Pungutan huru hara

07.40 Abary 1 Comments

30 september 2013
07.37 pagi

Meningkatnya dollar berdampak buruk bagi ekonomi

So what?

Saya biasa meminta uang kepada orang tua,hampir dari berbagai aspek. Dari uang foto copy yang kecil dan murah sampai ngerengek rengek minta gadget baru berharga jutaan. Semua dibayar sengan materiil yang dinilai mutlak : uang. 

Selebihnya,saya masih oke oke saja dengan kondisi fiskal. Namun sekarang indonesia sudah menurun dalam perbankan. Hidup jadi mahal dan jakarta semakin sulit. Sebagai anak sma saya sudah merasa banyak dampak dari naiknya harga dollar. Kondisi ini di perparah dengan banyak ya permintaan uang

Uang buku,uang akuatik,uang atletik,fak. Tau begini dulu saya dukung alex noerdin aja jadi gubernur biar sekolah gratis segala hal. Sekarang bareng pak jokowi sekolah emang gratis,tapi beli buku seharga bayaran sekolah. Gak ikhlas.

Program program yang menguras duit macam pengambilan nilai olahraga juga menguras dompet. Sekali renang 50rb,satu semester bisa dua kali renang. Susah? Ya mungkin ini risiko persekolahan di jakarta,dimana hidup sudah tidak bisa murah lagi. Apalagi hari ini ada permintaan sedekah yang diharuskan. Sedekah. Yang diharuskan. Saya gak tau lagi harus komen apa,sedekah yang diharuskan 

Tentu saya bertanya penuh kesal. Uang apalagi? Uang terus ,sekolah macam apa ini? Dibalas dengan guru yang 

"kamu kebanyakan nanya"

Mungkin memang kita suatu negara demokrasi yang tidak terlalu demokrasi lagi.

Dan suatu negara kaya yang tidak terlalu kaya lagi. 

Post terkait

1 komentar:

  1. Demokrasi kyknya emg udh gaada kok. Di sekolah yg gak terlalu besar aja udh hampir gaada demokrasi, apalagi negara?

    BalasHapus