When Did You Lose Your Sense Of Wonder ?

18.55 Abary 0 Comments

31 Juli 2016
18.32 malam

Pagi hari di Menteng, Jakarta


How did I lose my sense of wonder?


Kemarin, gue datang ke sebuah acara yang bertempat di Ancol. Ketika waktu sore datang, gue pun harus pulang. Namun, karena nggak ada teman yang searah rumah dengan gue, gue pun memutuskan untuk naik Transjakarta. Nggak masalah bagi gue, karena gue sudah terbiasa mandiri menggunakan public transport sejak kecil.

Sejak kecil?

Yep, dulu ketika SMP, gue punya hobi yang cukup aneh. Gue senang pergi keliling kota Jakarta melalui Transjakarta. Dengan naik angkot dua kali ke halte kebon jeruk, gue bisa naik Transjakarta kemana saja. Awalnya Harmoni, minggu depannya ke Cililitan, ke Koja, Kalimalang, dan berbagai daerah lain yang sebelumnya gue hanya dengar di berita berita. Melalui jendela bus, gue membuka cakrawala dunia gue. Explore, mungkin itu salah satu kata yang tepat dari pengalaman tersebut.

Sehingga, gue pun berani melakukan hal hal sendirian di usia yang sangat muda. Gue bisa pergi kemana mana dengan mandiri, tanpa bodoh tapi ya, tetap waspada dengan lingkungan sekitar. Gue bisa berwisata ke kota tua sendirian ke Museum BI yang ternyata gratis sendirian. Sedih? Nggak juga, ternyata mulai dari situ gue bisa menikmati rasanya “Travel Alone” dengan baik.

Ternyata, sejak SMA gue mulai terjebak yang namanya rutinitas. Gue terbiasa dengan kenyamanan. Waktu latihan softball, kemudian sabtu dan minggu yang terserap habis untuk hura hura, membuat gue kehilangan waktu untuk eksplor kembali hal hal yang gue sukai. Gue suka softball, tapi gue pun kehilangan hobi gue: Keliling Jakarta pakai Transjakarta.

Sehingga kemarin pun, gue merasakan hal yang telah lama hilang tersebut. Dari Ancol, gue turun di Senen. Transjakarta sudah banyak berubah sekarang. Nggak kayak 5 tahun lalu, sekarang pelayanannya sudah jauh lebih baik. Koridornya sudah banyak. 13 dari 15 koridor terencana sudah dibangun. Ada bus feeder, informasi kedatangan bus, dan terintegrasi nya Transjakarta dengan moda transport public lainnya. Senang ya, ternyata inilah kesenangan tinggal di kota besar negara berkembang : selalu ada ruang perubahan.

Gue pun baru tau bahwa ada bus pengumpan dari Senen ke Lebak Bulus. Bodoh sih, hitung hitung dari senen gue bisa langsung Harmoni dan bisa pulang dengan cepat ke halte dekat rumah. Tetapi, jiwa muda gue terpanggil! Kapan lagi nyobain bus pengumpan? Gue pun naik, dan mendapatkan tempat duduk



Ada semilir sinar matahari yang masuk ke dalam bus

Bus berukuran sedang ini berhenti hanya di halte dan poin yang telah ditentukan melalui tanda berlogo Transjakarta (yang dianggap halte). Waktu menunjukkan pukul 05.30 sore, gue pun menikmati sore hari itu dengan beberapa wajah asing di bus. Malam minggu, mereka baru pulang atau ingin pergi ke suatu tempat ya? Gue pun nggak tau.

Ada anak yang bercengkrama dengan sang bunda, tersenyum secara audible karena gue menggunakan earphone. Si kakek sebelah gue yang tertidur dengan topi, gedung tinggi Jakarta yang indah ketika diterpa matahari sore. Belum lagi, ketika bus melewati lapangan banteng dan wajah wajah bahagia bermain dan menghabiskan sabtu sore mereka di taman. Meskipun macet di tol Cilandak, gue pun akhirnya bisa sampai rumah dan berterima kasih karena malam minggu gue kemarin, gue habiskan dengan sederhana.

Ada kalanya ketika kita bertanya kapan kebahagiaan itu datang ke diri kita sendiri, sebenarnya pula kebahagiaan itu sudah datang tapi belum kita sadari. Sejak kapan gue kehilangan sense of wonder gue? Apakah gue kehilangan rasa penasaran gue? Setelah gue menaiki bus kemarin, ternyata gue masih menikmati rasa tersebut, dan masih terus dijaga hingga waktu waktu nanti.


---

Jakarta indah juga ya, dengan segala wajah, kemacetan, warna, musik, dan cerita kehidupan di dalamnya, membuat gue yang anak-aceh-asli-jakarta ini bisa tersenyum manis.

Post terkait

0 comments: