Berani Untuk Memulai

23.51 Abary 0 Comments

9 Maret 2017
23.40 Malam

Keberanian itu datang dari diri kita sendiri



Sebagai seorang anak bungsu, gue terbiasa dibesarkan dengan beberapa macam hal. Sebutlah saja itu dibiasakan dimanja, dilihat seperti anak kecil, dipandang remeh dan tidak bisa melakukan sesuatu, dimanja (lagi), dan bermacam pengalaman-pengalaman lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, dengan status gue sebagai seorang anak bungsu memang memberikan warna tersendiri dalam pengalaman gue. Bungsu bukan berarti tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bimbingan orang lain, namun entah kenpa terlihat seperti itu. Ada satu hal yang gue pelajari dari pengalaman tersebut. Berani, adalah salah satu hal penting untuk dimiliki seseorang.

Keberanian itu nggak datang secara instan, tidak juga secara tiba-tiba. Gue merupakan seseorang yang nggak-tahu-disebut-berani-atau-tidak. Gue nekat belajar mobil sendiri dengan teman, sedangkan ketiga kakak gue diberikan bimbingan privat oleh ayah gue dengan disiplinnya yang kolot. Gue belajar mobil karena terpepet, usia 19 tahun dan belum bisa belajar mobil sedangkan gue seorang cowok. Nggak mau ambil pusing, gue pun berani nekat untuk bawa mobil ke jalan raya.

Ternyata? Ya susah, sih. Gila, nekat juga ya gue. Bawa mobil dari Joglo-Senopati dengan mobil berisi 4 perempuan semua. Tapi kalau gue nggak bawa mobil itu, mau ditaro dimana coba muka gue.

Tapi itu yang bisa gue sebut sebagai pengalaman keberanian. Berani memulai itu dibutuhkan. Apalagi gue melihat sekeliling gue saat ini nggak memiliki banyak keberanian untuk memulai sesuatu. Kalau ngobrol, tentu kenceng. Mereka punya ide dan konsep yang sangat baik, oke sekali, dan bisa dibilang cemerlang. Tapi untuk berani melakukan hal hal tersebut, gue rasa mereka belum berani memulai.

Entah kenapa yang menyebabkan mereka tidak mau mencoba meloncat kepada takdir. Mungkin mereka tidak ingin melihat seberapa dalam lubang yang mereka akan jatuhkan diri. Mungkin juga, mereka belum siap menerima perbedaan nilai dan peran yang terjadi ketika mereka meloncat. Either way, keberanian itu belum datang, dan mungkin nggak akan pernah datang kalau kita hidup segan, mati pun tak mau. Berani memulai, serius deh. Kalau nggak sekarang, mau kapan lagi?


Meskipun terkadang bisa terlihat remeh bagi kita untuk menjadi sebuah pencetus, alangkah baiknya untuk kita juga, menjadi seorang pembelajar.

Post terkait

0 comments: