Puber (Bagian 1)

11.47 Abary 0 Comments

2 Oktober 2016
23.32 malam

Saatnya berbicara tentang sebuah masa yang penuh cerita : puber



Pubertas menurut gue adalah sebuah masa yang sangat penuh dengan cerita. Ada faktor tertentu yang membuat masa ini sangat susah dilupakan. Ya jelas lah, dilewatinnya aja sulit. Meskipun begitu, gue ingin menulis ini karena bagi gue, ini bukan hanya sebuah masa. Tapi juga sebuah isu yang dekat dengan diri gue dan gue rasa, dengan banyak orang. Pubertas bukan hanya membantu gue lebih mengerti sisi lain hidup, tapi juga membuat gue menjadi diri gue saat ini. Makanya, gue mau bikin seri dari tulisan ini. Mungkin ada dua, atau mungkin juga tiga bagian. Jadi, ini dia cerita puber dari AbsharAryun.

Hmm.. buat gue apa ya? Puber itu special sih. Bukan hanya perubahan fisik ya, tapi ada masa yang tidak akan bisa diulang. Secara sains, puber dimulai untuk laki-laki pada usia 12 hingga 18 tahun. Berarti, dimulai ketika gue masuk SMP dan berakhir ketika gue lulus SMA. Sebelumnya, gue memberikan cerita ini bukan untuk menjatuhkan pihak lain, mencari perhatian, atau membutuhkan validasi. Bagi gue, berbagi pengalaman melalui bercerita via tulisan adalah cara gue berkarya. Dan semoga saja, dengan tulisan ini kita semakin baik dan berbudaya dalam kehidupan sehari hari.
Ketika masuk SMP, gue menyadari mulai ada yang berubah dari diri gue. Pertama adalah nafsu makan gue yang semakin tinggi. Gue semakin sering makan, entah kenapa. Gue juga jadi semakin senang bergerak tapi juga tidak banyak berkeringat, sehingga pada masa SMP gue mengalami overweight. Padahal pada kelas tujuh, gue masih di bilangan angka normal, namun pada masa kelas dua SMP timbangan gue mulai meningkat secara drastis dan gue juga tidak memberikan usaha yang signifikan untuk menurunkan berat badan gue.

Ketika masuk SMP, gue masuk ke sekolah islam yang punya nama besar dengan yayasan yang cukup di kenal di bilangan blok m. Sekolah gue sebenarnya cabang, dan gue berasal dari SD yang juga bersebelahan dengan SMP gue. Sehingga, kebanyakan anak dari sekolah gue adalah juga teman lama di SD gue. Karena berada di sekolah islam, gue terbiasa untuk tidak melihat aurat. Rambut, lengan cewek itu sangat jarang gue lihat. Kegiatan gue pun tidak banyak, gue sempat mengikuti OSIS dan jadi wakil bendahara satu di osis smp gue, sibuk juga ya ternyata..

Pelajaran SMP juga ternyata susah susah gampang ya. Gue pun memutuskan mengikuti les tambahan yang cukup dekat dari rumah gue, yaitu di bilangan universitas Mercu Buana. Disana, gue mulai belajar bagaimana caranya bawa motor. Padahal masih usia 13 tahun ya, tapi udah sempat bawa kabur motor abang untuk dibawa ke tempat bimbingan belajar. Hahaha, untungnya waktu itu gue nggak ada kejadian yang parah atau kecelakaan, karena kalau iya sudah pasti gue nggak boleh bawa motor sebebas sekarang.

Kemudian naik kelas dua, gue masuk ke kelas yang homogen, alias diisi oleh cowok semua. Nah ini merupakan pengalaman baru bagi gue karena sebelumnya gue belum pernah berada di kelas dengan format seperti ini. Sebenarnya ini juga merupakan program percobaan dari sekolah gue untuk memisahkan antara cowok dan cewek pada pembagian kelas. Nantinya, program ini ternyata kurang efektif untuk belajar mengajar. Sehingga hanya berjalan setahun dan pada saat gue kelas tiga juga dikembalikan ke awal mula yaitu kelas yang campur.

Di kelas homogen ini, gue yang nggak terbiasa berada di lingkungan penuh cowok juga sempat kagok. Hampir sama seperti lingkungan olahraga, maskulinitas yang digabung dalam suatu ruangan hampir sama dengan hukum rimba. Yang kuat, yang berkuasa. Yang lemah, yang tidak bertahan. Kalau pelajaran olahraga, gue yang saat itu sangat lemah dan benci olahraga sudah pasti paling bodoh dan nggak punya kemampuan bermain. Sepak bola, basket, atau atletik dasar gue nggak bisa ikutin. Seragam olahraga yang sudah dibeli di ukuran xl pun semakin ketat karena kian hari gue malah semakin membesar.

Besar, hitam, namun tetap bisa bahagia


Cyberbullying juga sempat gue rasakan. Sampai sekarang gue masih bisa mengingat bagaimana bentuk penindasan melalui dunia digital bisa berdampak dengan sangat besar di hidup seseorang. Meskipun begitu, gue juga mendapatkan tindakan bullying juga di kehidupan asli. Sifat gue yang klemer-klemer atau lenje, dicampur dengan gue yang cengeng dan mudah menangis, serta badan yang sangat besar dan overweight membantu gue untuk semakin menjadi target penindasan. Penindasan verbal sudah gue rasakan setiap hari, namun ketika penindasan berubah menjadi penindasan fisik, ketika itulah gue merasa muak dan mengakui gue butuh bantuan. Meskipun sulit dan menjadi lembaran hitam di hidup gue, gue terbiasa menutup rapat cerita ini dari orang yang gue baru kenal pada masa selanjutnya di hidup gue. Namun saat ini, gue belajar satu hal berharga dari masa puber gue saat itu. Mengenai penindasan, gue belajar kalau kita nggak bisa lenje dalam menjalani hidup. Dalam kehidupan, gue belajar kalau setiap orang memiliki rahasia dan bagian hidup yang ingin mereka sembunyikan dari orang lain. Dan itu sepenuhnya hak mereka. Bukan kita yang menentukan apa yang perlu kita ketahui dari orang tersebut, if it is a secret, than it is no more than a secret.

Berhasil naik ke kelas tiga, gue pun mulai disibukkan dengan kegiatan penambahan materi dan persiapan ujian nasional. Disaat inil ah gue mulai mengembangkan minat gue di dunia bisnis dan bakat gue dalam dunia hiburan. Gue mempelajari cara membangung sebuah stasiun radio online, belajar siaran radio secara otodidak, serta belajar memanage keuangan perusahaan dengan pemasukan dan pengeluaran yang meskipun sedikit, gue juga belajar banyak dari pengalaman berharga ini. Gue masih membenci olahraga, tapi gue bisa lulus dari sekolah ini tanpa nilai cacat sedikitpun, apalagi pelajaran olahraga. meskipun biasa saja, tapi gue tetap bisa lulus dengan nilai pas pasan, ya apalagi, di pelajaran olahraga.

Karena memberikan target yang tinggi serta arahan yang baik dari keluarga, gue berhasil diterima di sekolah unggulan di Jakarta Selatan. Gue menjadi satu satunya laki laki dari sekolah gue yang dibilang lenje, klemer-klemer, dan lain lain ke sekolah yang imejnya penuh dengan buruk dan bandel. Satu dari lima orang teman gue yang berhasil masuk ke sekolah tujuan hidup gue selanjutnya. Meskipun berat, ada masa manis yang gue ingat dari puber tahap pertama gue saat ini. Cinta pertama misalnya, dengan cewek kerudungan yang polos. Atau mulai menemukan sahabat, misalnya.


---

Dengan pengalaman ini, gue jadi lebih menghargai hidup. Ada kalanya kita bingung kenapa kita berada di masa yang dead end alias buntu tanpa jawaban lebih lanjut. Menurut gue, lo perlu lihat lagi ke belakang dan pelajari apa yang membuat lo saat ini berada di tempat lo. Ketika lo melakukan apa yang sudah gue lakukan seperti diatas, lo mulai mensyukuri apa yang lo miliki dan bisa meruntuhkan kebuntuan jalan yang lo rasakan. Setidaknya, itu bekerja sih buat gue. Nggak ada salahnya untuk mencoba bukan? 

Post terkait

0 comments: