Jadi Anak Karet

23.25 Abary 0 Comments

7 September 2016
20.32 Malam

Perjalanan kereta itu selalu menarik buat gue. Selalu ada cerita dibalik setiap orang yang berada di satu gerbong ini, menunggu untuk sampai di tujuan mereka dan menyelesaikan urusan mereka masing - masing



Setelah satu tahun berkuliah, gue, secara tidak resmi, telah menjadi anak karte. Sebenarnya, stasiun yang lebih dekat dengan rumah gue adalah Palmerah. Namun, stasiun tersebut dijangkau dengan kereta yang perlu transit lagi dari Tenabang. Sehingga, waktu yang gue berikan untuk transit tersebut kadang tidak sebanding dengan tiga ribu rupiah harga Go-Jek yang lebih murah.

Makanya, gue lebih memilih turun di Karet. Kenapa? Karena dari Karet dengan Palmerah yang hanya dibedakan dengan sedikit perjalanan, terdapat perbedaan yang naas banget. Wah gak percaya? Coba sesekali tunggu kereta menuju serpong dari tenabang sana. Biasanya keretanya penuh sesak sejak jam 4 atau 5 sore terus hingga malam hari, kemudian lo harus berdesak turun sebelum pintu ditutup. Beruntungnya, lo masih bisa merasakan kenikmatan stasiun Palmerah yang baru di renovasi sebanding dengan stasiun MRT. Namun, gue lebih memilih satu kali naik kereta dan bisa turun dengan tenang.

Di Karet, stasiunnya ada di dekat TPU Karet Bivak. Kalau sore hari gue pulang, pak supir Go-Jek suka melewati kuburan Karet, nah, itu adalah rute yang cukup menarik untuk dilewati.
Tidak hanya semriwing kalau malam, gue melihat kuburan sebagai tempat peristirahatan terakhir seseorang. Ketika sore hari lo melewati daerah tersebut, ada banyak momen yang bisa lo tangkap langsung. Minggu lalu, misalnya. Gue pulang Jum’at sore. Yang gue tangkap, ada yang baru saja dikuburkan dan cukup ramai. Kemudian, ada pelayat yang sedang mencari kubur dengan dua temannya, mereka masih remaja dan cukup semangat mencari kubur siapa dari cerita mereka. Ada juga pelayat yang berdoa namun ditemani dengan kehadiran pembersih kuburan. Mereka, membawa tujuan masing masing untuk datang ke tempat tersebut.

Syukur hingga sekarang gue belum perlu mendatangi kuburan secara rutin. Banyak sanak saudara gue yang telah lebih dahulu pergi dikebumikan di Tanah Aceh. Sehingga, gue hanya datang melayat ketika gue pulang ke kampung halaman, yaitu tiga hingga empat tahun sekali.

Menjadi anak Karet bukan berarti gue hanya menikmati sesi keheningan di kuburan. Namun, ada budaya kecil DKI Jakarta di tempat tersebut. Karet adalah pemukiman yang tengah dilanda pembangunan. Akan ada apartemen Casa Domaine yang sedang dibangun. Oh ya, gue dari kemarin terus terusan berdoa agar tiba – tiba ketimpuk rezeki dan bisa punya apartemen disana. But yeah, a dream is not wrong to be dreamt, right? Gue rasa Karet adalah pemukiman yang sangat enak untuk ditinggali. Tengah kota, namun tetap punya rasa rumah di sana.


Menikmati hal kecil seperti mensyukuri perjalanan saat ini di kereta sedang gue coba aplikasikan beberapa waktu akhir akhir ini. Bukan hanya ide tulisan, gue juga mulai menemukan bahwa kesenangan itu bukan hanya berisi materiil, namun juga menikmati striking conversation dengan orang baru, atau mencari bagaimana sesi kereta saat ini berakhir. Apakah gue juga akan membawa cerita baru di hari ini, atau berakhir dengan pulang di rumah dan menikmati tidur malam, tanda pengakhir kelelahan yang sudah mendera seharian penuh ini. 

Post terkait

0 comments: