Pelajaran Bagi Hati Kita Hari Ini

22.23 Abary 1 Comments

23 Juli 2016
21.19 Malam


( Bacanya denger ini yuk, biar lebih mendalam rasanya, ini )

Cinta adalah salah satu hal terindah dalam kehidupan. Merasakan cinta sama juga dengan merasakan kenikmatan hidupnya remaja. Hahaha, bener loh! Gue juga belum menemukan ‘cinta sejati’ yang di elu elukan oleh dunia sinetron dan pertelevisian. Tapi, ada kalanya gue merasa senang karena memiliki teman untuk berbagi cerita.

Punya orang yang disayang, tentu aja rasanya seru. Ada cerita yang lo bangun bersama dia. Ada momen yang lo bagi bersama dia. Menye ya? Gak kenapa kenapa dong, namanya juga orang Indonesia. Akan ada beberapa hal kecil yang mengingatkan lo pada momen kebersamaannya. Either itu sebuah lagu, sebuah tempat, tiket nonton film, foto, wangi beberapa hal, dan bermacam hal menarik lainnya.

Dunia memiliki jalan yang menarik bagi kita menemukan cerita untuk dibagikan. Kita mengalami cerita kita melalui berbagai hal. Gue contohnya. Gue bertemu pacar saat ini sangat aneh kalau dipikir pikir. Sama-sama diterima di Unpad juga, sama sama fikom unpad juga diterimanya, sama-sama berdekatan dalam mengambil kosan, tapi gue nggak yakin kita akan berpacaran meskipun kita berdua ambil kuliah di Unpad.

Ya iyalah ya?

Tetapi dunia, membawa kita berdua untuk ditemukan di UI. Sama sama ambil ilmu komunikasi, sama sama sekelas, sama sama nge kos, dan berbagai hal lain yang aneh untuk dipikir lebih lanjut. Katanya, “Serendipity” adalah faktor utama dalam hubungan kita. Kebetulan terlalu naïf, katanya.

Tetapi, nggak selamanya dong menjalin hubungan itu lurus lurus aja. Pacaran gue kali ini gue jujur bilang berat. Bohong lah kalau gue bilang kita ngga kenapa kenapa, kita baik baik saja dan lain lainnya. Selalu ada masalah yang membayangi kita secara langsung. Debat, beda pendapat, argument, sudah pasti juga jadi makanan sehari hari.

Kadang, ada kalanya gue cemburu ketika melihat pasangan lain. Ada dari beberapa teman gue yang berhubungan jauh lebih baik kelihatannya dari gue. Mereka jauh lebih fun, jauh lebih ketawa ketiwi, nggak berusaha sweet a la remaja pada umumnya. Apalagi, mereka tampak sangat enjoy dengan 
hubungannya. Gue pun berpikir, “kenapa nggak bisa kayak gitu, ya?”

-----------------

Tapi, suatu saat pun pasangan tersebut kandas.

Dan disaat itu lah gue pun sadar. Nggak ada hubungan yang sempurna, tetapi adanya hubungan yang didasari pilihan.

Maksudnya? Beberapa waktu lalu, gue baca screenshot tumblr di timeline salah satu media sosial chatting yang popular. Postnya biasa aja, sih. Tapi isinya cukup menampar hati. Gue pun, sebagai anak komunikasi, juga tersadar akan hal penting. Tentang fundamental dari sebuah hubungan.

Dari kelas yang penulis tersebut ambil di Benua Amerika sana, ternyata hubungan yang berhasil bukan hanya didasari oleh suka dan cinta. Suka dengan keras kepala seseorang, atau suka dengan cara dia memainkan rambut? Akan ada suatu masa, dimana kekerasan kepala tersebut muncul sebagai tanda dia nggak siap menerima pendapat orang lain. Akan ada suatu masa ketika cara mainin rambut yang dulu kamu selalu suka, ternyata berubah jadi hal yang paling kamu benci, sampai sampai nggak mau mainin rambut dengan cara yang sama.

Karena manusia selalu berubah, nggak mungkin mereka berada diam di posisi mereka saat itu. Rasa suka pun sama. Terus apa dong kunci dari berhasilnya hubungan? Kalau menurut post itu, sih – pilihan.

Ternyata, pilihan untuk berada tetap di hubungan tersebut adalah satu satunya hal yang mempengaruhi berlangsungnya hubungan itu. Jika kedua pihak sama sama memilih tetap ada di hubungan itu, baik cewek  maupun cowok, mereka lah yang akan saling berusaha agar hubungan itu tetap berhasil dan bekerja. Mereka akan berusaha agar mereka tetap bareng. Effort lah, kata anak jaman sekarang.

Sebenarnya gue sok tau banget ya ngomongin hubungan gini. Hahaha, gue pun masih berusia 19 tahun. Sangat muda dan sangat hijau, sama sekali nggak ada pengalaman di hubungan serius macam pernikahan. Yang pernah gue jalanin Cuma pacaran pacaran dan cinta monyet. Nggak ada maksud untuk sok mengerti tentang dunia percintaan yang kompleks.

Namun, salah satu pelajaran terpenting dari perjalanan gue beranjak dewasa adalah semakin kompleksnya hubungan antar manusia. Seorang teman baik yang gue tanya tentang hal ini menjawab dengan kita yang semakin menyadari bahwa kita, memiliki semakin banyak tanggung jawab. Baik personal maupun kepada lingkungan kita. Hal tersebut berbanding lurus dengan kompleksitasnya hubungan kita dengan orang lain. Makanya, gue kaget banget. Pacaran saat SMA dengan pacaran saat kuliah jauh berbeda, jauh banget berbeda.

Tanpa mengurangi rasa hormat pun, gue menutup tulisan ini dengan pelajaran yang cukup berharga. Setelah membaca post di timeline tersebut, gue tidak pernah melihat hubungan dengan cara yang sama lagi


----






(Music to match for : Danilla – Ada Di Sana dan Andira – Hanya Kamu )   

Post terkait

1 komentar:

  1. For two such smart people, we both can certainly act like idiots, can't we? :"

    BalasHapus