Hidup = Perjalanan

22.51 Abary 0 Comments

MUNGKIN kalian akan bingung setelah membaca judulnya. dan judul blog gue,dan bio nya. Sok gaul ya,sudahlah. kali ini gue mau bercerita tentang pengalaman gue yang,ya,cukup sedih sih bagi gue. mari kita simak bersama sama. 

Rabu lalu gue berkesempatan mengunjungi temen mama gue di rumah sakit pertamina. Temennya ini sakit yang cukup parah,di dalam hati nya ada nanah yang harus di keluarin (suction) jadi temen mama gue sudah berhasil dioprasi dan alhamdulillah keadaanya membaik,dia juga bisa bercengkrama sama mama gue dengan santai,dan ternyata menantu nya baru saja hamil. Alhamdulillah :D

Kembali ke cerita,gue pun salam ke tante yang gue lupa namanya itu dan singkat cerita sedang dalam lift perjalanan ke bawah. Saat itu,mama gue baru menyadari kalau dia ketinggalan dompet di kamar temennya. jadilah gue sendirian di lantai basement nungguin mama gue,karena gue males untuk naik lagi ke atas.

Saat itu gue masih ingat,gue jalan sedikit dari lift ke arah barat dan,ada ruang radiologi. gue coba mengingat ingat apa ruang ini.,seinget gue,radiologi itu buat scan bagian dalam tubuh. jadi karena gue juga bukan dokter,setelah google sedikit gue baru tau kalo radiologi juga alat yang bisa mendeteksi kanker. disinilah pertemuan gue dengan ibu ini terjadi.

Dia keluar. langkah nya gontai,wajahnya merah,rasanya ia seperti tenggelam di laut. tangannya gemetar memegang sebuah surat. baju nya masih gue inget adalah baju pasien,biru berikat tali di belakang badan. dia berjalan menyebrang koridor,ke arah dinding. ke depan dinding. dia memegang nya,meratap,dan berbalik badan. di koridor itu ada banyak orang yang berjalan. tapi entah kenapa waktu serasa berhenti saat dia memalingkan muka dan gue lihat mata nya secara langsung. 

Dia menangis.

..........


Setitik dua titik air mata mulai keluar,gue gabisa ngapa ngapain karena,gue cuma berdiri aja disitu. dia mulai gak kuat berdiri,memutuskan untuk duduk di kursi. sejenak ia melepaskan tangisanya,barulah ia menangis sekeras kerasnya. gue yang awalnya cuma pelanga pelongo pun jadi penasaran kenapa dia menangis. gue pun mendatangi dia,mencoba mengobrol dan mungkin bisa menghibur antara apa yang terjadi sama dia. gue datangin dan coba untuk bilang "ibu kenapa?" dia pun menjawab di sela sela tangis hebatnya itu "ibu kena kanker nak,kanker payudara"

Gue membayangkan kalau gue ada di posisi dia,gue pasti sudah berlari. berlari entah ke arah mana,apa ke arah jalan atau gimana. gue ga akan bisa menerima keadaan. kanker itu begitu sulit. tapi dia bisa tegar menghadapi nya. dia syok waktu divonis dokter setelah scan radiologi dan ct scan kalau ya,dia kena kanker. turunan dari ibunya juga yang kanker payudara. setelahnya,dia mulai meredakan tangisnya,dan mulai bercerita ke gue. kalau dia menikmati masa masa vonis kanker itu sendirian,mendengar kabar buruk itu sendirian,menangis sendirian,dan bersyukur karena gue ada untuk mendengar ceritanya. dia adalah janda,suami nya meninggal dalam kecelakaan mobil,dan anaknya sudah terlalu sibuk dengan hidupnya,begitu sibuk hingga tidak tahu ibunya kena kanker.

gue terdiam sejenak. dia memang sudah tidak menangis lagi. gue liat isi suratnya,ada tulisan "kanker,payudara"disitu. waktu berjalan sangat lama sampai ibu gue datang dan gue salam ke dia,berharap bisa bertemu dia lagi di lain waktu atau dia bisa bertemu dengan anaknya yang lama meninggalkannya.

gue pun bercerita ke ibu gue akan apa yang terjadi barusan,hal yang mustahil dipercaya,emang. seorang remaja mencoba nenangin ibu yang kena kanker. itu terdengar konyol,dan gue juga gak merasa menghiburnya. gue cuma mendengar ceritanya. dan gue sadar kalau hidup ini cuma sekali,enggak bisa di sia siain. hidup ini bisa jatuh bisa juga di hargain. gue sadar kalau foya-foya itu akhirnya cuma terjerumus,sadar kalau dia kena kanker dan siapapun bisa kena kanker,dan gue juga sadar,kalau hidup ini adalah perjalanan. sebuah perjalanan panjang,yang kadang gak semua orang bisa menempuh perjalanan itu. cuma beberapa yang bener bener berhasil melewati nya. dan dalam perjalanan itu,pasti ada rintangan,dan rintangan itu terserah kita mau kita loncati atau kita nyerah dan muter badan untuk gak ngelewatin rintangan itu. kalau semua orang nyerah sama tembok tinggi misalnya,dan cuma satu orang yang berani manjat dinding itu pake tangan kosong,99% orang lain yang nyerah itu akan berpikir dia gila,tapi ketika dia berhasil dan cuma satu satu nya yang bisa melewati nya,orang lain itu akan tercengang. dia berhasil mengalahkan dinding itu,dia berhasil menaklukkan perjalanan itu.


setelah gue bertemu ibu gue,gue pamit dengan dia. gue pun berjalan meninggalkan ibu itu,dan ketika gue menengok kebelakang untuk melihat dia,dia melihat ke ruang radiologi itu, kepalanya mendongak. tatapannya kosong,dan setetes air mata pun mengalir...

Post terkait

0 comments: