Happines Is Only Real When It Is Shared

18.47 Abary 0 Comments

30 Agustus 2017
09.33 Pagi

Some may say, waktu makin cepat berjalan maka akhir zaman itu semakin cepat datang



Kebahagiaan.

Apa ya yang menjadi rahasia dari kebahagiaan itu sendiri? Apakah rasa kebutuhan mu terpenuhi, dinamika kehidupan menjadi satu , atau rasa puas akan sesuatu ? Dari sedikit contoh tersebut, gue belum bisa memberikan definisi kebahagiaan itu sendiri.

Beberapa orang mengira kalau kekayaan adalah jawaban dari kebahagiaan itu sendiri. True, even gue pun berpikir seperti itu. Gue merasa dengan kekayaan, hidup a la lavish seperti rakyat kerajaan dahulu, glamor dan bergelimang harta itu adalah salah satu tujuan dalam hidup gue. Simple. Gue merasa, dengan banyak uang tentunya kepusingan akan kekurangan materi bisa dihindarkan. Sudah menjadi hukum ekonomi toh? Kalau semakin banyak pendapatan, maka akan semakin sedikit pengeluaran, dan vice versa, sebaliknya pula. Nggak salah, gue akui di saat ini keuangan yang mumpuni adalah salah satu syarat hidup nikmat.

Yah, tetap saja buat gue yang juga menaruh kehidupan sosial sebagai salah satu kepentingan utama, teman dan nongkrong adalah salah satu kebutuhan terbesar gw dalam hidup. Nggak tau juga, mungkin karena pengaruh gue sebagai orang Aceh, kultur nongkrong dan ngobrol ngalor ngidul seperti sudah menjadi keharusan setiap harinya. Percaya deh sama gw, ketika lo suatu saat ke Aceh, hiburan malam hari lo adalah warung kopi, warung kopi, dan warung kopi. Kopi enak dengan rokok beserta puluhan teman barunya adalah tempat yang sudah tidak jarang berjaringan di Aceh, mungkin di setiap kota, mungkin juga di beberapa. Gue, merasa bahagia ketika gw nongkrong, hidup diantara banyak orang dan bertukar cerita baik sehari-hari hingga masalah yang tengah dihadapi.

Meskipun begitu, pertanyaan akan apa yang membuat seseorang bahagia itu tetap jadi pertanyaan bagi gue. Memang relative, tapi apakah dua poin diatas juga sama di mata orang lain?
Rasanya, kalau gw bisa menambahkan poin yang bisa ditulis adalah :


Tau gak film diatas? Filmnya bagus kok, bagus banget malah menurut gue. Bagaimana si tokoh utama tersebut (yang katanya true story, eh beneran true story deng) kaya raya, lulus dari kuliahan bagus, tapi krisis identitas dan perjalanan pencarian jati diri ke beberapa penjuru Amerika dan ketemu banyak cerita dari manusia yang dia encounter di perjalanannya. Agar nggak spoiler, coba tonton sendiri aja ya. Yang jelas, cerita tersebut menarik banget untuk diperkirakan lebih lanjut.
Tapi amanah dari film tersebut yang bisa gue ambil, adalah, kebahagiaan itu hanya ada apabila dirasakan secara Bersama-sama.

Hah? Apaan si?

Ya gimana ya, gue pun merasa seperti itu. Ketimbang makan super mewah di atas cloud (terus masuk angin gara gara kedinginan), gue akan jauh lebih bahagia kalau gue makan bungkusan warteg bahari isi nasi sama sayur 2 jenis seharga sepuluh ribu rupiah di dalam kosan tercinta – jika ditemani dengan teman-teman sambil ngetawain hal ga jelas. Ya sih makan di cloud gw bakal hepi juga, since kesana juga ga mampu beli makan, beli minum aja liatnya sebelah kiri bukan kanan (re: harga). Gue bakal hepi karena bisa jadi itu karena gua lagi budget pas pasan jiwa sosialita (BPJS) atau gue emang sukses dan menikmati hasil jerih payah gue, tapi entah kenapa the visualizing of me enjoying it alone bikin gue ngerasa ih najis.

Coba lo bayangin, makan sebungkus nasi dengan sayuran yang bergizi nan nikmat itu di dalam kosan, yang adem padahal diluar panas, yang ternyata juga temen-temen lo bikin lo ketawa bodoh ngga ke sensor, bakalan bikin lo jauh lebih bahagia. Dan itulah apa yang gue coba sampaikan di artikel kali ini. Kebahagiaan, itu hanya bisa lo rasakan ketika lo berbagi dengan manusia lainnya. Mungkin aja bisa lo happy ketika lo sendiri, tapi belum tentu itu adalah kebahagiaan yang real, benar. Alias, hanya sebuah bentuk hiburan dari diri lo untuk bilang “Ya, gue happy”.

Sometimes, indulgence could be a man’s bestfriend. Dengan adanya sesuatu yang dibilang bikin dia happy, kayak belanja, menjadi sebuah form bentuk aktualisasi diri dan selalu dilakukan tanpa pikir panjang. Selaras dengan prinsip dasar manusia, yaitu selalu ingin dimengerti, kita juga selalu ingin berakhir bahagia. Dengan tetap mengingat bahwa idup ngga Cuma happy happy aja, kita bisa, menikmati hidup juga dengan cara menyadari idup juga ada najisnya kadang kadang.


Santai aja, nikmatin, dan jalanin dengan positif, sampai lo ngerti bahwa kebahagiaan itu emang ada ketika lo bisa berbagi happiness lo dengan orang lain.

Post terkait

0 comments: