah nama?

Ketika gue bingung, gue pun berusaha melihat hal tersebut dari aspek yang lain. Misalnya, Abshar yang berarti penglihatan.  Gue memang belum memiliki penglihatan sempurna secara fisik, belum bisa memalingkan pandangan dari nafsu, belum bisa juga menanamkan konsep pandangan sebagai hal yang bermanfaat untuk diri sendiri. Gue berusaha sebisa mungkin untuk live up to my name. Pandangan, juga bisa berarti pemikiran. Berusaha memperbaiki diri dan mendewasakan pemikiran juga bisa berarti sama dengan menanamkan penglihatan yang bermanfaat bagi diri kita. Dengan memperluas pemikiran, yang juga berarti memperluas khazanah ilmu, juga memperluas pandangan akan dunia. Semakin banyak gue belajar, semakin banyak pula gue berusaha memahami akan dunia, hidup, dan berbagai macam hal lainnya. Hal tersebut, tidak bisa didapatkan hanya dengan sekelebat mata, namun datang dari pengalaman dan berbagai macam media pembelajaran.

Selain itu, mami pernah bilang ke gue kalua Aryun itu juga berarti suci. Gue jelas adalah seorang pendosa, yang belum berani untuk memperlihatkan kepada dunia bagaimana dosa-dosanay diperlakukan layaknya tokoh anak muda jaman sekarang. Tutupi aibmu bagaimana engkau menutupi rahasiamu, kata orang. I tried to live up to my name, tapi sepertinya memang sulit untuk terus menjadi orang yang bersih dan suci. Namun buat gue, putih bisa juga berarti kosong, bersih, dan tidak penuh. Bisa di isikan dengan berbagai macam hal, bagi gue, sebagai bentuk gue belajar, berusaha mewarnai sebidang putih. Hm, antara bisa dipercayai dan menarik ya
Well anyway, it is just a name anyway.


Tugas Kelompok Pengantar Desain Grafis (DKV 1)

Deskripsi Karya
Tugas Kelompok Matakuliah PDG (DKV 1)

Abshar Aryun – 1506756242
Vincentius Hino Saputra - 1506735616
Muhammad Fikri Aulia - 1506756583
Muhammad Ruswan – 1506756305

Penjelasan Karya
Disusun untuk memenuhi Tugas Kelompok Matakuliah Pengantar Desain Grafis (DKV 1)

Tugas Kelompok DKV 1 Abshararyun.com




Tema : Transportasi Umum (Kampanye Sosial)

Memiliki transportasi umum dengan sistem yang baik adalah impian lama warga DKI Jakarta. Mereka membutuhkan jawaban atas kemacetan yang semrawut, bagian jalan yang tidak seimbang, polusi baik udara maupun suara, dan bermacam faktor yang turut menjadi faktor menurunnya kebahagiaan masyarakat DKI Jakarta. Jawaban seolah datang ketika TransJakarta lahir pada tahun 2004 dan dikukuhkan sebagai sistem transportasi berbasis bus dengan jalan yang dikhususkan kepada TJ saja. Harga tiketnya dari waktu diluncurkan adalah Rp. 3500. Sekarang, tiga belas tahun kemudian, harga tiket TJ masih sama, namun TJ telah tersebar kepada empat belas koridor yang memenuhi DKI Jakarta, dengan bus pengumpan yang turut masuk ke pelosok DKI, serta bus wisata dan bus sekolah yang membantu mobilitas masyarakat urban.

Maupun jauh, maupun dekat, sebanyak 3500 rupiah hanya perlu dikeluarkan, sehingga dari sanalah kami mengambil ide dasar penyusunan desain. Frasa “Jauh Dekat x Rupiah” juga telah popular di masyarakat Jakarta, frasa tersebut sering ditempelkan di angkutan umum seperti angkot atau metromini. Tim ingin menunjukkan kearifan lokal budaya Jakarta pada desain dengan sentuhan TransJakarta sebagai solusi kemacetan DKI Jakarta.

Elemen desain dan penataan kami menitik beratkan pada head copy, yaitu Rp. 3500 yang mana, 3500 tersebut berisikan peta rute TJ yang mencakup daerah di Jakarta. Kata ‘Jauh’ dan ‘Dekat’ diletakkan pada bagian kiri atas dan kanan bawah untuk mengomplementasikan copy 3500 agar menjadi titik fokus desain (focal point). Kami menambahkan logo TJ, logo Pemprov DKI, media sosial dan kontak TJ, serta visual bus TJ agar kesan ceria dan menyenangkan dari desain bisa dicapai.

Kami menggunakan palet warna yang sama dengan palet warna TJ, yaitu biru muda dan putih. Palet warna ini kami dapatkan melalui riset kepada palet warna bus TJ yang bergeser dari warna sebelumnya yaitu merah dan putih, menjadi biru dan putih. Biru yang dominan digunakan adalah biru dengan shade muda, mendekati warna biru langit. Kami menggunakan palet warna TJ agar masyarakat dapat dengan mudah mengasosiasikan warna biru langit dengan TransJakarta, serta menanamkan brand image biru langit sebagai citra TransJakarta.

Pada tipografi, tim menggunakan font ‘HP Simplified’ pada seluruh copy desain. Tim memilih menggunakan font ini pada seluruh elemen copy karena font ini memenuhi kriteria ceria, dinamis, dan mudah dicerna seluruh khalayak, baik tua maupun muda, universal kepada seluruh pengguna TJ.
Kami ingin mengaplikasikan kampanye sosial ini sebagai ajakan kepada warga DKI untuk menggunakan TJ. Penggunaan transportasi umum secara komprehensif dapat megurai kemacetan dan mengurangi polusi. Menggunakan transportasi umum juga mendukung program pemerintah daerah dengan memberikan keuntungan kepada pemerintah daerah. Tim berharap, kedepannya TJ dapat meningkatkan layanan dan menambah jalur capaian TransJakarta, yang #KiniLebihBaik.