Arti Dari Jadi Sendiri


2 Juni 2018
22.00 

A cafe at Kemanggisan, one of those nights



Nggak jarang kalau gue ngerasa sendirian. Terutama kalau gue gabut (gak ada kerjaan), gue merasa kalau gue jadi manusia paling sendirian di muka bumi ini. Shiit that sounds awful yet too demanding, tapi di usia 21 ini sepertinya gue mulai mencicipi sedikit dari quarter life crisis, other might call it the ‘pre quarter life crisis’. Buset apaan lagi coba bre

Gini, udah bukan rahasia lagi kalau makin tua, temen kita jadi semakin sedikit. Kemarin gue terlibat diskusi digital sama Eki, saxopohonist yang baru sarjana dari Ilmu Politik 2014. Dia menanyakan terkait kegunaan bukber dan urgensinya. Menurut gue, bukber itu sangat penting. Buat gue yang orangnya sangat seremonial dan mengindahkan event apalagi undangan dari orang, gue merasa bukber adalah hal yang sakral. Momentnya pas tuh, setaun sekali ketemu. Udah gitu bisa update temen-temen lo idupnya lagi pada ngapain, siapa yang high achiever, siapa yang lagi ngga ngapa-ngapain, atau sekedar tau dia udah putus atau belom. Emang sih, intinya bukber itu sombong-sombongan dan ketemu lagi setelah setaun ga ketemu tapi abis itu main hape. Cuma, buat gue yang kaum urban dan komunal, punya tingkat stress yang tinggi, ngelihat teman lama dan cerita tentang kehidupan mereka saat ini itu bisa jadi salah satu obat buat stress tinggal di kota besar. Jadi motivasi lah, minimal. “Si x udah bikin usaha aja ya, gue bikin ah” misalnya. Ya asal jangan ngemeng doang sih….

Nah, Eki mulai ngeliat kalau bukber itu nggak relevan. Menurut dia nih, dari yang tahun lalu sampai menyusun agenda dan jadwal serta bikin effort untuk datang ke setiap bukber, tahun ini doi ngerasa kalau “yaudah” aja terhadap bukber. Bisa ya dateng, kalau nggak bisa, ya, yaudah. Tentu gue ngerasa agak sedih, kenapa momen bukber kayak gitu disia-siakan kalau lo bisa ketemu temen lama bahkan nyiptain koneksi baru yang bisa jadi, akan jadi modal sosial baru lo nantinya? Diskusi pun berlanjut. Menurutnya, lebih baik mana, punya 100 teman tapi rasanya seperti nggak punya teman, atau satu orang teman tapi saling mendoakan? Disini, gue mulai kehabisan argumen dan harus mengakui kalau Eki baru saja memberikan poin yang cukup baik. Sudah pasti, semua orang menurut gue kalau sudah sampai di usia gue ya 20,21 an, sudah pasti pernah merasakan “gue effort buat temen gue tapi mereka nggak effort ke gue”. Kayaknya, itu lah natural calling untuk bilang kalau mereka nggak lagi menjadikan lo prioritas lagi. 

Sayangnya, gue sering banget merasa seperti ini ketika mendekati libur panjang seperti sekarang. Liburan di UI itu kalau semester genap panjang banget, tiga bulan. Beneran plong tiga bulan gak ada kegiatan. Apalagi tahun ini gue memutuskan untuk nggak magang dan menikmati yang bisa jadi liburan terakhir gue selama duduk di dunia akademis. Maka, gue pun memutuskan untuk mengambil full advantage dari liburan ini untuk nongkrong dan ketemu teman dan memastikan prinsip gue sejak awal dewasa : memanfaatkan modal sosial untuk bersenang-senang, sehingga tetap bisa asik meskipun gaada duit. Intinya, seneng-seneng sama temen meskipun ngirit.

Gue mulai mencari list kontak dari sesiapa yang biasa gue kontak untuk nongkrong. Ada beberapa yang mau, sedikit, dan lebih banyak yang nggak bisa. Nggak salah sih, selain ini lagi puasa dan beberapa kampus memang belum libur, gue memang mulai diaspora dan mengontak yang bahkan, gue nggak kenal dekat banget tapi ngajak nongkrong. Orang jaman sekarang nyebutnya ‘creepy’, gue bilang itu usaha untuk mengenal orang lain. Really men, what’s the matter with people nowadays? Ketika lo mengontak teman lama lo, dan banyak dari mereka hanya berpikir “Wah, dia lagi ada perlu apa nih untuk kontak gue”. That kind of harsh reality, kicks me right at the heart bruh.

Bukan sih, ini bukan gue ngerasa kesepian karena nggak punya pacar atau gue sama sekali nggak bisa sendirian. Gue terbiasa banget untuk nyapa stranger dan membuat konversasi berdasarkan cerita sekali ketemu. Kenapa ? Balik lagi, banyak banget pintu rezeki yang dibuka ketika gue melakukan hal itu. Gue dapat panggung, gue ketemu produser gue dari ngobrol asal, sampai minimal gue ketemu temen nongkrong yang bisa diajak sharing. Emang nggak semuanya berakhir baik, cuma ngobrol sama stranger itu asik dan bisa diterapkan untuk kehidupan sehari-hari (and stop calling you’re introverted or what bre b aja bisa kan - biased view) agar lo ngerasain juga manfaat yang gue rasakan.

Lately, gue pun menyadari kalau hal itu nggak terlalu aplikatif di kehidupan sehari-hari. Mungkin karena gue tinggal di Jakarta, dimana semua orang sudah terlalu banyak suspisi masing-masing terhadap satu dengan lainnya. Kebiasaan gue untuk pergi sendiri ke sebuah tempat dengan mindset “Nanti disana cari temen baru aja” mungkin bisa dipraktekkan, tapi nggak selamanya berhasil juga. Gue menyadari kalau trik ini sangat aplikatif apabila berada di pub atau bar. Mungkin tempat yang gelap dan alkohol menjadi pengaruh besar setiap orang menjadi terbuka untuk mengutarakan cerita mereka masing-masing. Isn’t it sad? The ugly truth that you need an intoxication process  just to create a self disclosure momento. Beberapa kali gue di stasiun kereta bisa menggunakan trik ini, tapi yah, one does not conclude on the happiness of sharing stories with a new person everyday.

Padahal, banyak banget yang gue dapatkan dari bermacam pembicaraan itu. Andai aja gue nggak malas menulis dan menceritakan semuanya di blog ini, mungkin ada ratusan cerita baru setiap harinya yang bisa gue bagikan ke kalian. Gue pernah ketemu pilot yang ketahuan narkoba, pekerja yang nggak happy dengan karirnya dan talk dirty of his boss behind (ampe nyebar fitnah gitu bre), cerita orang yang aktif jadi aktivis organisasi, korban dari usaha kriminal, dan masih banyak lagi. Ceritanya beragam, dan entah kenapa, ratusan cerita tersebut nggak bisa dituangkan ke orang lain hanya karena keterbatasan komunikasi yang, bukan bahasa, bukan jarak, bukan noise, tapi purely, hanya karena “nggak mau” atau “nggak berani”.

Sure, you could always talk to me about anything dan gue berharap bisa memberikan respon terbaik untuk hal tersebut. Hmu via my email, abary.abshararyun@gmail.com seperti yang tertera di about me. Cuma ya, jangan creepy ya.

Menjadi Orang Yang Vokal


1 April 2018
23.29

Ada yang menarik ketika lo menjadi orang yang vokal di negeri Indonesia. Sebenarnya, hal ini hampir universal, sih. Dimanapun lo berada, menjadi orang yang vokal akan membuat hidupmu sulit.

Jadi gini. Kalau lo mengenal gue sejak beberapa waktu, atau setidaknya pernah ngobrol dengan gue di kehidupan asli, lo akan tahu dan sadar betapa blak-blakan gue dan mementingkan kejujuran dalam gue berbicara. Gue masih berpikir sebelum berbicara, sih. Tapi gue tidak merasa takut untuk membicarakan opini gue. Apa yang gue pikirkan, akan gue utarakan. Hal ini mulai gue biasakan.. sepertinya sejak gue lahir. Dulu, mungkin gue belum terlatih dengan hal semacam ‘observasi’ atau ‘adaptasi’ untuk melakukan trait ini kepada orang lain. Namun lama kelamaan, gue jadi merasa nyaman aja untuk berbicara sesuai apa yang gue pikirkan. Tentu saja, hal ini datang dengan beberapa konsekuensi yang mungkin, akan nggak cocok atau beberapa orang nggak siap untuk hadapi.

Pertama, lo pasti akan bertemu dengan orang yang sensitif dan merasa tidak siap untuk mendengar pendapat lo. Terutama, dengan konteks kita di Indonesia. Kita bisa berbicara apa saja, tapi nggak dengan orang lain. Mereka ada yang terbiasa untuk memendam pendapat mereka dan terbiasa untuk diam. Apalagi, merasa opini kita sulit untuk diterima atau diproses lebih lanjut. Buat gue, hal ini sudah biasa. Cukup menjadi pemahaman bahwa nggak semua orang itu sama dan nggak menjadi hal juga untuk gue ubah kelakuan gue, selama itu nggak negatif. Misalnya, gue disuruh untuk diam. Ya pastinya gue nggak akan mengikuti hal itu mentah-mentah saja.

Kedua, banyak yang tidak suka. Baik dengan lo, dirilo, ataupun keberadaan lo. Ini berlaku pada beberapa orang yang vokal tapi bego, dalam artian ngga  bisa memahami kalau diri mereka nggak disukai tapi ngga mau mendengarkan pendapat dari orang lain untuk perilaku vokal mereka. Not to be shabby sih, I mean gue juga pernah nyinyir ke mereka yang masuk kategori ini. Atau juga gue pernah masuk kedalam fase ini. The  thing is adalah lo harus bisa memilah kapan lo harus vokal dan penggunaan segala elemen dalam melakukan perilaku vokal. Baik itu kata, perilaku, attitude, you name it. Mau berlaku vokal, berarti lo harus siap merombak keseluruhan diri lo juga.

Nah, kesimpulannya apa?

Buat gue sih, vokal di Indonesia tetaplah sulit untuk dilakukan. Intinya, selama lo happy yaudah lakuin aja sih. Asal siap malu aja, siap turun naik kasta sosial, dan siap diomongin, then you are ready to go.

Di The 6th UI Art War


25 Maret 2018
23.20 Malam

Di cumlaude kutek yang cukup ramai, menjelang uts


Beberapa waktu lalu di semester empat, gue memutuskan untuk ikut wawancara sebagai staff di acara tingkat UI, bernamakan UI Art War. Acara lomba seni di tingkat UI ini mempertemukan kontingen setiap fakultas pada bermacam lomba, yang tentunya, cabang kesenian. Gue memutuskan untuk valounteer karena semester empat gua kemarin gabut sangat. Bayangin, anak kosan yang kuliah doang (sama nongkrong) itu agak nggak sih buat gue. Ya karena alasan bs bs and the gang, gue pun daftar jadi staff di band dan solo vokal. Entah kenapa solo vokal, tapi gue tetap menaruh prioritas di divisi band sebanyak 70:30. As expected, gua diterima dan gua berusia setahun lebih tua dari atasan gua. Nggak cuma itu, semua staff nya tua, dan gue baru sadar gue terjerumus ke kepanitiaan UI yang banyak banget obrolan miring. Entah itu nggak jelas, woro-wiri, sibuk ngilang, dan lain lain. Intinya, bad publicity lah. Anyhow, gue sudah masuk dan memutuskan untuk komit dengan pilihan gue ini.

            Nggak disangka, gue ternyata malah sangat berkecimpung dan banyak sekali berkontribusi di acara ini. The 6th UI Art War, menjadi salah satu bagian kehidupan kampus yang menarik. Mencoba menciptakan wadah untuk sivitas akademika UI berseni. Ew, what a bullshit kata lo. Tapi yeah, gue beneran merasakan hal itu. Gue merasakan enjoyment dan fulfillment diri yang sangat penuh di sana. Gue merasakan kepuasan batin, dan tentunya bahagia. Capek, tapi seneng. Karena gue ngurusin suatu hal yang gua suka. Emang kenapa aja sih?
        
         Ya pastinya, gue ketemu teman-teman baru. Dari UI pula, benar sekali kepanitiaan itu emang menambah teman. Nggak nambah uang sih, malah keluar uang. Tapi dibalik otak oportunis gue ini, gue merasa banyak sekali teman bertambah dari fakultas-fakultas yang sebelumnya gue nggak berpikir bisa temenan sama mereka. MIPA misalnya. Terus, gue jadi dapet insight baru akan kehidupan mereka di fakultas masing-masing dan tentunya nongkrong sana-sini. Kayak, semester lima gue isinya nongkrong doang nyet. Beneran, tiap malem, isinya cumlaude doang. Ya dari dulu juga sih, tapi sempet break, dan ini di semester lima yang lumayan berat gue merasakan nggak sabar untuk ketemu mereka dan ngobrol ngalor ngidul ketawa sana sini. Not to be bragging about meeting families and all karena sekarang aja even gue nggak sedeket itu lagi sama mereka, tapi kemarin itu menjadi salah satu alasan gue bahagia banget di UIAW. Orang yang mengurusinya, sangatlah tulus dan bikin hepi. Namanya orang-orang seni kali ya.

            Terus, yang diurusin juga enak. Yah ini mah gue karena staff mungkin, jadi ngga kebagian pusing-pusingnya. Tapi selama delapan bulan gue join itu, gue sangat berbahagia untuk mengerjakan sekecil apapun kontribusi yang gue bisa berikan. Nyatanya, gue berhasil terhasut untuk cabut cabutan kelas selama dua minggu. FAK INI BUKAN GUA BANGET JING, cabut kelas demi kepanitiaan ??? Ga pernah ada di dalam kamus hidup Abary (yoi, ambis juga kan gue). Tapi nyatanya, guer mengambil bermacam peran di UIAW. MC, mas sound, floor director, lighting director, kuli angkut, consultant, dan bermacam lainnya, di berbagai macam cabangnya. Sungguh menyenangkan ternyata bekerja untuk hal yang lo sukai.

            Ketiga, bs bs again sih, tapi gue udah lama banget nggak ketemu tim yang klop. Di band pula, gue benar merasa sayang dengan divisi ini. Hari H band tim ini berhasil mempersingkat penampilan fakultas dengan acara yang ngaret dua jam tapi BERHASIL balik kembali lagi ke rundown dan berjalan lancar. Baru ketika kita happy, hujan deras turun membuat gua bisa dibilang… putus asa kali ya. Gue merasa kerja keras selama dua minggu harus dibayar tamparan keras ketika band dari fakultas Psikologi gagal tampil dan kena hujan badai. Ya namanya juga force majeur sih, mau bilang apalagi. Tapi akhirnya tetap berjalan dan bisa selesai. Badan remuk, dan bahagia karena bisa dibilang acara ini tersukses dengan pemilihan venue yang baik, rundown yang tidak telat, serta pengadaan acara yang bisa dibilang lagi, sukses. Dan gue senang karena gua menjadi bagian dari kesuksesan acara tersebut. Gue senang, bagian kerja gua memberikan suatu dampak yang benar-benar berdampak untuk acara tersebut.
           


            Terus, apa dong langkah selanjutnya?

            Gak usah ngomongin langkah dulu deh. Gue belajar banyak banget dari kepanitiaan ini. Gue belajar untuk pertama, gausah ngejudge dan menghakimi dulu sebelum lo tau dan merasakan bagaimana keadaan sebenarnya. Gue ngejudge panitiaan UI isinya pada sampah. Nyatanya ngga juga nyet masi ada juga kok yang asik-asik (kalo UIAW sih ya) jadi tetep aja gue dapet teman-teman baru. Kemudian, gue belajar untuk jangan banyak cakap. Duh udah dari dulu gue denger bacotan macem “Duh kenapa ya panitia tuh ya…” “Coba tuh ya panitia tuh bla bla bikin a b c” atau “Panitianya tuh harusnya tuh x x x “. Gini aja sih, kalo lo bisa berbicara seperti itu, YA LO JADI PANITIANYA DONG…. Jangan ngomong doang ngomentarin kerjaan orang yang lo nggak tau effortnya seperti apa. Mungkin lo bisa naro ide dan konsep lo disana, sehingga lo baru bisa mengerti kenapa beberapa alasan yang lo lontarkan nggak masuk ke dalam acara tersebut. Karena, pelajaran ketiga : ini adalah acara bersama. Acara bareng-bareng untuk dinikmati satu UI. Acara kesenian untuk mewadahi kesenian dan memberikan penikmat seni tempat untuk menikmati seni lah anjeng apaan lagi lo kira masa tempat nyari dana. Ya intinya, gue belajar banyak sih.

            O ya ada satu juga sih takeaway nya. Banyak juga yang bilang art dan war nggak bisa bersatu. Namanya juga mahasiswa, nggak mahasiswa kalo nggak konsep. Kalau dari gue ya, lomba ini memberikan wadah karena competition develops perseverance. Percaya atau nggak tapi gue udah melihat dengan mata kepala sendiri banyak banget orang yang keluar dari zona nyaman sebagai kontingen UIAW, dan menurut gua itu bagus banget. Lu develop, lo berkembang, dan lo bergerak. Oke sih untuk kolaborasi lalala and the gang and the bs bs, tapi buat gw bzzz namanya lokal, harus dikasih pacuan untuk bisa berjuang. Ibarat pancingan, pacuannya apa tuh di UIAW ? ya gengsi lah nyet kapan lagi lo bilang fakultas gue menang UIAW loooh (ngga ngaruh banyak si I know tapi semua orang bilang gitu btw kek gw menang juara 3 bla bla ato kontingen gw menang juara 1 bla bla people just love being on top).


            Rencana kedepannya, gimana? Ya nggak tau juga, gue sih udah berat. Gue menyesal nggak menyesal sih baru masuk di tingkat ketiga. Tapi pesan gue buat lo semua, nggak hanya untuk UIAW aja, take chances, take risk, dan lo mungkin nggak akan tau apa yang akan lo dapatkan dari pengalaman dan petualangan baru lo nantinya. Siapa tau, jalan hidup lo memang menarik untuk diceritakan seperti gue ini. Geer banget cui, yaiyalah gue anakn pak Harto


Honorable mentions to the best of 6th UIAW :
Fariz Rayhan dan Farhan Gunawan sebagai Head dan Co Head divisi band, terima kasih. Kalian tolol sekali
Nat, Fikra, Ody, dan Marisa, kalian juga team yang oke. Memorinya banyak, jalan-jalannya banyak, rapatnya bego. Patrick dan Ines, kalian newcomer yang mayan berguna lah
May Christin, project officer yang sangat sabar
Elva Azzahra si kiblat indie mahasiswa
Alsa Abil dan Ijul kaops wakaops ganteng2 sering sabar karena paling kuli
HAFIZ ya Allah lu apakabar si goblok udah kemana idupnya
Desfi, Naura, dan Brian Wakoor Acara yang sabar-sabar parah. Buat Desfi yaudah belajar aja dari pengalaman ya semoga ngga drama lagi idupnya
Friends of UIAW : Shendy,Rojak, Lintang, Vony, Cia, Yohana, Iasha, Badra, Wulan, , PJ PJ lomba yang gue beberapa uda lupa lo siapa, yaudah lo keren dah intinya
Anak-anak keamanan yang banyak banget idupnya, Manto yang udah di Australia, rio, temen-temen geng Alsa, dan semua anak keaman yang gue lupa namanya juga yaudah banyak lah intinya gw cinta lu semua #bacotan #basian #abispanitiaan #apaanlagidong yaudah dong udah lama jadi gue lupa mau gimana
Keramik hehe kapan jalan lagi dong
Dan sesemuanya, even Mujab Yoga, yang gua nyanyi di grand closing bem lo pada, semoga puas yak UIAW lo dibikin bagus

Abary



Perempuan Dan Konsep Keadilannya


17 Maret 2018
22.18 Malam

Di McDonalds dekat rumah, berusaha menulis di tengah malam


Pagi ini, gue terbangun untuk melihat sebuah program di channel Sony KIX yang sangat menarik. Berjudulkan “Escape”, program ini intinya, membawa sekelompok manusia, sepertinya tidak saling mengenal, menuju satu pulau terpencil untuk nantinya, berusaha bekerjasama agar bisa keluar dari tempat terpencil tersebut. Episode yang saya tonton pagi tadi, mengkhususkan diri pada latar pulau terpencil dengan dua buah kapal karam, dimana sekelompok manusia yang terdiri dari seorang host bernama Ant dan teman-teman barunya akan berusaha untuk keluar dari pulau tersebut. Setelah mengobservasi pulau dan keadaan, mereka menyadari bahwa kedua kapal harus digabungkan menjadi satu dan berusaha mengeluarkan diri dari pulau terpencil.

Setelah hampir seminggu berusaha, tim tersebut berhasil membangun sebuah kapal yang cukup untuk bergerak (entah kemana) melalui beberapa orang yang ternyata, memiliki profesi sebagai insinyur mesin, stunt double, project manager pada perusahaan minyak, seorang professional dalam bidang las, serta seorang usia lanjut yang senang berkendara off-road­ ekstrem. Menuju jalur kebebasan mereka, banyak konflik yang dimulai dari kelelahan serta ketidak mampuan ketua tim dalam membangun relasi kuasa yang baik. Tidak hanya itu, konflik pertama tim membuat saya sangat terguncang. Seorang perempuan, marah dan mengeluh karena beban pekerjaannya jauh lebih menuai fisik dibandingkan kelompok pekerja lainnya yang ia pikir (hanya) berusaha untuk memetakan mesin kapal.

Mengapa harus terguncang, Abary?

Apparently, the example gave me this apparent thinking. Kalau orang, terutama cewe, dibawa ke daerah terpencil seperti pulau dan bukan daerah urban yang penuh dengan fasilitas dan kemudahan,
Gue ragu mereka akan banyak berbicara soal feminisme. Dan segala macam tetek bengeknya.
-
Saya selalu tertarik melihat fenomena women’s march di Jakarta. Ini adalah fenomena yang membawa angin segar. Ikon baru dari Kartini, bahwa perempuan Indonesia, bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. Mereka bisa menulis poster dan menuntut hak apa saja kata mereka. Kesetaraan gender! Itu yang banyak sekali saya lihat disuarakan oleh bermacam pihak. Call me a sexist, tapi gue yakin sesaat setelah sekelompok pria dan wanita itu dibawa ke alam sana, mereka akan marah apabila perempuan yang melakukan kerja keras dan laki-laki yang melakukan kerja domestik. Let alone, duduk-duduk nongkrong misalnya. Generalisir nih, tapi gue yakin akan ada beberapa cewe yang ngerasa ga sanggup dan akhirnya, akan minta tolong sama cowo. Terlebih nyalahin dengan bilang “Gimana sih lo kan cowo”. LOL. Entah sudah berapa kali gw lihat dan gue rasakan di kereta mba mba yang sehat walafiat minta duduk ke gua (yang gondrong, mungkin diliat preman kali ya) untuk “Minggir mas, saya mau duduk. Saya kan cewek”. Emang jadi cewek itu sebuah spesialitas ya?

Setau gue, menjadi perempuan itu spesial karena lo bisa menjadi seorang ibu. Lo bisa menjadi seorang yang mengandung manusia dan melanjutkan keturunan, kemudian membangun keluarga. Entah kenapa dengan this new age bullshit bahwa perilaku ewa ewi sana sini bodoamat terserah dia (ya emang terserah dia sih) TAPI mengembangkan perilaku gue nggak butuh cowo. Seperti, hah ..?

After all this pointless arguments, gue melihat the bigger picture. Dan bigger picturenya, drama remaja banget nih. Cewek, pada dasarnya, emang susah dimengerti. Sudah dipenuhi kemauannya pun, tetap mau hal baru untuk dipenuhi lagi dan berusaha koar-koar diri dengan poster dan long march agar masyarakat banyak yang sadar. Buat gue, women’s march hanyalah bentuk dari kebingungan cewe akan apa yang diinginkan lagi. What more do you want women? Lo boleh sekolah, boleh kerja, boleh ini itu, dan meskipun emang ada beberapa konteks yang belum mencapai point itu (dan itu yang seharusnya lo perjuangin, pemerataan pendidikan misalnya) – lo malah meminta hal yang aneh… Kayak, lo minta jalan di tempat umum untuk gapake BH dan mentil kemana-mana tapi nggak di judge atau diliatin orang sekitar. Ekstrem ya contoh gue, tapi you get the point kan. Ya, emang.. gabisa aja bersikap normal kalau lihat hal seperti itu.

Kenapa sih, nggak bisa saling menyadari kalau kita emang diciptakan berbeda? Nggak usah minta kesetaran, karena emang pada dasarnya kita beda. Emang perlu gue menuntut untuk diberikan cuti hamil yang mana cowo kaga hamil kan ya. Kenapa nggak berusaha berbicara soal yang lebih krusial?

Keadilan gender, misalnya ?
-
Come and get me bro. Got me ready to be called as a sexist, sjw, lalala lilili, pembenci wanita, apapun, serah lo deh. This society is a fucked up place anyway, where Indo kids are too scared to be vocal about their opinions while standing to it as well.

Semenjak Selalunya



Aku tidak pernah menginginkan kehidupan ini
Yang bohong, yang palsu, yang kadang membuat hati membeku
Aku jatuh terbingung akan segala hal yang terjadi
Meski bukan mauku
Tapi tetap kujalani

Sejujurnya aku masih berenang di kolam masa lalu
Terjaring "Bagaimana kalau?" Atau "Coba saja..."
Aku ingin berenang lebih dalam lagi
Hingga terjebak serabut memori
Hingga tidak dapat bernafas lagi

Aku ingin terbang tinggi
Lepas dari seluruh benci
Lepas dari seluruh tinggi
Tinggalkan masa lalu
Dan
Kembali
Menjadi lebih baik lagi

Jakarta, 10 Februari 2018