Arti Dari Jadi Sendiri

22.38 Abary 0 Comments


2 Juni 2018
22.00 

A cafe at Kemanggisan, one of those nights



Nggak jarang kalau gue ngerasa sendirian. Terutama kalau gue gabut (gak ada kerjaan), gue merasa kalau gue jadi manusia paling sendirian di muka bumi ini. Shiit that sounds awful yet too demanding, tapi di usia 21 ini sepertinya gue mulai mencicipi sedikit dari quarter life crisis, other might call it the ‘pre quarter life crisis’. Buset apaan lagi coba bre

Gini, udah bukan rahasia lagi kalau makin tua, temen kita jadi semakin sedikit. Kemarin gue terlibat diskusi digital sama Eki, saxopohonist yang baru sarjana dari Ilmu Politik 2014. Dia menanyakan terkait kegunaan bukber dan urgensinya. Menurut gue, bukber itu sangat penting. Buat gue yang orangnya sangat seremonial dan mengindahkan event apalagi undangan dari orang, gue merasa bukber adalah hal yang sakral. Momentnya pas tuh, setaun sekali ketemu. Udah gitu bisa update temen-temen lo idupnya lagi pada ngapain, siapa yang high achiever, siapa yang lagi ngga ngapa-ngapain, atau sekedar tau dia udah putus atau belom. Emang sih, intinya bukber itu sombong-sombongan dan ketemu lagi setelah setaun ga ketemu tapi abis itu main hape. Cuma, buat gue yang kaum urban dan komunal, punya tingkat stress yang tinggi, ngelihat teman lama dan cerita tentang kehidupan mereka saat ini itu bisa jadi salah satu obat buat stress tinggal di kota besar. Jadi motivasi lah, minimal. “Si x udah bikin usaha aja ya, gue bikin ah” misalnya. Ya asal jangan ngemeng doang sih….

Nah, Eki mulai ngeliat kalau bukber itu nggak relevan. Menurut dia nih, dari yang tahun lalu sampai menyusun agenda dan jadwal serta bikin effort untuk datang ke setiap bukber, tahun ini doi ngerasa kalau “yaudah” aja terhadap bukber. Bisa ya dateng, kalau nggak bisa, ya, yaudah. Tentu gue ngerasa agak sedih, kenapa momen bukber kayak gitu disia-siakan kalau lo bisa ketemu temen lama bahkan nyiptain koneksi baru yang bisa jadi, akan jadi modal sosial baru lo nantinya? Diskusi pun berlanjut. Menurutnya, lebih baik mana, punya 100 teman tapi rasanya seperti nggak punya teman, atau satu orang teman tapi saling mendoakan? Disini, gue mulai kehabisan argumen dan harus mengakui kalau Eki baru saja memberikan poin yang cukup baik. Sudah pasti, semua orang menurut gue kalau sudah sampai di usia gue ya 20,21 an, sudah pasti pernah merasakan “gue effort buat temen gue tapi mereka nggak effort ke gue”. Kayaknya, itu lah natural calling untuk bilang kalau mereka nggak lagi menjadikan lo prioritas lagi. 

Sayangnya, gue sering banget merasa seperti ini ketika mendekati libur panjang seperti sekarang. Liburan di UI itu kalau semester genap panjang banget, tiga bulan. Beneran plong tiga bulan gak ada kegiatan. Apalagi tahun ini gue memutuskan untuk nggak magang dan menikmati yang bisa jadi liburan terakhir gue selama duduk di dunia akademis. Maka, gue pun memutuskan untuk mengambil full advantage dari liburan ini untuk nongkrong dan ketemu teman dan memastikan prinsip gue sejak awal dewasa : memanfaatkan modal sosial untuk bersenang-senang, sehingga tetap bisa asik meskipun gaada duit. Intinya, seneng-seneng sama temen meskipun ngirit.

Gue mulai mencari list kontak dari sesiapa yang biasa gue kontak untuk nongkrong. Ada beberapa yang mau, sedikit, dan lebih banyak yang nggak bisa. Nggak salah sih, selain ini lagi puasa dan beberapa kampus memang belum libur, gue memang mulai diaspora dan mengontak yang bahkan, gue nggak kenal dekat banget tapi ngajak nongkrong. Orang jaman sekarang nyebutnya ‘creepy’, gue bilang itu usaha untuk mengenal orang lain. Really men, what’s the matter with people nowadays? Ketika lo mengontak teman lama lo, dan banyak dari mereka hanya berpikir “Wah, dia lagi ada perlu apa nih untuk kontak gue”. That kind of harsh reality, kicks me right at the heart bruh.

Bukan sih, ini bukan gue ngerasa kesepian karena nggak punya pacar atau gue sama sekali nggak bisa sendirian. Gue terbiasa banget untuk nyapa stranger dan membuat konversasi berdasarkan cerita sekali ketemu. Kenapa ? Balik lagi, banyak banget pintu rezeki yang dibuka ketika gue melakukan hal itu. Gue dapat panggung, gue ketemu produser gue dari ngobrol asal, sampai minimal gue ketemu temen nongkrong yang bisa diajak sharing. Emang nggak semuanya berakhir baik, cuma ngobrol sama stranger itu asik dan bisa diterapkan untuk kehidupan sehari-hari (and stop calling you’re introverted or what bre b aja bisa kan - biased view) agar lo ngerasain juga manfaat yang gue rasakan.

Lately, gue pun menyadari kalau hal itu nggak terlalu aplikatif di kehidupan sehari-hari. Mungkin karena gue tinggal di Jakarta, dimana semua orang sudah terlalu banyak suspisi masing-masing terhadap satu dengan lainnya. Kebiasaan gue untuk pergi sendiri ke sebuah tempat dengan mindset “Nanti disana cari temen baru aja” mungkin bisa dipraktekkan, tapi nggak selamanya berhasil juga. Gue menyadari kalau trik ini sangat aplikatif apabila berada di pub atau bar. Mungkin tempat yang gelap dan alkohol menjadi pengaruh besar setiap orang menjadi terbuka untuk mengutarakan cerita mereka masing-masing. Isn’t it sad? The ugly truth that you need an intoxication process  just to create a self disclosure momento. Beberapa kali gue di stasiun kereta bisa menggunakan trik ini, tapi yah, one does not conclude on the happiness of sharing stories with a new person everyday.

Padahal, banyak banget yang gue dapatkan dari bermacam pembicaraan itu. Andai aja gue nggak malas menulis dan menceritakan semuanya di blog ini, mungkin ada ratusan cerita baru setiap harinya yang bisa gue bagikan ke kalian. Gue pernah ketemu pilot yang ketahuan narkoba, pekerja yang nggak happy dengan karirnya dan talk dirty of his boss behind (ampe nyebar fitnah gitu bre), cerita orang yang aktif jadi aktivis organisasi, korban dari usaha kriminal, dan masih banyak lagi. Ceritanya beragam, dan entah kenapa, ratusan cerita tersebut nggak bisa dituangkan ke orang lain hanya karena keterbatasan komunikasi yang, bukan bahasa, bukan jarak, bukan noise, tapi purely, hanya karena “nggak mau” atau “nggak berani”.

Sure, you could always talk to me about anything dan gue berharap bisa memberikan respon terbaik untuk hal tersebut. Hmu via my email, abary.abshararyun@gmail.com seperti yang tertera di about me. Cuma ya, jangan creepy ya.

Post terkait

0 comments: