#GoodToGo : Pesta Rilis Buku Kezia Alaia “Bicara Besar”

17.19 Abary 0 Comments

23 Oktober 2016
11.57 siang

Kemarin gue menyempatkan diri datang ke sebuah pesta rilis buku

Banner Pesta Rilis Buku "Bicara Besar"
Release buku ini merupakan pengalaman pertama gue. Datang ke pesta rilis buku, gue sempat bingung. Nanti akan ada apa ya? Pembahasan buku, atau pembagian buku gratis? Karena penasaran, gue pun datang.

Adalah Pesta Rilis Buku “Bicara Besar”, sebuah buku kumpulan puisi yang disusun oleh Kezia Alaia, seorang senior gue di Komunikasi UI. Kak Kezia mengambil peminatan kajian media dan terkenal cerdas serta pintar. Rilis bukunya berlangsung pada hari Sabtu, 22 Oktober 2016 pukul 16.00. Bertempat di Kinosaurus Jakarta, bersebelahan dengan Aksara Kemang. Sebenarnya waktu pada poster terpampang 15.00, tapi acara baru dimulai tepat pukul 15.45 sore.

Acaranya ternyata ramai dan penuh lho. Ada banyak perempuan di ruangan tersebut, dan ada berbagai usia dari yang muda hingga lebih dewasa. Acara dimoderatori oleh Kak Sabila Anata. Buku “Bicara Besar” ini merupakan sebuah kumpulan puisi yang mencoba meniliki bagaimana rutinitas sudah membunuh waktu kita bahkan untuk bicara dengan diri sendiri saja pun, tidak bisa. Padahal, bicara kepada diri sendiri adalah salah satu bentuk dari refleksi diri dan evaluasi diri. Sehingga, bicara terbesar bukan hanya berteriak, tapi juga berarti berbicara terhadap diri sendiri. Acara pun dimulai dengan diskusi antara moderator dengan penulis, bercerita tentang bukunya.



Suasana pesta rilis buku
Menurutnya, puisi itu sudah jauh dari kehidupan masyarakat sekarang. Banyak yang menganggap puisi itu kolot dan kuno, dan lebih memilih media lain seperti film atau musik ketimbang puisi. Padahal, perasaan dan kejadian sehari-hari bahkan bisa saja dijadikan sebuah karya seperti puisi.
Di buku ini, ada banyak puisi yang mengeksplor bermacam sisi kehidupan. Dari ketuhanan, keluarga, cinta, kebahagiaan, sedih, bingung, hingga anxiety atau kecemasan. Di sisi ketuhanan misalnya. Melalui puisinya Kezia menggambarkan bahwa agama sudah dipilihkan kepada kita sejak kecil. Kemudian saat beranjak dewasa, kita memiliki lebih banyak pilihan dan merasa sudah bisa berdiri di kaki sendiri. Sehingga, konflik pun terjadi antara yang dipilihkan dengan yang terpilih. “Salah satu puisi tentang ketuhanan adalah puisi berjudul ‘Sekolah Senin Sampai Minggu’” ujar Kezia.

Bukan hanya puisi, tapi buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi dari Reyna Clarissa. Hebatnya, Kezia sama sekali nggak kenal loh dengan Reyna. Ia hanya melihat karyanya di Instagram dan tertarik untuk bekerja sama. Ia pun mengontak dan berkirim surat elektronik dan bisa mendapatkan hasil kerjanya. Baru setelah beberapa waktu, mereka bertemu dan bisa berbicara langsung. Wah, lesson learned – untuk berkarya, lo nggak harus terus terusan sama teman dan zona nyaman lo,tapi ada orang yang bahkan belum lo kenal bisa lo ajak bekerja sama dan kolaborasi bareng.

Pemutaran video dari Reyna Clarissa

Acara juga dilengkapi dengan pembacaan puisi dari Indraswari Pangestu dari Nawasastra, Cyntha Hariadi, dan Rachel Amanda, aktris. Mereka membacakan dua hingga tiga puisi dilanjutkan dengan pembahasan puisi yang telah mereka baca. Ada puisi tentang anxiety, ada puisi tentang kencan pertama, dan puisi tentang kekeluargaan. Variatif, ya? Di akhir acara, ditutup dengan musikalisasi puisi yang sangat manis oleh Kak Desmonda Cathabel dan Kak Gala sebagai gitaris. Bagus sekali musikalisasinya

Pembacaan Puisi Oleh Indraswari
Pembacaan puisi oleh Rachel Amanda
Musikalisasi puisi oleh Desmonda Cathabel


Gue pun bertemu sama Bella dan Sarah Annida. Kita sempat ngobrol dan juga ngobrol sama beberapa tamu lain. Ada Bantet juga loh, si MC kondang FISIP. Gue juga berhasil masuk Vlog nya Gala (yes). Karena acara diselenggarakan di Aksara, gue sempat melihat buku dan baju yang terpampang dengan seluruh harga yang overpriced. Yah mau gimana lagi, ada beberapa orang yang senang dengan gaya hidup dan prestis yang didapatkan dari membeli barang tersebut.
Gue pun belajar banyak dari rilis buku pertama gue ini. Pertama, berkaryalah. Selagi muda, gue yakin kalian punya potensi besar. Jangan takut dan jangan merasa lo nggak bisa berkarya. Buat koneksi yang besar, cari tahu atau riset, beranilah, dan jangan lupa untuk bersenang senang. Kalau nggak berkarya, gue rasa nggak ada banyak manfaat dari kehidupan kita sebagai manusia. Berkarya bukan hanya lewat seni ya, tapi lewat seluruh bidang yang sedang lo tekuni sekarang, seriusi dan buat hal yang keren dari bidang lo.


Kemudian, jangan takut berkolaborasi bahkan dengan orang yang nggak dikenal sama sekalipun. Kak Kezia aja bisa ketemu sama ilustratornya yang lagi belajar di Amerika, tanpa ketemu sama sekali! Jadi, jangan takut kalau lo ngerasa nggak punya circle yang cukup untuk membantu lo berkarya. Asal lo mau, pasti ada jalan kok. Acara pun ditutup dengan makan cookies bareng dan main-main sembari ketawa di Aksara Kemang, Jakarta.


Post terkait

0 comments: