Berkerudung : Sebuah Dilema Antara Pilihan dan Kebebasan


Abshar Aryun
Ilmu Komunikasi
1506756242
Essay disusun untuk
LIMAS FISIP UI 2016

Tema yang diangkat : Bayang-bayang orde baru pada masa Reformasi
  


Berkerudung adalah hal yang cukup lumrah di Indonesia. Terdapat beberapa sebutan untuk kain penutup kepala tersebut. Hijab, jilbab, khimar, dan kerudung merupakan salah empat dari penyebutannya.  Terdapat tiga definisi kerudung: [1]
1.      Kain panjang yang dipakai wanita untuk menutup kepala, bahu, dan kadang-kadang wajah
2.      Rajutan panjang yang ditempelkan pada topi atau tutup kepala wanita, yang dipakai untuk memperindah atau melindungi kepala dan wajah
3.      a. Bagian tutup kepala biarawati yang melingkari wajah terus ke bawah sampai menutupi bahu
b. Kehidupan atau sumpah biarawati
Sebagai sebuah simbol agama, banyak penggunanya berasal dari Indonesia, negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Perempuan menggunakannya atas beberapa faktor. Agama islam memang memiliki suruhan bagi wanita untuk menutup bagian tubuhnya. Semuanya tertulis jelas dalam kitab suci Al-Qur’an, surat An-Nur ayat 23. Secara sosial, perempuan Indonesia yang mudah menunjukkan bentuk tubuh mudah dianggap sebagai wanita tuna susila. Dari sisi kebudayaan, perempuan islam yang sudah dewasa dianggap memiliki keharusan untuk berkerudung.

Pada masa orde baru, terdapat larangan terhadap pemakaian kerudung[2]. Melalui SK 052/C/Kep/D.82 misalnya, sebuah kebijakan yang mengatur seragam sekolah nasional. Ketika diimplementasikan, terdapat larangan terhadap pemakaian kerudung di lingkungan sekolah. Hal ini terjadi secara halus, namun dirasakan oleh masyarakat. Tidak hanya di lingkungan pendidikan, masyarakat yang masuk ke dalam jajaran pegawai negeri sipil juga menghadapi peraturan yang tidak jauh berbeda. Perempuan harus menghadapi peraturan larangan berkerudung. Jajaran kepolisian dan militer juga menerapkan larangan penggunaan berkerudung bagi para anggotanya. Hal ini pun merasuk kedalam kehidupan masyarakat, sehingga banyak institusi menyarankan agar foto ijazah mereka tidak menggunakan kerudung, dimaksudkan untuk mempermudah perempuan dalam mendaftar sekolah atau mencari kerja.

Sekulerisme yang dilayangkan kepada perempuan berakar pada satu hal. Penggunaan atribut keagamaan dianggap sebagai perlawanan terhadap sistem. Sistem pemerintahan orde baru jelas memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Sedikit saja perlawanan datang dari bagian sistem, maka mekanisme akan rusak, mengakibatkan runtuhnya sistem. Sebagai seorang pemimpin, tentunya Soeharto menyadari akan hal ini. Beberapa hal yang dianggap sensitif, berbahaya dan bisa menyulut api semangat perubahan berusaha diredam. Salah satunya, adalah agama.

Melalui pelarangan berkerudung, masyarakat khususnya para perempuan ditekan secara halus untuk tidak mengelu-elukan agama mereka. Dengan strategi konformitas, sudut pandang masyarakat dibentuk sedemikian rupa sehingga mereka yang tidak berkerudung adalah mereka yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik, kegiatan yang lebih menyenangkan, serta satu imej yang telah lama diperdebatkan: kecantikan. Hak asasi pun dikesampingkan, karena kebebasan berperilaku seperti berkerudung dinilai bisa membahayakan propaganda yang sudah disusun selama ini.
Pada masa reformasi, larangan tersebut pun diangkat. Baik secara tertulis yaitu hukum yang berlaku dicabut, maupun secara sosial budaya, masyarakat mulai meneriakkan gaung toleransi dan merayakan perbedaan. Pada saat itu, para perempuan pun bisa bernafas lega. Karena mereka bisa menggunakan penghalang kepala mereka dengan bebas tanpa takut tidak mendapatkan kerja atau penghidupan yang lebih baik.

Namun ternyata, muncul kembali sebuah masalah baru dari kebebasan berpakaian bagi perempuan. Bayang-bayang orde baru pun kembali muncul, pemaksaan masyarakat berperilaku sebagaimana mestinya, demi keberlangsungan kehidupan bernegara yang baik dan damai. Pemilik kekuatan kembali menemukan sistem perlu diseragamkan dan diikuti oleh setiap lapisan masyarakat.

Beberapa bagian dari masyarakat harus menghadapi pemaksaan penggunaan kerudung[3]. Pada sekolah negeri di beberapa daerah di Indonesia, mereka menerapkan peraturan wajib berkerudung selama bersekolah. Hari jumat setidaknya adalah hari yang diwajibkan untuk menggunakan kerudung. Kerudung menjadi sebuah simbol. Simbol dari penahan para perempuan untuk bersikap baik dan benar. Agar terhindar dari masalah sosial seperti kehamilan dan penggunaan narkoba atau pergaulan bebas yang semakin popular di kehidupan remaja, kerudung diharapkan dapat digunakan untuk menangkis kebiasaan tersebut.

Dengan penggunaan kerudung, perempuan diharapkan dapat berpikir dua kali sebelum bertindak dan melakukan sesuatu. Karena menjadi simbol agama, sudah pasti ada beberapa nilai dan norma yang terikat kepada para pemakainya. Ada peran tambahan yang perlu dijalani bagi para pemakai kerudung. Salah satunya adalah penjagaan sikap kepada lawan jenis dan menjaga diri sendiri dari perbuatan yang didefinisikan menyimpang, alias tidak konform. Dengan kata lain, kerudung dijadikan sebagai sebuah alat untuk membatasi kebebasan berekspresi.

Di daerah yang sebelumnya berstatus istimewa, Provinsi Aceh, menerapkan kebijakan yang serupa. Siswi yang menjalani sekolah dasar hingga sekolah menengah atas harus menggunakan kerudung. Setiap harinya, kecuali beragama non muslim. Sebenarnya, hal ini berakar pada penghindaran objektifikasi seks pada perempuan, khususnya mereka yang masih berusia sekolah. Larangan berkerudung pada masa orde baru pun bergeser menjadi pemaksaan berkerudung bagi para perempuan.

Lambat laun, budaya tersebut merasuk kedalam kehidupan masyarakat. Jika berpergian tanpa jilbab, perempuan muda Aceh dianggap seorang pembangkang yang tidak mau ikut aturan, dengan kata lain melawan sistem. Jika mereka melawan sistem yang terpengaruh besar oleh patriarki di masyarakat, relevansi pada masa orde baru dengan masa reformasi pun terasa besar: jangan melawan sistem, mekanikanya bisa hancur. Ikuti sistem dan berikan sebagian hakmu sebagai masyarakat, agar sistem tetap bisa berjalan lancar.

Identitas dibangun melalui interaksi sosial dan komunikasi. Identitas dihasilkan oleh negosiasi melalui media yakni bahasa[4]. Identitas diri adalah hak dasar yang perlu digaungkan keberadaanya. Kebebasan berkarya dan berekspresi merupakan anugerah yang tidak ada harganya. Pemaksaan dalam bentuk berpakaian dan berperilaku merupakan salah satu bentuk ketidak bebasan berekspresi. Dengan pemikiran dan pengambilan kesimpulan yang baik, berkerudung sudah kodratnya menjadi pilihan masing-masing individu. Perempuan memiliki hak yang sama dalam memilih apa yang mereka inginkan dalam hidupnya.

Berkerudung atau tidak, mereka tidak pantas untuk mendapatkan diskriminasi. Dilarang memakai maupun dipaksa menggunakan, setiap perempuan memiliki pilihan untuk menentukan jalannya masing-masing. Indonesia sebagai negara dengan ribuan gugusan pulau dan bermacam latar belakang perlu menanamkan satu nilai penting bagi masyarakatnya. Toleransi dan kebebasan individu dalam berpakaian sudah menjadi urusan masing masing, karena sistem bukan runtuh karena mereka menolak berpakaian sebagaimana sistem menentukan. Namun runtuh karena kelemahan yang ditemukan oleh bagian dari sistem tersebut.

 runtuh karena kelemahan yang ditemukan oleh bagian dari sistem tersebut.






Referensi
El Guindi, Fadwa. Jilbab : Antara Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan. Jakarta : Serambi. 1999.
(Diakses pada 11 November 2016, pukul 14.31)
(Diakses pada 11 November 2016, pukul 21.04)
Ratri, Lintang. 2011. Cadar, Media, dan Identitas Perempuan Muslim. Jurnal. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Volume 39, No. 2.




#GladToHear 35K on UI Idea Festival Closing









































35 K on UIF Closing
Vocals : Abary
Guitar : Joshua
Bass : Naufal WI
Drums : Fahransyah
Sax : Guntur
Keys : Aliza

setlist
1. Maliq - Terlalu
2. Maroon 5 - Sunday Morning 
3. Raisa - Serba Salah
4. The Groove - Khayalan

Photo Credits :
UIF Documentation Team

Hear us : https://soundcloud.com/abary/35k-on-ui-idea-festival-closing

Special thanks to :
DM Music Studio
Mamet as our Sound Man
Febiant, Thomas as our best bros
Pacar padaan, enak lo ya pada punya gandengan















Apalah Arti Sebuah Nama

16 Juni 2017
09.31 Pagi

Apa ya arti dari sebuah nama ?



Ide dari tulisan ini datang ketika Samsung meluncurkan kampanye Ramadhan mereka. Sebagai anak iklan, seru untuk melihat iklan dan kampanye baru. Seru untuk menganalisis iklan dan kampanye dari brand, mencari apa kekuatan dan kelemahan dari kampanye tersebut, serta ide yang mendasari kampanye tersebut.

Nama gue, pada aslinya terdiri dari dua kata. Abshar Aryun, yang berarti, Abary adalah nama buatan. Coba baca ini nah, dikarenakan kampanye terrsebut, gue jadi tertarik untuk mempelajari arti nama gue sendiri.

Setelah gue cari tahu lebih lanjut, nama Abshar merupakan kata yang berasal dari Bahasa arab dan perancis. Abshar adalah nama yang diberikan oleh orang tua gue ketika gue lahir. Kata mereka, nama gue artinya penglihatan. Nama tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa gue memakai kacamata sejak kelas 1 SD hingga saat ini. Sekarang, gue sudah minus 3 di mata kiri dan dua seperempat di mata kanan, ditambah silinder yang gue lupa pengukurannya, kombinasi yang membuat mata gue agak blur tanpa alat bantu kacamata.  Wah, udah 14 tahun juga gue pakai kacamata.. jelas lah gue ingin lasik. Mungkin kacamata gue sudah hampir lebih selusin kalua di jejerkan, antara ilang, rusak, pecah, dan lain-lain. Intinya, nama yang berarti penglihatan tersebut tidak berarti penglihatan yang sempurna pula.

Sedangkan aryun berarti putih dalam Bahasa sansekerta. Aryun bukanlah hal demikian, karena Aryun adalah singkatan dari nama ayah gue, Ahmad Ridha Joenoes (Yunus) yang disingkat Aryun. Namun ketika gue cari, ada arti untuk nama tersebut. Putih, hm.. ketika kecil gue memang putih bahkan seputih susu. Mami bilang, gue jarang banget main keluar rumah, sangat kontras dengan ketika gue SMA yang kerjaannya nongkrong diluar terus atau latihan dibawah matahari terik, membuat gue sangat gosong matahari dan putih tersebut memudar. Wajah gue juga bukanlah wajah yang bersih bersinar seperti mereka yang ada di sampul majalah, membuat gue semakin meragukan arti nama tersebut.

Tapi, apa sih sebenarnya arti dari sebuah nama?

Ketika gue bingung, gue pun berusaha melihat hal tersebut dari aspek yang lain. Misalnya, Abshar yang berarti penglihatan.  Gue memang belum memiliki penglihatan sempurna secara fisik, belum bisa memalingkan pandangan dari nafsu, belum bisa juga menanamkan konsep pandangan sebagai hal yang bermanfaat untuk diri sendiri. Gue berusaha sebisa mungkin untuk live up to my name. Pandangan, juga bisa berarti pemikiran. Berusaha memperbaiki diri dan mendewasakan pemikiran juga bisa berarti sama dengan menanamkan penglihatan yang bermanfaat bagi diri kita. Dengan memperluas pemikiran, yang juga berarti memperluas khazanah ilmu, juga memperluas pandangan akan dunia. Semakin banyak gue belajar, semakin banyak pula gue berusaha memahami akan dunia, hidup, dan berbagai macam hal lainnya. Hal tersebut, tidak bisa didapatkan hanya dengan sekelebat mata, namun datang dari pengalaman dan berbagai macam media pembelajaran.

Selain itu, mami pernah bilang ke gue kalua Aryun itu juga berarti suci. Gue jelas adalah seorang pendosa, yang belum berani untuk memperlihatkan kepada dunia bagaimana dosa-dosanay diperlakukan layaknya tokoh anak muda jaman sekarang. Tutupi aibmu bagaimana engkau menutupi rahasiamu, kata orang. I tried to live up to my name, tapi sepertinya memang sulit untuk terus menjadi orang yang bersih dan suci. Namun buat gue, putih bisa juga berarti kosong, bersih, dan tidak penuh. Bisa di isikan dengan berbagai macam hal, bagi gue, sebagai bentuk gue belajar, berusaha mewarnai sebidang putih. Hm, antara bisa dipercayai dan menarik ya
Well anyway, it is just a name anyway.


Tugas Kelompok Pengantar Desain Grafis (DKV 1)

Deskripsi Karya
Tugas Kelompok Matakuliah PDG (DKV 1)

Abshar Aryun – 1506756242
Vincentius Hino Saputra - 1506735616
Muhammad Fikri Aulia - 1506756583
Muhammad Ruswan – 1506756305

Penjelasan Karya
Disusun untuk memenuhi Tugas Kelompok Matakuliah Pengantar Desain Grafis (DKV 1)

Tugas Kelompok DKV 1 Abshararyun.com




Tema : Transportasi Umum (Kampanye Sosial)

Memiliki transportasi umum dengan sistem yang baik adalah impian lama warga DKI Jakarta. Mereka membutuhkan jawaban atas kemacetan yang semrawut, bagian jalan yang tidak seimbang, polusi baik udara maupun suara, dan bermacam faktor yang turut menjadi faktor menurunnya kebahagiaan masyarakat DKI Jakarta. Jawaban seolah datang ketika TransJakarta lahir pada tahun 2004 dan dikukuhkan sebagai sistem transportasi berbasis bus dengan jalan yang dikhususkan kepada TJ saja. Harga tiketnya dari waktu diluncurkan adalah Rp. 3500. Sekarang, tiga belas tahun kemudian, harga tiket TJ masih sama, namun TJ telah tersebar kepada empat belas koridor yang memenuhi DKI Jakarta, dengan bus pengumpan yang turut masuk ke pelosok DKI, serta bus wisata dan bus sekolah yang membantu mobilitas masyarakat urban.

Maupun jauh, maupun dekat, sebanyak 3500 rupiah hanya perlu dikeluarkan, sehingga dari sanalah kami mengambil ide dasar penyusunan desain. Frasa “Jauh Dekat x Rupiah” juga telah popular di masyarakat Jakarta, frasa tersebut sering ditempelkan di angkutan umum seperti angkot atau metromini. Tim ingin menunjukkan kearifan lokal budaya Jakarta pada desain dengan sentuhan TransJakarta sebagai solusi kemacetan DKI Jakarta.

Elemen desain dan penataan kami menitik beratkan pada head copy, yaitu Rp. 3500 yang mana, 3500 tersebut berisikan peta rute TJ yang mencakup daerah di Jakarta. Kata ‘Jauh’ dan ‘Dekat’ diletakkan pada bagian kiri atas dan kanan bawah untuk mengomplementasikan copy 3500 agar menjadi titik fokus desain (focal point). Kami menambahkan logo TJ, logo Pemprov DKI, media sosial dan kontak TJ, serta visual bus TJ agar kesan ceria dan menyenangkan dari desain bisa dicapai.

Kami menggunakan palet warna yang sama dengan palet warna TJ, yaitu biru muda dan putih. Palet warna ini kami dapatkan melalui riset kepada palet warna bus TJ yang bergeser dari warna sebelumnya yaitu merah dan putih, menjadi biru dan putih. Biru yang dominan digunakan adalah biru dengan shade muda, mendekati warna biru langit. Kami menggunakan palet warna TJ agar masyarakat dapat dengan mudah mengasosiasikan warna biru langit dengan TransJakarta, serta menanamkan brand image biru langit sebagai citra TransJakarta.

Pada tipografi, tim menggunakan font ‘HP Simplified’ pada seluruh copy desain. Tim memilih menggunakan font ini pada seluruh elemen copy karena font ini memenuhi kriteria ceria, dinamis, dan mudah dicerna seluruh khalayak, baik tua maupun muda, universal kepada seluruh pengguna TJ.
Kami ingin mengaplikasikan kampanye sosial ini sebagai ajakan kepada warga DKI untuk menggunakan TJ. Penggunaan transportasi umum secara komprehensif dapat megurai kemacetan dan mengurangi polusi. Menggunakan transportasi umum juga mendukung program pemerintah daerah dengan memberikan keuntungan kepada pemerintah daerah. Tim berharap, kedepannya TJ dapat meningkatkan layanan dan menambah jalur capaian TransJakarta, yang #KiniLebihBaik.


UAS Pengantar Desain Grafis (DKV 1)

Abshar Aryun – 1506756242
Deskripsi Karya
UAS Matakuliah Pengantar Desain Grafis (DKV 1)


Penjelasan Karya
Disusun untuk memenuhi UAS Matakuliah Pengantar Desain Grafis (DKV 1)


UAS DKV 1 Abshararyun.com



Billboard adalah judul dari UAS desain kali ini, masih dengan tema lama seperti UTS yaitu ‘gula jawa’. Berbeda dengan poster, ada lebih sedikit elemen yang digunakan dalam billboard, dan saya memilih untuk menekankan aspek fotografi pada karya desain kali ini.

Saya ingin mendapatkan hasil foto yang maksimal untuk desain kali ini, sehingga saya memotret dua potong gula jawa pada sebuah studio mini yang terbuat dari karton putih dan lighting datang dari senter handphone. Menggunakan kamera dengan lens macro, memotret gula jawa sebagai fokus utama desain. Ide desain sederhana, yaitu menyampaikan gula jawa tidak semanis gula lainnya namun melalui metamessage dan disampaikan secara humoris sehingga bisa menarik perhatian khalayak untuk melihat desain.

Untuk tipografi, saya menggunakan font ‘Caviar Dreams Pro’ dengan warna hitam dan warna merah pada copy ‘kamu’ agar kesan romantis dan humor bisa tercapai. Saya memilih menggunakan font ini karena saya masih bisa melihat bagian serius dan bagian komedi tersinkron dengan baik pada font ini.
Palet warna yang digunakan tidak dominan karena fotografi adalah elemen utama dari desain. Warna merah pada copy ‘Kamu’ saya berikan untuk menghindari kesan ‘warehouse’ yang membosankan dan sedikit membawa kesegaran. Warna juga datang dari foto gula jawa dan beberapa logo yang disematkan.

Untuk elemen desain, fotografi gula jawa disematkan sebagai focal point desain. Head copy sebanyak dua garis dialokasikan pada bagian tengah atas desain. Pada bagian kiri atas, logo halal, logo 100% Indonesia diberikan sesuai brief penguji. Pada bagian kiri bawah desain, logo pribadi disematkan sesuai brief penguji. Elemen yang minimalis digunakan agar pesan bisa tersampaikan dengan baik dan khalayak bisa menikmati desain dengan mudah


Gula jawa adalah sebuah rempah yang romantik, manis namun tidak memabukkan. Warnanya cokelat, meskipun tidak menggugah, namun menyimpan misteri bagi para pecintanya.