Seperti Kapal.

02.38 Abary 0 Comments

14 Januari 2017
02.13 dini hari

Saya berdiam di dalam kamar pada dini hari, sebuah kesempatan yang jarang ditemukan di rumah kost


( Tulisan ini datang idenya setelah membaca penjelasan mengapa Banda Neira bubar di sini )

Tulisan ini akan didukung pengalaman membacanya dengan mendengar lagu Banda Neira - Sampai Jadi Debu

Ada yang menarik dari perjalanan hidup setiap orang. Kadang kita tidak mengerti poin apakah yang membuat perjalanan tersebut menarik. Namun terkadang, kita bisa melihat dan menarik kesimpulan. Oooh, begitu toh, yang membuat hidupnya menarik. Baik itu perjuangan dalam hidupnya, positivismenya, maupun cara seseorang menyisir rambut.

Kita sering kali menemukan bagaimana perjalanan hidup seseorang terlihat menarik di mata kita. Namun tidak sering pula kita tidak menemukan titik penting dalam kehidupan kita. Sebagai manusia, sudah sewajarnya untuk kita melihat kebawah dan belajar. Belajar dari berbagai hal agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Meskipun sulit, hal tersebut perlu dilakukan.

Setahun lalu di 2016, saya adalah pribadi yang mengalami hal tersebut. Perjalanan hidup, yang bisa dibilang cukup menarik. Setelah beberapa tahun menekuni dunia penulisan, ternyata dari dunia inilah saya bisa menarik beberapa pelajaran penting dalam kehidupan, seperti poin yang saya sebutkan di atas misalnya, belajar dari pengalaman. Melalui refleksi diri, saya bisa berkata hal tersebut sama seperti pisau berbilah dua – kadang menghunus api agar kita menjadi lebih cepat, atau kadang menggorok leher sehingg kita harus berhenti dan menangis.

Bagi saya, kehidupan bisa dikatakan seperti kapal. Pengandaian ini memang sering diucapkan oleh banyak tokoh, namun saya merasa hal ini memang tepat untuk menggambarkan kondisi demikian. Kapal pergi dan mengarungi lautan dengan gagah berani. Meskipun terombang-ambing, kapal masih gagah berdiri, berjalan mengarungi lautan agar kehidupan manusia-manusia yang menaikinya tetap berjalan sesuai rencana.

Jika kapal yang ditunggangi, sudah pasti kapal tersebut disetir oleh seorang nahkoda. Dengan mengarungi lautan yang tenang dan tidak memiliki banyak tantangan, dari sanalah sang nahkoda tidak akan memiliki pengalaman yang cukup dalam mengarungi lautan yang ganas. Seperti kehidupan, kita tidak akan menjadi seseorang yang kuat jika kita terus-terusan mengarungi garis yang lurus.

Keputusan saya untuk mengurangi frekuensi menulis ternyata berefek besar dalam kehidupan saya. Saya tidak lagi memiliki tempat untuk menuangkan ide dan suara saya kedalam sebuah karya. Hal tersebut merubah saya menjadi manusia yang tidak saya sukai. Besar saya katakan, 2016 bukanlah waktu yang baik untuk saya. Ada banyak penolakan, pengalaman buruk, tangisan serta dosa dan akibat yang perlu ditanggung oleh saya. Sama seperti Ananda Badudu yang termakan ekspektasinya sendiri dalam menulis albumnya agar orang lain juga menangis, saya seperti termakan dengan doa saya sendiri, dengan ekspektasi saya sendiri –

Ada bagian dalam kehidupan ketika kita harus menjadi yang terbawah. Ada bagian dari kehidupan ketika kita harus berhenti dan menangis, melihat bagaimana orang lain terus menanjak jauh dan beranjak pergi meninggalkan kita. Ada bagian tersebut dalam kehidupan masing-masing manusia, ketika kita menjadi yang terbawah, itulah rock bottom. Tidak heran memang, melihat pada tahun 2015, saya merasakan bagaimana kehidupan di atas itu disebutkan, alias, saya merasakan banyak sekali anugerah.

Ternyata, saya sudah beberapa kali merasakan pengalaman tersebut. Entah harus saya syukuri atau tidak, namun pengalaman tersebut membawa diri ini kepada arah yang mulai tergores wujudnya. Seperti teka-teki, setiap terpaan membuka kembali jalan yang baru. Pengalaman tersebut membawa saya menjadi diri yang sebenarnya, saya suka. Badai telah membentuk diri saya menjadi orang yang tidak takut untuk berdiri tegap. Badai telah menendang dan melempari saya dengan bermacam panah dari segala penjuru, namun sekian bertambah usia, panah tersebut terpatahkan. Seperti menjadi rindu, dibuang, dan tidak lagi menancap terlalu dalam.

Air mata memang mahal harganya. Namun hal tersebut bisa menjadi bukti perjuangan manusia. Di dalam kapal mereka masing-masing, manusia menggoreskan perjalanan mereka menggunakan air mata tersebut. Menandakan apa yang sudah mereka berikan, dan apa yang sudah mereka perjuangkan. Ya, betul. Kita bisa patah, tapi kita tidak akan hilang. Kita tidak bisa kalah dengan badai, karena badai tersebut pada akhirnya, akan membantu kita, menemukan titik perjalanan hidup untuk ditertawakan kembali.



Post terkait

0 comments: