Tujuh Puluh (1)

02.23 Abary 0 Comments

7 Mei 2017
00.33 Malam Hari
Ketika gue ditanya dimana tempat gue menghabiskan masa SMA gue, banyak wajah yang kaget


Bagi yang belum tahu, gue menghabiskan masa sekolah menengah atas gue di sebuah SMA negeri di Jakarta Selatan, bernama SMAN 70 Jakarta. Gue tidak pindah dari sekolah tersebut, selama 3 tahun penuh menghabiskan masa pendidikan disana. Gue masuk di jurusan IPS, gue mulai jadi anak IPS pada kelas sepuluh semester dua, lebih cepat satu semester dibandingkan sekolah umumnya dengan kurikulum 2006.

Sekolahnya itu, berada di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Dekat dengan terminal Blok M, sehingga 70 banyak dilalui oleh bus kota. Sekolahnya juga sangat strategis menurut gue, berada di dekat mall Blok M Plaza dan daerah Jakarta Selatan lainnya seperti Kemang, Senopati, Kebayoran Lama dan Baru, serta Radio Dalam. Kalau sekolah lain yang berdekatan , 70 berdekatan dengan SMAN 6 Jakarta, Labschool Kebayoran dan Al Azhar Pusat.

70 adalah sebuah sekolah yang besar menurut gue. Ketika diawal gue masuk sekolah ini, ada tiga lapangan di sekolah, dua buah gedung dan sebuah masjid. Tanahnya besar banget, dan rindang dengan banyak pohon. Ketika masuk, di sebelah kiri ada sebuah lapangan, di sebelah kanan juga ada lapangan. Keduanya lapangan multifungsi bola basket dan futsal, tapi lapangan di sebelah kanan lebih besar sedikit. Agak lurus, ada lapangan rumput hijau yang nantinya dibangun lapangan softball mini, yang menjadi kebanggaan karena mungkin hanya satu satunya sekolah negeri di Jakarta yang punya lapangan softball meskipun mini. Di sebelah lapangan sebelah kiri, ada wall climbing yang bisa dipakai untuk latihan memanjat, mirip dengan yang sering digunakan para pecinta alam.  Sedikit lurus dari dinding panjat ada parkiran motor. Di sekeliling lapangan-lapangan tersebut, ada jogging track yang cukup mumpuni. Di sebelah lapangan softball, ada sebuah masjid yang biasa digunakan untuk ibadah dan sholat jum’at.

Untuk gedung, ada dua buah gedung. Di sebelah kiri adalah gedung sekolah, tiga lantai dengan ruangan kelas yang diperuntukan per kelas. Urutannya, kalau belum berubah dan sesuai dengan waktu gue sekolah, adalah begini. Lantai tiga sebelah kiri seluruhnya untuk kelas satu. Di sebelah kanan adalah kelas dua jurusan IPA. Lantai dua sebelah kiri adalah kelas dua jurusan IPS, laboratorium computer, dan kelas jurusan akselarasi. Lantai dua sebelah kanan adalah kelas tiga baik IPA maupun IPS. Ada dua buah tangga di ujung barat dan timur. Di lantai satu sebelah kiri, adalah kelas untuk program internasional, kelas akselarasi, dan ruang administrative. Pada sebelah kanan adalah ruang kepala sekolah dan ruang guru. Sebelumnya, ruang di ujung timur sebelah kiri lantai satu adalah koperasi yang gelap dan sempit, yang nantinya dipindah kan ke gedung kanan atau gedung L. Di seberangnya adalah ruang gelap terkunci yang nantinya dijadikan ruang BK. Sedikit lurus adalah kantin, dengan susunan makanan yang cukup variatif.

Untuk gedung L, ada dua buah lantai. Di lantai satu, adalah laboratorium untuk anak IPA, ruang pertemuan, dan koperasi yang jauh lebih terang dan luas. Di lantai dua adalah perpustakaan yang meskipun kesannya suram namun nyaman. Di lantai dua juga terdapat ruang OSIS dan laboratorium bahasa. Sedikit lurus di lantai satu ada sebuah toilet yang paling seram dibandingkan toilet lainnya, dan ruang musik yang sangat menyenangkan (plus sebuah gudang yang entah kenapa tidak pernah dibuka). Baru lah ada tempat wudhu dan masjid tempat beribadah. Hayo, terbayang kan? Kalau kalian alumni 70, pasti terbayang kan (atau bingung karena susunannya berubah?) dan yang masih sekolah, apa sudah diubah lagi? Entahlah.

Dengan sekolah sebesar itu, sudah pastilah teori yang dikemukakan ayah gue benar adanya. Waktu mau sekolah, gue ingin diterima di Al Azhar Pusat 1. Waktu itu ayah gue nggak terlalu meridhoi karena Alpus 1 adalah sebuah sekolah yang berada di gedung. Sempit dan sindrom gedung akan menghadang semangat belajar gue. Waktu itu gue nggak begitu paham, namun ketika gue sekolah di 70 gue baru merasakan bagaimana sekolah besar sangat membuat gue bahagia, gue bebas berlari dan merentangkan tangan tanpa kena senggol badan orang lain. Ketika gue berkunjung ke sekolah lain sebut saja SMA negeri di daerah bogor, kesempitannya membuat gue muak sampai gue aja ngerasa lingkungannya tidak manusiawi.

Ketika gue di tujuh puluh, gue ikut ekstrakurikuler softball dan band. Tidak disangka-sangka Abary dulu adalah seorang yang aktif rohis. Bukan anak rohis ya, karena seluruh umat Islam di 70 otomatis masuk rohis dan bagi yang Kristen maupun katolik tergabung pada rohkris, begitupun agama lain. Namun yang membedakan adalah keaktifan siswa di organisasi agama. Praktik agama di 70 juga cukup tolerance, tidak ada pembedaan yang gue rasakan dan gue observasikan. Tidak ada pemaksaan memakai baju islami di hari jum’at apalagi kerudung. Waktu itu, alasan gue aktif di rohis adalah gue senang dengan lingkungan masjid 70 di waktu jum’at siang ke sore, sama aja ya seperti gue SMP dulu. Waktu itu adalah waktu untuk mentoring atau transfer knowledge dengan tema tertentu dari senior maupun tamu khusus.  Seniornya juga menyenangkan, tidak membuat lingkungan rohis terkesan kaku dan sangat open minded, bermacam diskusi dilihat dari berbagai aspek, yang gue rasa juga cukup mengembangkan paradigma gue sehingga gue saat ini menjadi mahasiswa fakultas sosial politik.

Untuk band, gue bersedih hati tidak cukup aktif bermusik di SMA. Band di sekolah gue tidak terlalu berjalan karena ekskul ini terbilang kurang terorganisir dengan baik. Yang gue ingat dari ekskul ini adalah gue sangat bersemangat untuk ngeband saat sma. Gue cukup aktif meneror senior agar diadakan pertemuan. Gue juga ingat pernah ada showcase bersifat ngakak alias becandaan didepan senior dan sempat berlatih juga untuk tampil di pensi tahunan. Tapi sisanya cukup nihil. Padahal menurut gue, ada banyak kesempatan bagi gue mengembangkan kemampuan musical gue di 70, seperti misalnya, membantu teman gue di teater sebagai music director misalnya. Untuk band, gue juga pernah melatih sedikit adik junior ketika mereka pentas seni, namun sisanya sedikit banyak sedikit dan band angkatan gue juga sudah terbentuk sehingga gue juga nggak terlalu peduli dengan bermusik ketika SMA.

Untuk olahraga, gue sangat, sangat berubah pandangan ketika bertemu softball. Anak SMA gendut yang nggak biasa berolahraga bersemangat banget ikut olahraga baru. Yah kayaknya udah cukup banyak post yang menggambarkan bagaimana olahraga ini berpengaruh di hidup gue, selain untuk kesehatan dan rupa, namun juga membangun pola pikir gue dalam menghargai proses dan berperilaku. Untuk ekskul softball gue pernah sangat aktif berolahraga hingga pernah berlatih selama tujuh hari penuh dalam seminggu, campuran olahraga antara berlari rutin, berlatih, ataupun bertanding. Gue sangat hitam di masa kelas dua akhir dan kelas tiga sebelum lulus karena sangat rajin latihan. Ekskul yang sangat menyenangkan dan masih gue jalani hingga saat ini di klub.


-          - Akhir dari bagian satu -



Post terkait

0 comments: