#VivaMacron !

09.51 Abary 0 Comments

8 Mei 2017
09.09 Pagi

Pagi hari di kelas DKV 1


Pada pagi hari ini, gue sedang membuka situ berita andalan dan kesukaan. Meskipun berasal dari negara paman sam, gue menyukai bagaimana data dan berita dipaparkan pada media tersebut. Perancis yang sudah menyelenggarakan pemilunya, baik putaran pertama maupun putaran keduanya, baru saja menemukan siapa presiden pilihannya. Maka dengan senang hati gue bisa bilang bahwa, #VivaMacron.

Awalnya, gue belum tertarik dengan isu ini. Apalagi sih yang harus di lihat dari negara uni eropa dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, negara maju dan bermacacm masalah dunia pertama lainnya. Mereka belum merasakan wabah penyakit ataupun kelaparan, masalah mereka bisa dibilang ecek. Sayangnya pada beberapa tahun terakhir krisis tengah berhembus di angin Uni Eropa. Banyak negara bertentangan atas satu isu, banyak individu yang berusaha masuk ke daerah mereka, dan banyak penolakan serta krisis yang bisa terjadi. Bak diramalkan, film-film sudah menggambarkan bagaimana keadaan saat ini terjadi.

Sama dengan banyak negara Eropa yang krisis, Perancis tengah mengalami kegagalan demi kegagalan. Terorisme, pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi tidak banyak merubah kedaaan yang semakin gloomy. Melalui penggambaran media, gue melihat banyak rakyat Perancis tidak tersenyum, loyo dan singkatnya, tidak bahagia.

Angin harapan kembali berhembus ketika pilihan presiden selanjutnya dilangsungkan. Gue adalah orang yang memperhatikan politik namun tidak terlalu senang berselisih dengan orang lain karenanya. Sebagai mahasiswa sosial politik, sangat krusial bagi gue untuk mengetahui perkembangan politik baik nasional maupun internasional. Namun semakin gue memahami politik, semakin gue ingin  menghindari konflik yang ditimbulkan baik dari politik langsung maupun hanya berpendapat mengenai politik.

Perancis pun sama. Ada dua buah calon. Macron dan Le Pen, laki laki dengan perempuan dengan paham yang sangat berbeda. Yang signifikan, Le Pen memiliki pandangan ekstrem kanan. Putri dari pendiri partai front national ini adalah ibu dari tiga anak. Pada masa kampanye nya, banyak menggunakan emosi takut sebagai senjata dan ancaman sebagai peralatan. Mengapa gue menyebutkan ancaman? Karena penyebutan pengunduran diri dari uni eropa – atau jika tidak berhasil – referendum (mirip seperti Brexit, huh?), atau resistensi akan para pengungsi adalah salah dua dari hal yang membuat gue sentimen terhadap Le Pen.  Selain itu, resistensi terhadap islam adalah salah satu alasan mengapa gue semakin tidak suka dengan Le Pen. Bukan karena gue seorang muslim, namun karena gue sedang belajar toleransi, dan segregasi bukanlah jawaban dari berpolitik sehat.

Padahal, jika menang, Le Pen akan menjadi presiden perempuan pertama di Perancis. Sebenarnya jika ditilik dari sisi lain, adalah sisi perempuan dan keadilan berpolitik yang ingin gue angkat. Mungkin memang Le Pen memilih paham yang sesuai dengan dirinya, sesuai dengan nilai dan sosialisasi yang berlangsung pada dinamika diri Le Pen. Namun, ironi kembali diangkat ketika Le Pen sebagai seorang perempuan yang berpolitik. Apakah harga menjadi figur perempuan pada dunia politik Uni Eropa sangatlah mahal? Sehingga strategi berpolitik seperti Trump perlu dijadikan percontohan dan menyebarkan ketakutan adalah cara berpolitik yang dipilih.

Naif, memang. Jika gue berharap politik adalah dunia yang bersih. Tidak ada yang sebersih kertas, hingga dunia agama yang dianggap suci saja bisa dicoreng dan dipermainkan. Kitalah manusia yang berdiri tegap dan berkembang sebagai pengguna fasilitas dunia. Setidaknya, saat ini Perancis tengah menghirup harapan barunya. Meskipun tanpa punggawa partai dibelakangnya, hal ini menunjukkan bagaimana power of the people masih ada dan hidup di masyarakat. Meskipun gue belum bisa meramalkan bagaimana Macron akan menghidupkan dunia Perancis, namun setidaknya, ia tidak menggunakan ketakutan dan ancaman sebagai senjnata politik di dalam lengannya.


#VivaMacron

Post terkait

0 comments: