Perempuan Dan Konsep Keadilannya

23.05 Abary 0 Comments


17 Maret 2018
22.18 Malam

Di McDonalds dekat rumah, berusaha menulis di tengah malam


Pagi ini, gue terbangun untuk melihat sebuah program di channel Sony KIX yang sangat menarik. Berjudulkan “Escape”, program ini intinya, membawa sekelompok manusia, sepertinya tidak saling mengenal, menuju satu pulau terpencil untuk nantinya, berusaha bekerjasama agar bisa keluar dari tempat terpencil tersebut. Episode yang saya tonton pagi tadi, mengkhususkan diri pada latar pulau terpencil dengan dua buah kapal karam, dimana sekelompok manusia yang terdiri dari seorang host bernama Ant dan teman-teman barunya akan berusaha untuk keluar dari pulau tersebut. Setelah mengobservasi pulau dan keadaan, mereka menyadari bahwa kedua kapal harus digabungkan menjadi satu dan berusaha mengeluarkan diri dari pulau terpencil.

Setelah hampir seminggu berusaha, tim tersebut berhasil membangun sebuah kapal yang cukup untuk bergerak (entah kemana) melalui beberapa orang yang ternyata, memiliki profesi sebagai insinyur mesin, stunt double, project manager pada perusahaan minyak, seorang professional dalam bidang las, serta seorang usia lanjut yang senang berkendara off-road­ ekstrem. Menuju jalur kebebasan mereka, banyak konflik yang dimulai dari kelelahan serta ketidak mampuan ketua tim dalam membangun relasi kuasa yang baik. Tidak hanya itu, konflik pertama tim membuat saya sangat terguncang. Seorang perempuan, marah dan mengeluh karena beban pekerjaannya jauh lebih menuai fisik dibandingkan kelompok pekerja lainnya yang ia pikir (hanya) berusaha untuk memetakan mesin kapal.

Mengapa harus terguncang, Abary?

Apparently, the example gave me this apparent thinking. Kalau orang, terutama cewe, dibawa ke daerah terpencil seperti pulau dan bukan daerah urban yang penuh dengan fasilitas dan kemudahan,
Gue ragu mereka akan banyak berbicara soal feminisme. Dan segala macam tetek bengeknya.
-
Saya selalu tertarik melihat fenomena women’s march di Jakarta. Ini adalah fenomena yang membawa angin segar. Ikon baru dari Kartini, bahwa perempuan Indonesia, bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. Mereka bisa menulis poster dan menuntut hak apa saja kata mereka. Kesetaraan gender! Itu yang banyak sekali saya lihat disuarakan oleh bermacam pihak. Call me a sexist, tapi gue yakin sesaat setelah sekelompok pria dan wanita itu dibawa ke alam sana, mereka akan marah apabila perempuan yang melakukan kerja keras dan laki-laki yang melakukan kerja domestik. Let alone, duduk-duduk nongkrong misalnya. Generalisir nih, tapi gue yakin akan ada beberapa cewe yang ngerasa ga sanggup dan akhirnya, akan minta tolong sama cowo. Terlebih nyalahin dengan bilang “Gimana sih lo kan cowo”. LOL. Entah sudah berapa kali gw lihat dan gue rasakan di kereta mba mba yang sehat walafiat minta duduk ke gua (yang gondrong, mungkin diliat preman kali ya) untuk “Minggir mas, saya mau duduk. Saya kan cewek”. Emang jadi cewek itu sebuah spesialitas ya?

Setau gue, menjadi perempuan itu spesial karena lo bisa menjadi seorang ibu. Lo bisa menjadi seorang yang mengandung manusia dan melanjutkan keturunan, kemudian membangun keluarga. Entah kenapa dengan this new age bullshit bahwa perilaku ewa ewi sana sini bodoamat terserah dia (ya emang terserah dia sih) TAPI mengembangkan perilaku gue nggak butuh cowo. Seperti, hah ..?

After all this pointless arguments, gue melihat the bigger picture. Dan bigger picturenya, drama remaja banget nih. Cewek, pada dasarnya, emang susah dimengerti. Sudah dipenuhi kemauannya pun, tetap mau hal baru untuk dipenuhi lagi dan berusaha koar-koar diri dengan poster dan long march agar masyarakat banyak yang sadar. Buat gue, women’s march hanyalah bentuk dari kebingungan cewe akan apa yang diinginkan lagi. What more do you want women? Lo boleh sekolah, boleh kerja, boleh ini itu, dan meskipun emang ada beberapa konteks yang belum mencapai point itu (dan itu yang seharusnya lo perjuangin, pemerataan pendidikan misalnya) – lo malah meminta hal yang aneh… Kayak, lo minta jalan di tempat umum untuk gapake BH dan mentil kemana-mana tapi nggak di judge atau diliatin orang sekitar. Ekstrem ya contoh gue, tapi you get the point kan. Ya, emang.. gabisa aja bersikap normal kalau lihat hal seperti itu.

Kenapa sih, nggak bisa saling menyadari kalau kita emang diciptakan berbeda? Nggak usah minta kesetaran, karena emang pada dasarnya kita beda. Emang perlu gue menuntut untuk diberikan cuti hamil yang mana cowo kaga hamil kan ya. Kenapa nggak berusaha berbicara soal yang lebih krusial?

Keadilan gender, misalnya ?
-
Come and get me bro. Got me ready to be called as a sexist, sjw, lalala lilili, pembenci wanita, apapun, serah lo deh. This society is a fucked up place anyway, where Indo kids are too scared to be vocal about their opinions while standing to it as well.

Post terkait

0 comments: