Jual Diri.


10 Desember 2017
00.25 Dini Hari
LANY bernyanyi sendu di speaker kamar rumah Joglo

-

Ada yang aneh hari ini. Ya, gue kembali menulis setelah sekian lama sok sibuk merintis karir musik sehingga menulis yang dulunya dielu-elukan sebagai obat jiwa ditinggalkan. Padahal, banyak ide menarik dan konsep yang seharusnya bisa ditelurkan menjadi produk menarik agar pembaca tidak meninggalkan blog yang pula sudah usang ini. Sayang, gue memang belum menempatkan menulis sebagai prioritas lagi. Meskipun sudah berusaha berkomitmen dengan uang yang diinvestasikan ke dalam pembayaran domain blog, gue tetap saja malas dan tidak ingin memeras otak berpikir agar produk ini bisa laku keras di pasar.

Pasar.
Pasar ?

Entah kenapa, gue sedang sering sekali mendengarkan kata tersebut dari berbagai macam pihak dari berbagai macam sisi. Karya musik yang dibuat oleh @tkptheband (band gue, red) harus mengikuti pasar - kata seseorang yang berusaha memberikan saran. Lain hal nya dengan si idealis, yang bilang kalau produk tidak boleh ikut-ikutan pasar sehingga karya jujur datang dari dalam diri. Meskipun diskusi ini sangatlah basi dan tidak berguna, (alias, biarin aja nggak sih siapapun berkarya sesuka hati mereka ) (tapi still, thanks a lot karena berarti kalau ada yang ngasih lo saran mereka beneran perduli dengan lo) kamu harus mengakuinya bahwa kita memang tengah jualan besar-besaran di era informatika ini. Semua demi digital marketing yang berhasil, berhasil, dan berhasil.

Jualan apaan? sukur kalau lo memang berdagang agar membantu orang tua di masa tuanya. Sayang seribu sayang, manusia yang udah mau menginjak jumlah delapan miliar di muka bumi ini memang membuat setiap orang ingin menjadi sesuatu. Berusaha menjadi someone yang dimengerti, didengar, dihargai dihormati, dicintai, disukai, et cetera - you name it. Kalau nggak eksis, berarti nggak laku, nggak berhasil, nggak bisa dikatakan sukses.

Dimulai dari pembentukan identitas diri yang dicitrakan melalui social media agar “Semua orang bisa lihat kehidupan gue sejak awal gue branding sampai sekarang gue yakin dengan branding yang gue ajukan”. Terutama dengan mereka yang hidup di kota, memiliki identitas yang diasosiasikan dengan kelompok amatlah penting. Insting hewani dalam manusia yang menyatakan kalau kita akan lebih aman apabila hidup berkelompok sangatlah berguna apabila individu masuk kedalam sebuah kelompok dan, semoga, bisa berfungsi dengan baik di dalamnya. Kelompok yang dekat dengan stereotip-stereotip tertentu : sport jocks, jejepangan, indie abis, komedian, anak gaul, dan lain lain, menjadi sedikit dari sekian banyak pilihan pengaruh yang bisa diproses sebagai pilihan sementara individu. Social media, adalah penggunaan yang sangat baik untuk menyebarkan informasi akan identitas yang lo pilih tersebut. Perilaku posting, visual, audio, tipografi… meskipun begitu sempit, namun hal tersebut seperti sangat menggambarkan perilaku manusia dibelakangnya
Satu, biar idup waras, lo harus dianggep ada sama orang lain.

Sekali hidup di era informatika, maka komunikasi juga digital arahnya. Bukan pantun, melainkan sebuah fakta yang benar-benar harus lo proses. Selamat datang ke sebuah era dimana cewek berani bilang cowok yang ajak dia kenalan langsung “creepy banget deh!” ketimbang ketemuan sama mas-mas tinder. Yah, apa sih yang bisa lo salahkan? Digital memang memotong banyak sekali jalur, salah satunya adalah cara lo berkontak dengan manusia lain. Komunikasi yang semakin mudah juga makin membantu lo jual diri agar manusia di sekitar lo semakin sadar dengan apa yang berusaha lo jual. Citra, brand, identitas, hal tersebut berusaha lo raih dan proyeksikan karena di kehidupan asli, nggak ada online disinhibition. Nggak ada ‘topeng sempurna’ yang bisa menutup kebahagiaan yang di pancarkan millennial kepada dunia luas melalui internet. Sekali jualan, tetep jualan. Capek? Ya namanya juga hidup di era informatika. Perlahan, dunia digital mulai keliatan membohongi lo, bukan?

Tunggu,
Abary
Lo mau buat UAS Pemasaran Digital atau nggak sih ?

-

Penjelasan Karya // 

Jual Diri adalah sebuah essay yang saya susun sebagai model karya untuk memenuhi UAS Matakuliah Pemasaran Digital. Essay tersebut merupakan sebuah model tulisan dari "Abary", seorang karakter yang berusaha mengkritik dunia digital sebagai bentuk pembohongan publik dan pengangkatan identitas diri sebagai sebuah komoditas.

= = = 

Sebagai seorang millenials yang ingin berhasil dan efektif menggunakan internet sebagai media pemasaran, Abary tentu akan memulai dengan menganalisis brand apa yang akan ia angkat. Melalui essay tersebut, ia memilih brand yang serius, selektif dalam berteman, constantly judging, dan diturunkan kedalam variabel “polisi skena” dimana ia menggambarkan diri sebagai seseorang yang selalu menilai orang lain menggunakan tolak ukur pribadi. Mungkin akan banyak pihak yang tidak menyukai dirinya, namun ia akan meneruskan untuk menelurkan sebuah produk yang menimbulkan perbincangan dan menjadi buah bibir agar blognya dapat menjadi perbincangan di setiap komunitas, atau bahkan menjadi perbincangan di dunia digital. Nantinya, ia juga akan menggunakan elemen dari dirinya sebagai nilai jual, seperti fakta bahwa dirinya adalah mahasiswa dari Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, dan lain lain.
Abary kemudian akan menurunkan variabel tersebut kepada dimensi-dimensi dibawahnya. Ia akan menggunakan social media dengan berhati-hati, tidak overshare, hanya melakukan posting foto bernada kegundahan hati atau isu kehidupan atau karya seni yang menggambarkan dirinya. Kemudian, ia akan banyak menulis di blognya mengenai kritik sosial yang dekat dengan dirinya. 
Abary pun berusaha menyebarkan konten dan produk yang ia buat kepada publik melalui kanal yang ia miliki dengan judul yang bernada tidak perduli dengan keadaan. Ia akan berusaha menyebarkan produk melalui sosial media dan sharing via teman yang ia miliki. Dengan menggunakan IMC sebagai strategi pemasaran digital untuk diri, blog dapat memiliki traffic dan bisa dilirik oleh pihak ketiga sebagai media yang menjanjikan untuk beriklan atau bekerja sama.
Abary berhasil menggunakan strategi pemasaran digital yang efektif, ketika ia berhasil memadukan strategi pemasaran dunia asli dengan menyesuaikan diri dengan citra dan brand yang ia pilih. Ia juga berusaha memaksimalkan strategi tersebut dengan mendorong karyanya melalui teknik-teknik pemasaran digital agar produknya dapat mencapai publik yang luas, hence, membangun profit kepada dirinya

=
Abshar Aryun 
1506756242

Pemasaran Digital kelas A

Disusun untuk memenuhi 
Ujian Akhir Semester
Matakuliah Pemasaran Digital
Departemen Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Universitas Indonesia

Mengerti Arti Dari Jatuh

12 Oktober 2017
09.58 Pagi

Hari ini, kelas Copywriting selesai cepat, pukul sembilan sudah selesai


Mengerti arti dari kegagalan adalah sebuah anugerah yang cukup sulit untuk dimengerti setiap orangnya. Ada mereka yang bisa dengan mudah memahami apa yang diartikan dari gagal, ada juga mereka yang sulit untuk memproses dan berusaha untuk terus menutupi kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan.

Mengapa tidak menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran?
Sudah bukan rahasia bahwa kita, semakin tua hidup, maka akan semakin sulit pula perjalanan hidupnya. Hal ini juga dikarenakan kita tumbuh dan berkembang menjadi semakin dewasa. Selain itu, kita juga semakin dewasa. Mendapatkan semakin banyak tanggung jawab yang dipikul pada pundak diri. Adanya juga orang lain yang menggantungkan hidupnya pada pundak kita juga menjadi tolak ukur akan diri.

Semakin dewasa,

Semakin sulit,

Semakin berkembang.

Ada yang menarik dari teknik setiap orang menghadapi masalah. Ada yang menarik dari cara setiap insan manusia memahami arti jatuh dan gagal. Selain kita bisa mencontek bagaimana mereka memahami dan menyelesaikan setiap masalah, kita juga perlu memahami mengapa dunia tetap berputar ketika masalah datang.

Please, man. Hidup jalan terus, jam jalan terus. Terus lu masih mau cengeng-cengeng nggak jelas?
Buat gue yang dibesarkan dengan cara ‘lo-mati-kalo-ngga-ngelawan’ menjadikan titik tangguh adalah salah satu poin terpenting dalam perkembangan diri. Selain harus tangguh (atau sok tangguh), menerapkan disiplin diri yang tinggi agar terlihat kuat juga wajib hukumnya. Terlihat, ya. Bukan sangat kuat. Sehingga, menampilkan diri sebagai persona yang tough sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Yah, at least keliatan strong kan.

Jadi,

Udah belajar lebih tangguh belum?

Atau at least, udah belajar dari gagal belum?

Beberapa Pengertian

Kapitalisme Menurut Kamus Oxford, Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri, dan alat produksi dikendalikan oleh sektor swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pada teorinya, pemilik modal boleh melakukan praktik pasar untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga pemerintah tidak melakukan campur tangan pada pasar demi keuntungan bersama, melainkan campur tangan pemerintah dilakukan secara sebesar-besarnya untuk keuntungan pribadi.

Contoh : Meriska berusaha membuka usaha di bidang catering untuk mencari nafkah, ia mendapatkan suntikan dana dari seorang investor. Selang tiga tahun, bisnisnya telah berkembang. Ia berencana membesarkan usahanya sehingga bisa dikenal seluruh provinsi hingga nasional.

Sosialisme menurut ensiklopedi Britannica, sosialisme adalah sebuah sistem ekonomi yang merujuk kepada alat produksi dan manajemen ekonomi yang dimiliki secara sosial. Pada teorinya, rakyat memiliki dan mengatur sistem ekonomi agar kesejahteraan Bersama dapat dicapai, dala praktek teorinya, dimiliki oleh negara.

Contoh : Desa Solokertajasa memiliki sawah yang digarap bersama oleh seluruh desa dan hasilnya dinikmati bersama.

Komunisme menurut ensiklopedi Britannica adalah sebuah ideologi yang filosofi, politik, sosial dan ekonomi yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat komunis, dimana tidak ada kepemilikan individu atas faktor produksi, dan tidak adanya kelas sosial, uang, dan negara di dalam masyarakatnya.

Contoh :  Negara Markisme menerapkan komunisme sebagai ideologi kebangsaan, sehingga semua faktor produksi dimiliki dan diatur oleh negara dan tidak ada ‘si kaya dan si miskin’.

Neoliberalisme menurut University of Oslo, neoliberalisme adalah sebuah paham ekonomi yang memfokuskan pada perdagangan bebas dan pasar bebas. Paham ini berusaha mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestic sebagai usaha menghindari korupsi dan gangguan dari pemerintah.

Contoh : Alvin adalah salah satu manager perusahaan TonyQ yang tidak ingin jajaran pimpinan masuk dalam pengambilan keputusan bisnis. Alvin ingin keputusan bisnis perusahaan diambil oleh Alvin sendiri dengan anggapan dapat memajukan bisnis perusahaan ke arah positif.

Perdagangan Bebas menurut Joyce Appleby, adalah kebijakan di mana pemerintah tidak menerapkan diskriminasi dalam praktik ekspor dan impor. Pada perdagangan bebas, ada sedikit sekali bahkan tidak ada sama sekali pembatasan perdagangan yang dilangsungkan.

Contoh : Area perdagangan bebas Uni Eropa memperbolehkan setiap negara melakukan pertukaran barang dan jasa dengan sedikitnya hambatan dari pemerintah.

Pasar Bebas menurut dosenekonomi.com adalah salah satu bentuk pasar dimana segala bentuk kebijakan baik harga maupun yang lainnya tidak memiliki patokan atau paksaan dari pemerintah ataupun pihak lainnya.

Contoh : Negara Arabica Kosta tidak menerapkan kebijakan harga eceran terendah pada industri farmasi.

Multi National Company / Trans National Company menurut Businessdictionary.com adalah perusahaan atau organisasi yang bergerak dan melangsungkan bisnisnya pada lebih dari satu negara dan tidak menetapkan satu negara sebagai ibu negara perusahaan. 

Contoh : Nestle melaksanakan bisnisnya pada lebih dari satu negara pada hapmir seluruh belahan dunia.

Referensi
Kapitalisme. 2014. Dalam Kamus Bahasa Inggris Oxford. Diambil dari www.id.oxforddictionaries.com
Sosialisme. 2010. Dalam Ensiklopedi Britannica. Diambil dari www.Britannica.com
Komunisme. 2010. Dalam Ensiklopedi Britannica. Diambil dari www.Britannica.com
Appleby, Joyce. 2010. The Relentless Revolution: A History of Capitalism.  New York: W.W. Norton & Company

http://dosenekonomi.com/bisnis/pengertian-pasar-bebas (Diakses pada 9 September 2017, pukul 22.20)

ditulis untuk memenuhi tugas Matakuliah Komunikasi Global
Bukan untuk keperluan akademis, dimasukkan kedalam blog setelah pertimbangan penulis sendiri
ada salah? berikan komentar dan mari berdiskusi

www.abshararyun.com

Terjebak Hujan

10 September 2017
18.56 sore

Wah sial, kejebak hujan di Margo City.

Mall nya kakak Depok dan umat disekitarnya ini emang kadang aajib kadang juga aneh. Gw bukanlah salah satu umat mall tersebut. Karena, gue udah muntah dengan mall di jakarta. Growing up, udah sering banget malam-mingguan-jadinya-ke-mall itu dijalankan. Nggak ada esensinya menurut gw, kalau lo ke mall. Kecuali, memang ada yang mau lo beli. Seperti tas atau sepasang sepatu baru untuk bikin kece di hari senin nanti. Dulu, gue sempat ngefans berat dengan mall karena bentuknya yang bagus dan rapih, udah gitu kalau kesana pasti belanja, courtesy of ayah dan mami. Pas pulang sambil masuk mobil masukin tas belanjaan, senyum senyum, dikodein mami baru deh bilang "makasih ya ayaaah..." Dengan senang hati dan ayah juga bilang sama-sama. Time flies, doesn't it

Selama dua hari mendekam di kosan bukanlah hal yang baik. Awalnya gue berencana nggak pulang ke Jakarta karena di hari minggu ini, gue mau lari di RunForiver - acaranya anak mapala UI. Kenyataan berkata lain, kaki gue luka. Di selangkangan pula. Jam 5 sudah bangun dan pakai track suit harus gagal lari karena ya emang gak memungkinkan untuk tidur. Terus ngapain dong? Ya tidur lagi lah

Setelah nugas dan kesepian, baru lah kerasa kalau "ih najis, idup gua begini amat sih". Asal kalian tau aja, kehidupan kutek di malam minggu sangatlah tidak enak. Sepi, sunyi, apalagi teman banyak yang pulang ke jakarta. Semua ajakan nongkrong satu persatu ditolak karena udah punya rencana masing-masing. Dongkol, lebih lagi ketika lihat keluar dan semua orang kerjaannya abis pulang pacaran. Gw ngga budak cinta yang butuh banget pasangan, sih. Si yayang turun duluan dari motor dan duduk dulu ninggu di depan kosan, setelah parkir baru mereka ngobrol lagi - ada yang diluar ada juga yang dibawa masuk kedalam kosan. Biasa, tapi kok ngeliat gituan semua bikin jengkel juga ya.

Namanya juga sendirian - di kos kosan

Setelah sore hari menjelang, gue memutuskan pergi. Ga enak amat di kosan aja seharian. Berangkat lah ke tujuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah emol alias margo city karena nggak punya tujuan lain dan memang harus belanja beberapa hal. Kang gojek pun datang dan naas malah kena ujan, awalnya gerimis lama lama jadi najis. Gedee banget, berangin dan badai sedikit. Ditambah bumbu dituruni ngga pas di depan pintu margo - alias harus jalan lebih banyak. Untungnya, firasat gue nggak salah untuk membawa payung. Sehingga gw bisa masuk ke margo dan langsung jalan secara annoyed ke dalam kamar mandi untuk langsung menyegerakan damage control. Celana dari lutut kebawah, semua basah.
Untung lagi pake baju biasa aja
Untung belom keramas
Untung make sendal
Untung bawa payung -

Setelah masuk dan belanja (yang langsung bikin happy kembali), stress pun hilang. Gw mau pulang cepat tapi hujan masih turun sedikit lebih banyak sisaan dari tadi sore. Menunggu di bawah atap gazebo, gue pasang lah headset dan soundcloud langsung resmi memutar trees and the wild. Sedikit hujan, gue pun meminjam korek dari orang sebelah dan membakar sebatang rokok. Entah kenapa, ketika lo membakar rokok di dalam gelap, ada yang seru dan indah dari hal tersebut. Campuran api dari korek, bara api dari rokok, asap yang sedikit keluar, dan nikmat tuhan (aduh, maafin gw ya Allah tapi emang ngerokok itu enak) dari emol yang menemani gw ketika terjebak hujan ini. Selagi bingung, maka tulisan ini pun lahir. Buah dari doa agar bisa cepat pulang dan kembali ke kamar kosan lagi.

Happines Is Only Real When It Is Shared

30 Agustus 2017
09.33 Pagi

Some may say, waktu makin cepat berjalan maka akhir zaman itu semakin cepat datang



Kebahagiaan.

Apa ya yang menjadi rahasia dari kebahagiaan itu sendiri? Apakah rasa kebutuhan mu terpenuhi, dinamika kehidupan menjadi satu , atau rasa puas akan sesuatu ? Dari sedikit contoh tersebut, gue belum bisa memberikan definisi kebahagiaan itu sendiri.

Beberapa orang mengira kalau kekayaan adalah jawaban dari kebahagiaan itu sendiri. True, even gue pun berpikir seperti itu. Gue merasa dengan kekayaan, hidup a la lavish seperti rakyat kerajaan dahulu, glamor dan bergelimang harta itu adalah salah satu tujuan dalam hidup gue. Simple. Gue merasa, dengan banyak uang tentunya kepusingan akan kekurangan materi bisa dihindarkan. Sudah menjadi hukum ekonomi toh? Kalau semakin banyak pendapatan, maka akan semakin sedikit pengeluaran, dan vice versa, sebaliknya pula. Nggak salah, gue akui di saat ini keuangan yang mumpuni adalah salah satu syarat hidup nikmat.

Yah, tetap saja buat gue yang juga menaruh kehidupan sosial sebagai salah satu kepentingan utama, teman dan nongkrong adalah salah satu kebutuhan terbesar gw dalam hidup. Nggak tau juga, mungkin karena pengaruh gue sebagai orang Aceh, kultur nongkrong dan ngobrol ngalor ngidul seperti sudah menjadi keharusan setiap harinya. Percaya deh sama gw, ketika lo suatu saat ke Aceh, hiburan malam hari lo adalah warung kopi, warung kopi, dan warung kopi. Kopi enak dengan rokok beserta puluhan teman barunya adalah tempat yang sudah tidak jarang berjaringan di Aceh, mungkin di setiap kota, mungkin juga di beberapa. Gue, merasa bahagia ketika gw nongkrong, hidup diantara banyak orang dan bertukar cerita baik sehari-hari hingga masalah yang tengah dihadapi.

Meskipun begitu, pertanyaan akan apa yang membuat seseorang bahagia itu tetap jadi pertanyaan bagi gue. Memang relative, tapi apakah dua poin diatas juga sama di mata orang lain?
Rasanya, kalau gw bisa menambahkan poin yang bisa ditulis adalah :


Tau gak film diatas? Filmnya bagus kok, bagus banget malah menurut gue. Bagaimana si tokoh utama tersebut (yang katanya true story, eh beneran true story deng) kaya raya, lulus dari kuliahan bagus, tapi krisis identitas dan perjalanan pencarian jati diri ke beberapa penjuru Amerika dan ketemu banyak cerita dari manusia yang dia encounter di perjalanannya. Agar nggak spoiler, coba tonton sendiri aja ya. Yang jelas, cerita tersebut menarik banget untuk diperkirakan lebih lanjut.
Tapi amanah dari film tersebut yang bisa gue ambil, adalah, kebahagiaan itu hanya ada apabila dirasakan secara Bersama-sama.

Hah? Apaan si?

Ya gimana ya, gue pun merasa seperti itu. Ketimbang makan super mewah di atas cloud (terus masuk angin gara gara kedinginan), gue akan jauh lebih bahagia kalau gue makan bungkusan warteg bahari isi nasi sama sayur 2 jenis seharga sepuluh ribu rupiah di dalam kosan tercinta – jika ditemani dengan teman-teman sambil ngetawain hal ga jelas. Ya sih makan di cloud gw bakal hepi juga, since kesana juga ga mampu beli makan, beli minum aja liatnya sebelah kiri bukan kanan (re: harga). Gue bakal hepi karena bisa jadi itu karena gua lagi budget pas pasan jiwa sosialita (BPJS) atau gue emang sukses dan menikmati hasil jerih payah gue, tapi entah kenapa the visualizing of me enjoying it alone bikin gue ngerasa ih najis.

Coba lo bayangin, makan sebungkus nasi dengan sayuran yang bergizi nan nikmat itu di dalam kosan, yang adem padahal diluar panas, yang ternyata juga temen-temen lo bikin lo ketawa bodoh ngga ke sensor, bakalan bikin lo jauh lebih bahagia. Dan itulah apa yang gue coba sampaikan di artikel kali ini. Kebahagiaan, itu hanya bisa lo rasakan ketika lo berbagi dengan manusia lainnya. Mungkin aja bisa lo happy ketika lo sendiri, tapi belum tentu itu adalah kebahagiaan yang real, benar. Alias, hanya sebuah bentuk hiburan dari diri lo untuk bilang “Ya, gue happy”.

Sometimes, indulgence could be a man’s bestfriend. Dengan adanya sesuatu yang dibilang bikin dia happy, kayak belanja, menjadi sebuah form bentuk aktualisasi diri dan selalu dilakukan tanpa pikir panjang. Selaras dengan prinsip dasar manusia, yaitu selalu ingin dimengerti, kita juga selalu ingin berakhir bahagia. Dengan tetap mengingat bahwa idup ngga Cuma happy happy aja, kita bisa, menikmati hidup juga dengan cara menyadari idup juga ada najisnya kadang kadang.


Santai aja, nikmatin, dan jalanin dengan positif, sampai lo ngerti bahwa kebahagiaan itu emang ada ketika lo bisa berbagi happiness lo dengan orang lain.