Teman dan Sahabat

10.08 Abary 0 Comments

20 juni 2016
09.53 siang, lagi gabut di kantor




dalam dunia ini,orang terdekat dengan kita selain keluarga dibagi dua. ada teman,dan ada sahabat. keduanya sama sama beneficial, sih. bedanya, kadar kedekatan kita dengan orang orang tersebut. teman bagi kita, mungkin sesekali oke untuk kita ngobrol kecil basa basi dan bisa kita ajak tukar pikiran tentang isu tertentu. pengetahuan kita tentang dia pun berbatas, baik peraturan hubungan, atau gimana kita handle masalah dan konflik dengan teman kita.

beda dengan sahabat, mereka kenal kita luar dan dalam. sahabat itu bagi gue nggak bisa tercipta dari beberapa kali pertemuan aja. pengalaman mengajarkan bahwa sahabat bisa ditemukan dimana mana, and i like to keep it that way. gue pernah begadang semalam suntuk dengan seorang teman ngobrolin hal sana sini dari gak penting sampe personal, dan akhirnya kita bersahabat. ada yang gue bertemu setiap hari tapi memang nggak sejalan dalam beberapa pandangan, sehingga kita nggak terlalu dekat sampai dibilang sahabat. itu normal, karena kesamaan dan frekeuensi yang berbeda gak semudah itu buat orang disebut sahabat.

semakin tua usia, gue juga semakin menyadari kalau dunia ini menyeleksi alam bagi kita kita, manusia ini. kita diberikan kesempatan untuk melihat siapa yang akan tetap di dunia kita, dan siapa yang harus pergi meninggalkan kita. itulah seleksi alam persahabatan. bukan, bukan kita yang jahat,tapi memang kita membuat pilihan dalam kehidupan kita.

faktornya ada beberapa. bisa aja karena lo udah nggak prioritasin dia lagi dalam kehidupan lo. faktor lain deh, misalnya karena dia nyinggung lo terlalu parah sehingga lo gamau ngobrol lagi. atau karena dia berubah dan memilih menggunakan sudut pandang yang berbeda. the chance are probably anything, dan lo perlu menerima hal tersebut agar lo memulai namanya proses pendewasaan diri.

meskipun sebenarnya, kalau lo menyatakan seseorang sebagai sahabat lo, lo akan berusaha sedemikian rupa untuk mengadakan dia di kehidupan lu. waktu itu ada, meskipun gak banyak - tapi apabila lo menej dengan baik, akan membantu lo dalam melihat siapa yang sebenarnya lo anggap sahabat. lo nggak perlu banyak ruang dan waktu untuk nentukan. cukup tanya aja ke diri sendiri, both brain and the heart : apakah gw mau menghabiskan waktu bersama dia?

tbh, sulit sih mengatur waktu di dunia dewasa ini. gw udah merasakan beberapa kali kehilangan orang yang gue dahulu, panggil sahabat. yah.. gue kira pindah stase nggak akan bikin kita kehilangan teman dekat. tapi ternyata masuk sma, masuk kuliah, dan lain lain semakin mempersempit ruang berpikir beberapa orang, dan sekitar kita. tapi, itulah tes bagi kita. karena nggak bisa egois, itulah pilihan orang lain, sayang. kita nggak bisa kritik, karena kita juga membuat beberapa pilihan dalam hidup kita. yep?

Gone with the wind

(tulisan ini draft, dan baru saja di susun kembali dengan ide penulisan yang berbeda)


Post terkait

0 comments: