Menjadi ‘Orang Baik’

00.50 Abary 0 Comments

27 September 2016
00.29 dini hari

Dibawah terangnya rembulan


Ada yang menarik dari pengalaman gue saat berkomunikasi dengan banyak orang. Pertama, ada berbagai macam tipe manusia untuk dijelajahi. Semakin banyak orang yang kamu temui, semakin mudah pula kamu mengerti akan kebutuhanmu dikelilingi oleh orang-orang yang memang cocok. Gue akui, semakin menua usia, gue juga semakin memperkecil lingkaran gue. Tidak lagi seperti gue di saat remaja yang selalu ingin banyak orang berada di lingkar pertemanan gue, saat ini gue merubah pandangan tersebut. Keep it small, but with a huge quality.

Kedua, ada kriteria tertentu dalam mengemudikan hal tersebut. yang sering sering disebut adalah kata ini, orangnya baik.

Sekian lama, gue semakin mempertanyakan, apa itu baik? Sudah pasti, dengan negara yang terdiri dari ribuan gugusan pulau, kita dari daerah dan budaya kita masing-masing memiliki artian orang baik bermacam-macam. Namun, ada sebuah kata universal untuk menggambarkan mereka yang memenuhi ekspektasi sebuah hubungan dianggap berlanjut atau tidak. Baik sudah seperti pandangan umum untuk menentukan apakah hubungan ini layak dilanjutkan atau tidak. Tidak, tidak hanya di hubungan romantis tentunya. Namun seluruh tipe hubungan, baik pertemanan, professional, apalagi keluarga. Sulit memotong hubungan dengan keluarga? Ada yang disebut dengan secara teknis, memilih diam.

Gue sendiri pun kadang merasa kesulitan mendefinisikan apa itu arti dari baik. Kadang, gue suka bertanya dengan orang disekitar gue. “Eh, gue baik nggak sih?” dengan jawaban yang yah, universal. “Baik kok” atau “Lo itu baik sih, tapi …” dilanjutkan dengan beberapa hal dari sang lawan komunikasi. Meskipun begitu, hal tersebut akan berbeda jawaban jika gue menanyakan hal tersebut ke orang yang sudah lebih dekat. Dengan jumlah investasi hubungan yang lebih tinggi, mereka jauh lebih berani mengeksplor jawaban ketimbang mencari aman. “Lo baik, Cuma suka cerewet dan sulit mendengarkan orang lain” salah satu contohnya. Mayoritas, tetap memilih menggunakan kata ‘baik’ sebagai tanda arti ‘kamu punya saya, saya setujui kamu jadi bagian dari hidup saya’.

Ketika gue berkesulitan mengartikan hal diatas, gue juga mengalami beberapa hal memahitkan dalam hidup. Karena kesulitan mengartikan kata baik, tidak jarang juga gue harus merasakan kehilangan. Ketika orang yang dahulu kita anggap penting di hidup kita, merasa kita tidak sebaik dulu lagi. Bukan peribahasa, ini hanyalah tanda realita bahwa memang, bukan hanya kita saja yang menutup semakin kecil lingkar pertemanan kita, namun orang lain pun, juga.

Seperti tangan bergetar, baik sampai sekarang masih belum bisa gue artikan. Apakah itu sering memberikan materi kepada sesama lingkungannya? Atau baik dalam arti mereka yang memenuhi ekspektasi? Apapun jawabannya, gue selalu menganggap ini adalah proses pendewasaan diri.
Proses pendewasaan diri ini adalah tanda bahwa gue semakin menapaki tahap baru dari hidup gue. Sebagai adolesens yang melewati proses transisi dari seorang remaja menuju dewasa, ini sangat berbeda dengan pubertas. Bukan hanya sulit, berbeda, tipikal, namun proses pendewasaan diri terdiri seperti maze. Ada belokan dan penutupan yang berfungsi memutar kita dan hati serta otak yang selalu berkelok-kelok. Meskipun begitu, maze ini seperti tidak pernah berakhir. Mungkin seperti labirin, ya? 

Ada pintu masuk, namun kamu perlu 4-5 tahun untuk tahu dimana jalan keluarnya berada.

Menjadi baik itu perlu, tapi jangan jadikan dirimu baik hanya agar orang lain menerimamu. Menjadi diri sendiri itu sudah sepatutnya selalu lebih baik. But yeah, still, semakin kamu membuka kelemahanmu didepan orang lain, itulah sisi dimana kamu bisa semakin diserang oleh orang lain pula.

Post terkait

0 comments: