Semenjak Selalunya



Aku tidak pernah menginginkan kehidupan ini
Yang bohong, yang palsu, yang kadang membuat hati membeku
Aku jatuh terbingung akan segala hal yang terjadi
Meski bukan mauku
Tapi tetap kujalani

Sejujurnya aku masih berenang di kolam masa lalu
Terjaring "Bagaimana kalau?" Atau "Coba saja..."
Aku ingin berenang lebih dalam lagi
Hingga terjebak serabut memori
Hingga tidak dapat bernafas lagi

Aku ingin terbang tinggi
Lepas dari seluruh benci
Lepas dari seluruh tinggi
Tinggalkan masa lalu
Dan
Kembali
Menjadi lebih baik lagi

Jakarta, 10 Februari 2018

Kebebasan Yang Tidak Membebaskan

17 Januari 2018
22.14 di Tenda Ngemil, Larangan

Joglo dan sekitarnya telah berkembang jauh. Joglo punya banyak sekali tempat nongkrong seru bin apik, dengan live music yang ciamik punya. Gaperlu lagi lah gue jauh-jauh ke bar atau cafe di selatan jakarta untuk menikmati live music yang seru

Kebebasan yang dirasakan banyak manfaatnya oleh rakyat Indonesia ini memang tidaklah sia-sia. Setidaknya, selama dua puluh tahun gue hidup di Joglo, telah banyak sekali perkembangan yang gue yakin dikarenakan kebebasan dalam pengembangan zona ekonomi dan pemanfaatan industri di sekitar masyarakat menjadi salah dua faktor pembangun dan pengembangan sumber daya manusia yang memiliki standar yang, yah, bisa dibilang, lebih tinggi. 

Kebebasan, layaknya berbagai macam hal dalam kehidupan, membawa dua aspek yang bisa dikaji, yaitu dampak positif serta negatif. Ya pasti lah ya, lo bisa namain apa itu kebebasan yang bisa membawakan dampak positif, seperti globalisasi. Tapi, kali ini gue sedang memiliki concern yang cukup tinggi terhadap dampak positif dari kebebasan terhadap kehidupan sosial dan budaya di masyarakat, terutama masyarakat Indonesia. Memang, hal ini hanya gue lihat melalui sampel yang gue kaji pustaka pada komentar warganet. Dengan basis data yang tidak cukup kuat, gue memang merasa artikel ini tidak di support oleh tesis yang cukup baik. Tapi ya iyalahya namanya juga blog gue, jadi yang gue tulis ya yang gue publish (yaiyalahya)

Kurangnya Toleransi
Pernah dengar kasus H&M yang baru saja dihantam PR crisis mengenai rasisme? Jujur, gue ngerasa itu adalah kasus yang sangat pointless, bullshit, dan sangat tidak penting untuk dijadikan buah bibir. What can i say, itulah masalah dari negara dunia pertama dan permasalahan mereka yang perutnya sudah terisi penuh tanpa takut perang ataupun senjata api menembus diri mereka kapanpun itu. Kasus H&M membuat gue sangat berpikir, apakah rasisme itu? Apa sebenarnya rasisme, dan apakah benar rasisme itu benar ada, atau justru beberapa pihaklah yang membangun konstruksi akan apa itu rasisme?

Coba gue kaji lagi, gue nggak merasa salah dengan memanggil seorang anak kecil monkeys. Kalo di Indonesia salah, deng. Gila kali lo ya manggil anak bocah nyet nyet dikata anak tongkrongan banget. Tapi gw melihat mereka monyet karena mereka yang penuh energi, selalu berlarian, dan gak bisa diam. Sayang aja, karena dipakai oleh anak kulit hitam, dunia (amerika dan para SJW lainnya) merasa perlu untuk berkomentar menegakkan keadilan sosial yang mana sebenernya ngga perlu sama sekali di bahas (?). Kalau kalian menilik lagi keadilan sosial, bagaimana dengan daerah konflik? Bagaimana dengan propaganda, atau bermacam isu lainnya yang jauh lebih kritis dibandingkan marah karena seorang anak kecil berkulit hitam disebut monyet. Honestly, semakin lama gue semakin melihat bahwa para penegak keadilan sosial yang berlindung dibalik topeng digital lah yang perlu mengkaji lagi, apakah yang gue bela itu penting apa kagak sih. Beneran berguna ga sih buat idup orang lain, ato minimal buat idup lo sendiri deh. But then again, selama gue belum menjadi anak pak harto atau selebritis atau konglomerat tajir yang bisa nampar orang pake sepuluh jutaan buat beliin gue es teh macem syahrini, kayaknya nggak banyak orang yang mau dengerin perkataan gue.

Lelah, kebebasan ternyata memiliki andil terbalik pada kehidupan manusia dengan manusia lainnya. Kebebasan tersebut justru membangun dinding baru, yang melihat bahwa coi, kebebasan lo gabisa nih ngena ke bebasnya gue, sehingga paradoks dari kebebasan tersebut membangun sebuah poligon yang hitam putih, mudah sekali dikatakan benar salah, dan tidak berbasis. Emosi masing-masing dilihat sebagai jalur keadilan sosial, dan internet justru melakukan penekanan yang baik terhadap mudahnya seseorang melancarkan pendapat berbasis keadilan sosial. Tertabraknya kebebasan masing-masing justru menjadi bumerang yang berbalik menyerang setiap individu. Kebebasan, justru membangun dinding tinggi akan siapa yang dinilai perlu memiliki keadilan tertinggi. 

Dominasi, jika ingin menang, maka dominasikanlah lingkunganmu.

You want to win?
Then dominate
Fucking dominate




What Do You Get When You’re Falling In Life

25 Desember 2017
21.01 Malam


Di Atjeh Connection, SCBD




A lot of people had said some things to me. Baik itu in real life, ataupun dalam keadaan digital. Mereka, mengatakan beberapa hal secara general, baik, buruk, bahkan menohok hati. Beberapa, yang bahkan membuat gua kadang bosan menghadapinya.

Misalnya, besok adalah peringatan tiga belas tahun tsunami Aceh. I’ve lost a lot in the tsunami, mainly karena gua masih belum terlalu mengenal keluarga di Aceh yang hilang dan kejadian tersebut meninggalkan trauma yang cukup mendalam. Ditinggalkan, secara tiba-tiba, adalah bentuk hukuman yang berat bagi hidup manusia.

Meskipun begitu, besok, tepatnya tiga belas tahun setelahnya, hidup tetap berjalan. Tetap berputar dan tidak menunggu seorang pun untuk bertahan. Jika terlambat, ya, nggak akan bisa menikmati hasil petikan dari usaha yang terlambat dilakukan. Falling in life means that you would really fall deep in to the black pit. Kalau lo cuma down, sedih, bete, bukan itu hal yang akan memberikan pelajaran terbesar dalam hidup lo. Ketika lo merasa sendiri dan tidak ada orang lain yang bisa menyelematkan lo kecuali diri lo sendiri, itu lah masa ketika lo falling in life to the deepest pit.

Meskipun begitu, kadang beberapa orang tidak mampu bahkan tidak bisa melewati kejadian tersebut. Terkadang, kita tidak bisa melihat jalan keluar dan solusi dari masalah yang kita hadapi sendiri. Kita cenderung menutup mata, berputar dalam kepusingan dan tidak ingin melihat secara jelas jalan keluar yang diberikan oleh matahari. Waktu memang menjawab, sayangnya banyak dari kita yang merasa waktu adalah lawan terbesar kita.

Coba, bayangin kalau lo misalnya, sedang dihadapi masalah finansial. Biasanya nih, as the famous literal saying goes, “Shit Happens”. Alias, kalau lo sudah ketiban batu, yaudah mampus dah lu ketiban tangga kesiram galon kejebak pintu. Setelah lo kena masalah finansial, temen-temen lo pada ninggalin lo karena lo bau ketek (gatau juga kenapa itu yang kejadian), tagihan mulai menunggak, kalo lo ada pacar ya syukur dia bisa nerima curhatan lo kalo ada konglomerat tiba-tiba narik doi ke tangan yang tepat (ato perebut pacar lebih tepatnya) yaudah dia cabut, and more, and so on, and so on - itu lah contoh studi kasus ketika hidup lo mulai runtuh bercabik-cabik.

Oh well, lo berusaha positif, melihat segala hal dari bintang bercahaya dan sangat ingin mereka tetap melihat lo sebagai figur kuat yang berani melawan kesulitan hidup. Lo mulai berpikir positif dan terus-terusan bilang “i’m okay kok..” di chat kepada teman-teman lo yang berusaha membantu. Then again

What a shitty move brother/sister/siapapun lah

karena

Kalau lo mau idup lo berubah, do something!
Do something that counts, yang benar-benar berarti dan menjadikan aksi tersebut berharga bagi diri lo. Do something yang sekaligus menjadi tanda bahwa lo bukanlah pion yang bisa disingkirkan secara mudah. Ngelawan kek, kerja kek, apa kek, jadilah pohon yang tidak terjatuh ketika angin kencang menerpa dirinya dan merasuk kedalam dedaunannya. Karena, dari sanalah lo bisa mempelejari apa itu hidup sebenarnya.

Mungkin gue sotoy, di usia 20 tahunan berusaha jadi life coach yang padahal ya Allah idup gua aja gaada lurus-lurusnya. But then again, if you have any wisdom to share then it is worth to share. Kalau lo ngerasa hidup lu jatuh, enjoy it. Enjoy the time ketika lu berada di dinamika kehidupan mengarah ke bawah - karena disanalah pelajaran paling berharga bisa lo dapatkan. Teman-teman terdekat, sahabat paling jujur, hingga musuh-musuh yang akan diketahui. Semua dan segala macam hal lainnya yang bisa lo peroleh dengan menikmatinya.

Jadi, what do you get when you’re falling in life?


Jawabannya gue rasa bisa lo jawab secara sendiri sendiri

Kelasan Tidak Sendiri

10 Desember 2017
19.46 malam

Di Gudang Sarinah, Sisitipsi sedang main
Hasil gambar untuk 2017 jakarta biennale closing
the poster of the event

Diantara mereka yang tengah menikmati permainan lihai nan handal dari pemusik yang tengah naik panggung, yaitu Sisitipsi - band dirty jazz yang gue kadang suka kadang tidak dengarkan. Malam ini, gw pun memilih duduk sendirian di tengah keramaian yang meneriakkan nama-nama alkohol lokal. Di gemerlap tersebut, ada teman-teman gw juga yang sedang menonton. No, am not that sad untuk datang ke konser yang sudah gratis sendirian pula. Not that it is a bad thing, toh gue sering begitu pula. Cuma sekarang, memang lagi ingin sendiri : duduk di tengah sound system yang baik suaranya serta tata cahaya panggung yang oke banget asli deh beam sampai ada lima belas lampu. But yah


Karena saking ramainya,

Gue sampai ngerasa kecil banget sebagai seorang manusia.

Pernah kan lo ngerasa kayak gue? Ketika mereka yang niat mampus pake wardrobe dan gue yang baru saja selesai kerja kelompok analisis konsumen untuk uas - tentunya gue semakin butiran debu diantara mereka yang ya aduh keren keren amat. Meskipun banyak yang tengah katarsis, (dan gue juga katarsis menikmati musik pula) gue berusaha untuk memahami 2017 yang cepet banget berjalannya. 

Yoi, ini lah post refleksi akhir tahun. He's back : the reflective version of Abary yang kayaknya, kalau nulis, bawaannya kayak mau bunuh diri
Oh shit, gue kebelet kencing

Se nggak jelasnya artikel kali ini, gue masih berusaha kembali aktif menulis. Karena kalau nggak, apalagi sih yang bisa bikin waras diantara keramaian pegang alkohol ini -

Jual Diri.


10 Desember 2017
00.25 Dini Hari
LANY bernyanyi sendu di speaker kamar rumah Joglo

-

Ada yang aneh hari ini. Ya, gue kembali menulis setelah sekian lama sok sibuk merintis karir musik sehingga menulis yang dulunya dielu-elukan sebagai obat jiwa ditinggalkan. Padahal, banyak ide menarik dan konsep yang seharusnya bisa ditelurkan menjadi produk menarik agar pembaca tidak meninggalkan blog yang pula sudah usang ini. Sayang, gue memang belum menempatkan menulis sebagai prioritas lagi. Meskipun sudah berusaha berkomitmen dengan uang yang diinvestasikan ke dalam pembayaran domain blog, gue tetap saja malas dan tidak ingin memeras otak berpikir agar produk ini bisa laku keras di pasar.

Pasar.
Pasar ?

Entah kenapa, gue sedang sering sekali mendengarkan kata tersebut dari berbagai macam pihak dari berbagai macam sisi. Karya musik yang dibuat oleh @tkptheband (band gue, red) harus mengikuti pasar - kata seseorang yang berusaha memberikan saran. Lain hal nya dengan si idealis, yang bilang kalau produk tidak boleh ikut-ikutan pasar sehingga karya jujur datang dari dalam diri. Meskipun diskusi ini sangatlah basi dan tidak berguna, (alias, biarin aja nggak sih siapapun berkarya sesuka hati mereka ) (tapi still, thanks a lot karena berarti kalau ada yang ngasih lo saran mereka beneran perduli dengan lo) kamu harus mengakuinya bahwa kita memang tengah jualan besar-besaran di era informatika ini. Semua demi digital marketing yang berhasil, berhasil, dan berhasil.

Jualan apaan? sukur kalau lo memang berdagang agar membantu orang tua di masa tuanya. Sayang seribu sayang, manusia yang udah mau menginjak jumlah delapan miliar di muka bumi ini memang membuat setiap orang ingin menjadi sesuatu. Berusaha menjadi someone yang dimengerti, didengar, dihargai dihormati, dicintai, disukai, et cetera - you name it. Kalau nggak eksis, berarti nggak laku, nggak berhasil, nggak bisa dikatakan sukses.

Dimulai dari pembentukan identitas diri yang dicitrakan melalui social media agar “Semua orang bisa lihat kehidupan gue sejak awal gue branding sampai sekarang gue yakin dengan branding yang gue ajukan”. Terutama dengan mereka yang hidup di kota, memiliki identitas yang diasosiasikan dengan kelompok amatlah penting. Insting hewani dalam manusia yang menyatakan kalau kita akan lebih aman apabila hidup berkelompok sangatlah berguna apabila individu masuk kedalam sebuah kelompok dan, semoga, bisa berfungsi dengan baik di dalamnya. Kelompok yang dekat dengan stereotip-stereotip tertentu : sport jocks, jejepangan, indie abis, komedian, anak gaul, dan lain lain, menjadi sedikit dari sekian banyak pilihan pengaruh yang bisa diproses sebagai pilihan sementara individu. Social media, adalah penggunaan yang sangat baik untuk menyebarkan informasi akan identitas yang lo pilih tersebut. Perilaku posting, visual, audio, tipografi… meskipun begitu sempit, namun hal tersebut seperti sangat menggambarkan perilaku manusia dibelakangnya
Satu, biar idup waras, lo harus dianggep ada sama orang lain.

Sekali hidup di era informatika, maka komunikasi juga digital arahnya. Bukan pantun, melainkan sebuah fakta yang benar-benar harus lo proses. Selamat datang ke sebuah era dimana cewek berani bilang cowok yang ajak dia kenalan langsung “creepy banget deh!” ketimbang ketemuan sama mas-mas tinder. Yah, apa sih yang bisa lo salahkan? Digital memang memotong banyak sekali jalur, salah satunya adalah cara lo berkontak dengan manusia lain. Komunikasi yang semakin mudah juga makin membantu lo jual diri agar manusia di sekitar lo semakin sadar dengan apa yang berusaha lo jual. Citra, brand, identitas, hal tersebut berusaha lo raih dan proyeksikan karena di kehidupan asli, nggak ada online disinhibition. Nggak ada ‘topeng sempurna’ yang bisa menutup kebahagiaan yang di pancarkan millennial kepada dunia luas melalui internet. Sekali jualan, tetep jualan. Capek? Ya namanya juga hidup di era informatika. Perlahan, dunia digital mulai keliatan membohongi lo, bukan?

Tunggu,
Abary
Lo mau buat UAS Pemasaran Digital atau nggak sih ?

-

Penjelasan Karya // 

Jual Diri adalah sebuah essay yang saya susun sebagai model karya untuk memenuhi UAS Matakuliah Pemasaran Digital. Essay tersebut merupakan sebuah model tulisan dari "Abary", seorang karakter yang berusaha mengkritik dunia digital sebagai bentuk pembohongan publik dan pengangkatan identitas diri sebagai sebuah komoditas.

= = = 

Sebagai seorang millenials yang ingin berhasil dan efektif menggunakan internet sebagai media pemasaran, Abary tentu akan memulai dengan menganalisis brand apa yang akan ia angkat. Melalui essay tersebut, ia memilih brand yang serius, selektif dalam berteman, constantly judging, dan diturunkan kedalam variabel “polisi skena” dimana ia menggambarkan diri sebagai seseorang yang selalu menilai orang lain menggunakan tolak ukur pribadi. Mungkin akan banyak pihak yang tidak menyukai dirinya, namun ia akan meneruskan untuk menelurkan sebuah produk yang menimbulkan perbincangan dan menjadi buah bibir agar blognya dapat menjadi perbincangan di setiap komunitas, atau bahkan menjadi perbincangan di dunia digital. Nantinya, ia juga akan menggunakan elemen dari dirinya sebagai nilai jual, seperti fakta bahwa dirinya adalah mahasiswa dari Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, dan lain lain.
Abary kemudian akan menurunkan variabel tersebut kepada dimensi-dimensi dibawahnya. Ia akan menggunakan social media dengan berhati-hati, tidak overshare, hanya melakukan posting foto bernada kegundahan hati atau isu kehidupan atau karya seni yang menggambarkan dirinya. Kemudian, ia akan banyak menulis di blognya mengenai kritik sosial yang dekat dengan dirinya. 
Abary pun berusaha menyebarkan konten dan produk yang ia buat kepada publik melalui kanal yang ia miliki dengan judul yang bernada tidak perduli dengan keadaan. Ia akan berusaha menyebarkan produk melalui sosial media dan sharing via teman yang ia miliki. Dengan menggunakan IMC sebagai strategi pemasaran digital untuk diri, blog dapat memiliki traffic dan bisa dilirik oleh pihak ketiga sebagai media yang menjanjikan untuk beriklan atau bekerja sama.
Abary berhasil menggunakan strategi pemasaran digital yang efektif, ketika ia berhasil memadukan strategi pemasaran dunia asli dengan menyesuaikan diri dengan citra dan brand yang ia pilih. Ia juga berusaha memaksimalkan strategi tersebut dengan mendorong karyanya melalui teknik-teknik pemasaran digital agar produknya dapat mencapai publik yang luas, hence, membangun profit kepada dirinya

=
Abshar Aryun 
1506756242

Pemasaran Digital kelas A

Disusun untuk memenuhi 
Ujian Akhir Semester
Matakuliah Pemasaran Digital
Departemen Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Universitas Indonesia