Jual Diri.

01.03 Abary 5 Comments


10 Desember 2017
00.25 Dini Hari
LANY bernyanyi sendu di speaker kamar rumah Joglo

-

Ada yang aneh hari ini. Ya, gue kembali menulis setelah sekian lama sok sibuk merintis karir musik sehingga menulis yang dulunya dielu-elukan sebagai obat jiwa ditinggalkan. Padahal, banyak ide menarik dan konsep yang seharusnya bisa ditelurkan menjadi produk menarik agar pembaca tidak meninggalkan blog yang pula sudah usang ini. Sayang, gue memang belum menempatkan menulis sebagai prioritas lagi. Meskipun sudah berusaha berkomitmen dengan uang yang diinvestasikan ke dalam pembayaran domain blog, gue tetap saja malas dan tidak ingin memeras otak berpikir agar produk ini bisa laku keras di pasar.

Pasar.
Pasar ?

Entah kenapa, gue sedang sering sekali mendengarkan kata tersebut dari berbagai macam pihak dari berbagai macam sisi. Karya musik yang dibuat oleh @tkptheband (band gue, red) harus mengikuti pasar - kata seseorang yang berusaha memberikan saran. Lain hal nya dengan si idealis, yang bilang kalau produk tidak boleh ikut-ikutan pasar sehingga karya jujur datang dari dalam diri. Meskipun diskusi ini sangatlah basi dan tidak berguna, (alias, biarin aja nggak sih siapapun berkarya sesuka hati mereka ) (tapi still, thanks a lot karena berarti kalau ada yang ngasih lo saran mereka beneran perduli dengan lo) kamu harus mengakuinya bahwa kita memang tengah jualan besar-besaran di era informatika ini. Semua demi digital marketing yang berhasil, berhasil, dan berhasil.

Jualan apaan? sukur kalau lo memang berdagang agar membantu orang tua di masa tuanya. Sayang seribu sayang, manusia yang udah mau menginjak jumlah delapan miliar di muka bumi ini memang membuat setiap orang ingin menjadi sesuatu. Berusaha menjadi someone yang dimengerti, didengar, dihargai dihormati, dicintai, disukai, et cetera - you name it. Kalau nggak eksis, berarti nggak laku, nggak berhasil, nggak bisa dikatakan sukses.

Dimulai dari pembentukan identitas diri yang dicitrakan melalui social media agar “Semua orang bisa lihat kehidupan gue sejak awal gue branding sampai sekarang gue yakin dengan branding yang gue ajukan”. Terutama dengan mereka yang hidup di kota, memiliki identitas yang diasosiasikan dengan kelompok amatlah penting. Insting hewani dalam manusia yang menyatakan kalau kita akan lebih aman apabila hidup berkelompok sangatlah berguna apabila individu masuk kedalam sebuah kelompok dan, semoga, bisa berfungsi dengan baik di dalamnya. Kelompok yang dekat dengan stereotip-stereotip tertentu : sport jocks, jejepangan, indie abis, komedian, anak gaul, dan lain lain, menjadi sedikit dari sekian banyak pilihan pengaruh yang bisa diproses sebagai pilihan sementara individu. Social media, adalah penggunaan yang sangat baik untuk menyebarkan informasi akan identitas yang lo pilih tersebut. Perilaku posting, visual, audio, tipografi… meskipun begitu sempit, namun hal tersebut seperti sangat menggambarkan perilaku manusia dibelakangnya
Satu, biar idup waras, lo harus dianggep ada sama orang lain.

Sekali hidup di era informatika, maka komunikasi juga digital arahnya. Bukan pantun, melainkan sebuah fakta yang benar-benar harus lo proses. Selamat datang ke sebuah era dimana cewek berani bilang cowok yang ajak dia kenalan langsung “creepy banget deh!” ketimbang ketemuan sama mas-mas tinder. Yah, apa sih yang bisa lo salahkan? Digital memang memotong banyak sekali jalur, salah satunya adalah cara lo berkontak dengan manusia lain. Komunikasi yang semakin mudah juga makin membantu lo jual diri agar manusia di sekitar lo semakin sadar dengan apa yang berusaha lo jual. Citra, brand, identitas, hal tersebut berusaha lo raih dan proyeksikan karena di kehidupan asli, nggak ada online disinhibition. Nggak ada ‘topeng sempurna’ yang bisa menutup kebahagiaan yang di pancarkan millennial kepada dunia luas melalui internet. Sekali jualan, tetep jualan. Capek? Ya namanya juga hidup di era informatika. Perlahan, dunia digital mulai keliatan membohongi lo, bukan?

Tunggu,
Abary
Lo mau buat UAS Pemasaran Digital atau nggak sih ?

-

Penjelasan Karya // 

Jual Diri adalah sebuah essay yang saya susun sebagai model karya untuk memenuhi UAS Matakuliah Pemasaran Digital. Essay tersebut merupakan sebuah model tulisan dari "Abary", seorang karakter yang berusaha mengkritik dunia digital sebagai bentuk pembohongan publik dan pengangkatan identitas diri sebagai sebuah komoditas.

= = = 

Sebagai seorang millenials yang ingin berhasil dan efektif menggunakan internet sebagai media pemasaran, Abary tentu akan memulai dengan menganalisis brand apa yang akan ia angkat. Melalui essay tersebut, ia memilih brand yang serius, selektif dalam berteman, constantly judging, dan diturunkan kedalam variabel “polisi skena” dimana ia menggambarkan diri sebagai seseorang yang selalu menilai orang lain menggunakan tolak ukur pribadi. Mungkin akan banyak pihak yang tidak menyukai dirinya, namun ia akan meneruskan untuk menelurkan sebuah produk yang menimbulkan perbincangan dan menjadi buah bibir agar blognya dapat menjadi perbincangan di setiap komunitas, atau bahkan menjadi perbincangan di dunia digital. Nantinya, ia juga akan menggunakan elemen dari dirinya sebagai nilai jual, seperti fakta bahwa dirinya adalah mahasiswa dari Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, dan lain lain.
Abary kemudian akan menurunkan variabel tersebut kepada dimensi-dimensi dibawahnya. Ia akan menggunakan social media dengan berhati-hati, tidak overshare, hanya melakukan posting foto bernada kegundahan hati atau isu kehidupan atau karya seni yang menggambarkan dirinya. Kemudian, ia akan banyak menulis di blognya mengenai kritik sosial yang dekat dengan dirinya. 
Abary pun berusaha menyebarkan konten dan produk yang ia buat kepada publik melalui kanal yang ia miliki dengan judul yang bernada tidak perduli dengan keadaan. Ia akan berusaha menyebarkan produk melalui sosial media dan sharing via teman yang ia miliki. Dengan menggunakan IMC sebagai strategi pemasaran digital untuk diri, blog dapat memiliki traffic dan bisa dilirik oleh pihak ketiga sebagai media yang menjanjikan untuk beriklan atau bekerja sama.
Abary berhasil menggunakan strategi pemasaran digital yang efektif, ketika ia berhasil memadukan strategi pemasaran dunia asli dengan menyesuaikan diri dengan citra dan brand yang ia pilih. Ia juga berusaha memaksimalkan strategi tersebut dengan mendorong karyanya melalui teknik-teknik pemasaran digital agar produknya dapat mencapai publik yang luas, hence, membangun profit kepada dirinya

=
Abshar Aryun 
1506756242

Pemasaran Digital kelas A

Disusun untuk memenuhi 
Ujian Akhir Semester
Matakuliah Pemasaran Digital
Departemen Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Universitas Indonesia

Post terkait

5 komentar:

  1. Aku suka sekali artikelnya semoga nilai UASnya bagus ya terimakasih

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. I relate to this! Suka bgt dr topiknya sm penyampaiannya juga

    BalasHapus
  4. I relate to this! Suka bgt dr topiknya sm penyampaiannya juga

    BalasHapus