waktu, memberi ruang, untuk kembali

11.31 Abary 0 Comments

28 februari 2016
22.37 pm

Another day, another week, another time passes by. Waktu terus berjalan dan lambat laun membuat gue semakin bertambah usia juga dengan orang orang lainnya. Kali ini, grafik hidup sedang menunjukkan gue rasanya “roda dibawah”

Nggak perlu dipungkiri lagi, yang namanya hidup emang nggak selalu diatas. Gue sudah merasa senang senang nya jadi mahasiswa baru di semester lalu kemarin. Punya pacar, ikut basket, cobain tenis lapangan, dan lain lainnya. Tapi, yang namanya kesenangan gak akan selalu abadi. Akan ada saatnya ketika kebahagiaan itu ditarik dan diganti dengan kesedihan. Dan.. sepertinya ini saat bagi gue untuk merasakan rasanya dibawah. Rasanya semua orang mulai meninggalkan, rasanya left out, rasa gagal, rasa takut, dan lain lain. Kondisi ini diperparah dengan gue yang nggak suka curhat curhat ke orang. Ya.. untungnya ada blog sih. Tempat gue nulis gak penting dan nggak di judge siapapun (meskipun bisa dibaca public juga sih). Bagi gue, menggunakan topeng wajah bahagia di kehidupan sehari hari itu normal. Dan sangat mudah untuk dilakukan.

Kegagalan demi kegagalan sedang gue rasakan kali ini. Gue harus merasakan pahitnya gagal seleksi kejurnas. Hal yang sudah gue perjuangkan dari awal gue bermain softball. Gue sudah berlatih selama tiga setengah tahun dan harus gagal tanpa perjuangan sama sekali, di coret di awal seleksi. Apakah gue yang kurang berusaha? Atau memang gue bukan atlet yang berbakat? Mulailah, rasa bersalah menggerogoti batang tubuh gue. Nggak bisa apa apa, gue hanya bisa ikhlas, melihat teman dan junior sendiri yang gue latih sendiri, berada diatas gue

Sempat putus dengan pacar juga membuat gue cukup memikirkan betapa buruknya gue menjadi manusia. karena ego diri sendiri, gue harus kehilangan orang yang benar benar perduli dengan  gue. Tapi pun gue tetap berusaha untuk memperbaiki masalah tersebut, dan berhasil balikan dengan dia. Cuma berharap nggak akan ngelakuin kesalahan kesalahan bego lagi di masa depan.

Dan terakhir, baruu saja.. gagal masuk Himpunan Mahasiswa. Hmik bagi gue adalah target utama di kehidupan kampus. Departemen olahraga yang sudah sangat gue incar, nyatanya belum bisa menerima gue sebagai staff.



Kecewa?

ya Pasti.


Gue manusia, bukan hewan. Gue punya hati dan akal fikir. Gue harus merasakan gagal demi kegagalan dan tetap berusaha look ok dalam kehidupan sehari hari. Sangat, sangat capek. Nggak punya waktu untuk sedikiit aja merasakan kebahagiaan di hari kemarin. Gue pun bertanya kepada tuhan. Ya Allah, gue harus apa? Apa ini sanksi bagi gue yang jarang beribadah? Apa gue terlalu sombong kepada manusia manusia di sekitar gue? Atau gue memang bukan manusia yang berkualitas, punya saingan yang lebih baik dibandingkan gue?

Sanksi. Sedih. Kecewa. Takut. Malas. Capek. Nggak kuat. Apa gue selemah ini ya? Apa gue emang kapasistasnya se sedikit ini? Apa emang gue pas untuk ditendang sana sini?

Tapi tentu, gue tetap berusaha menjalani kehidupan sehari hari.

Mengambil pelajaran dari segala sesuatunya
Berusaha menjadi lebih dewasa
Dan mempelajari apa itu ikhlas

Dari kegagalan, kita dapat kesempatan untuk belajar. Belajar menerima. Belajar mengerti bahwa segala sesuatu terjadi, dengan garis takdir yang telah ditentukan. Belajar ikhlas.

Ikhlas

Ikhlas


Satu kata yang sangat mudah diucapkan tapi sangat sulit untuk dilakukan.


Tapi,gue sudah muak untuk menangis menangis lemah diatas penderitaan. Gue akan belajar. Learn from it! Berusaha menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Ini bukan kegagalan, hanya kesuksesan yang tertunda. Bukan saya yang rugi ditolak, mereka yang rugi menolak saya. Itu yang harus saya pikirkan, ucapkan, dan berikan pada tindakan pada waktu waktu kedepan.

Selama Kulihat Engkau Senang,
Yang lainnya kusimpan sendiri

Tulus, dalam Bunga Tidur


#gettingbetter

Post terkait

0 comments: