Kebebasan Yang Tidak Membebaskan

00.40 Abary 0 Comments

17 Januari 2018
22.14 di Tenda Ngemil, Larangan

Joglo dan sekitarnya telah berkembang jauh. Joglo punya banyak sekali tempat nongkrong seru bin apik, dengan live music yang ciamik punya. Gaperlu lagi lah gue jauh-jauh ke bar atau cafe di selatan jakarta untuk menikmati live music yang seru

Kebebasan yang dirasakan banyak manfaatnya oleh rakyat Indonesia ini memang tidaklah sia-sia. Setidaknya, selama dua puluh tahun gue hidup di Joglo, telah banyak sekali perkembangan yang gue yakin dikarenakan kebebasan dalam pengembangan zona ekonomi dan pemanfaatan industri di sekitar masyarakat menjadi salah dua faktor pembangun dan pengembangan sumber daya manusia yang memiliki standar yang, yah, bisa dibilang, lebih tinggi. 

Kebebasan, layaknya berbagai macam hal dalam kehidupan, membawa dua aspek yang bisa dikaji, yaitu dampak positif serta negatif. Ya pasti lah ya, lo bisa namain apa itu kebebasan yang bisa membawakan dampak positif, seperti globalisasi. Tapi, kali ini gue sedang memiliki concern yang cukup tinggi terhadap dampak positif dari kebebasan terhadap kehidupan sosial dan budaya di masyarakat, terutama masyarakat Indonesia. Memang, hal ini hanya gue lihat melalui sampel yang gue kaji pustaka pada komentar warganet. Dengan basis data yang tidak cukup kuat, gue memang merasa artikel ini tidak di support oleh tesis yang cukup baik. Tapi ya iyalahya namanya juga blog gue, jadi yang gue tulis ya yang gue publish (yaiyalahya)

Kurangnya Toleransi
Pernah dengar kasus H&M yang baru saja dihantam PR crisis mengenai rasisme? Jujur, gue ngerasa itu adalah kasus yang sangat pointless, bullshit, dan sangat tidak penting untuk dijadikan buah bibir. What can i say, itulah masalah dari negara dunia pertama dan permasalahan mereka yang perutnya sudah terisi penuh tanpa takut perang ataupun senjata api menembus diri mereka kapanpun itu. Kasus H&M membuat gue sangat berpikir, apakah rasisme itu? Apa sebenarnya rasisme, dan apakah benar rasisme itu benar ada, atau justru beberapa pihaklah yang membangun konstruksi akan apa itu rasisme?

Coba gue kaji lagi, gue nggak merasa salah dengan memanggil seorang anak kecil monkeys. Kalo di Indonesia salah, deng. Gila kali lo ya manggil anak bocah nyet nyet dikata anak tongkrongan banget. Tapi gw melihat mereka monyet karena mereka yang penuh energi, selalu berlarian, dan gak bisa diam. Sayang aja, karena dipakai oleh anak kulit hitam, dunia (amerika dan para SJW lainnya) merasa perlu untuk berkomentar menegakkan keadilan sosial yang mana sebenernya ngga perlu sama sekali di bahas (?). Kalau kalian menilik lagi keadilan sosial, bagaimana dengan daerah konflik? Bagaimana dengan propaganda, atau bermacam isu lainnya yang jauh lebih kritis dibandingkan marah karena seorang anak kecil berkulit hitam disebut monyet. Honestly, semakin lama gue semakin melihat bahwa para penegak keadilan sosial yang berlindung dibalik topeng digital lah yang perlu mengkaji lagi, apakah yang gue bela itu penting apa kagak sih. Beneran berguna ga sih buat idup orang lain, ato minimal buat idup lo sendiri deh. But then again, selama gue belum menjadi anak pak harto atau selebritis atau konglomerat tajir yang bisa nampar orang pake sepuluh jutaan buat beliin gue es teh macem syahrini, kayaknya nggak banyak orang yang mau dengerin perkataan gue.

Lelah, kebebasan ternyata memiliki andil terbalik pada kehidupan manusia dengan manusia lainnya. Kebebasan tersebut justru membangun dinding baru, yang melihat bahwa coi, kebebasan lo gabisa nih ngena ke bebasnya gue, sehingga paradoks dari kebebasan tersebut membangun sebuah poligon yang hitam putih, mudah sekali dikatakan benar salah, dan tidak berbasis. Emosi masing-masing dilihat sebagai jalur keadilan sosial, dan internet justru melakukan penekanan yang baik terhadap mudahnya seseorang melancarkan pendapat berbasis keadilan sosial. Tertabraknya kebebasan masing-masing justru menjadi bumerang yang berbalik menyerang setiap individu. Kebebasan, justru membangun dinding tinggi akan siapa yang dinilai perlu memiliki keadilan tertinggi. 

Dominasi, jika ingin menang, maka dominasikanlah lingkunganmu.

You want to win?
Then dominate
Fucking dominate




Post terkait

0 comments: